Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
MEMBATASI


__ADS_3

Matahari sepertinya sudah dari tadi mengintip lewat jendela kaca yang tirainya sudah terbuka karena hembusan angin laut yang memang tidak jauh dari resort yang ditempati Arka dengan Aluna. Namun sepertinya Arka tetap nyaman dengan posisi tidurnya saat ini, hingga dirinya enggan bangun menyapa pagi yang mulai tergantikan siang.


"Sayang ayo bangun, aku ingin menghabiskan waktu seharian ini ke pantai. " Arka mendengar rengekan istrinya namun dia enggan bangun atau sekedar mengerakkan tubuhnya. Posisinya saat ini benar - benar nyaman.


" Semenjak datang kesini, kamu selalu membatasiku ke pantai. " Arka memang membatasi Aluna ke pantai. Bahkan Arka hanya memberi waktu sejam untuk Aluna pergi ke pantai. Padahal Aluna selalu pergi dengannya.


***


"Kau lihat gadis itu?" Tunjuk pria dengan menggunakan swim shorts kearah Aluna yang sementara asyik mengambil gambar. Sedangkan Arka duduk menyadarkan tubuhnya di kursi pantai tidak jauh dari istrinya.


" Walaupun dia memakai kaos santai seperti itu tapi coba kamu lihat dari ujung kepala hingga kakinya dia terlihat sexy." Ucapnya lagi.


"Aku akan berkenalan dengannya." Pria itu mulai berjalan mendekati Aluna. Namun langkahnya terhenti melihat pria yang sedari tadi mengamatinya bahkan bisa mendengar percakapannya memanggil Aluna dengan sebutan my wife. Pria itu terlihat malu dan takut karena Arka memandangnya dengan tatapan membunuh.


Semenjak itulah Arka membatasi Aluna ke pantai. Karena dia tidak ingin ada pria yang senang menikmati atau memandang tubuh Aluna walaupun tertutup sekalipun.


" Aku tidak ingin kemana - mana hari ini." Arka membuka matanya mencium kening istrinya.


" Aku bisa pergi dengan Rima dan Rita." Mungkin suaminya lelah atau malas keluar resort jadi Aluna bisa mengajak Rima dan Rita begitu kira - kira yang terlintas dipikiran Aluna. Aluna bahkan tidak tahu alasan suaminya yang tidak ingin kemana - mana..

__ADS_1


"Rima dan Rita? " Tanya Arka yang baru mendengar kedua nama itu.


"Pelayan yang ada di resort ini sayang, yang dibawa sekertaris Frans dari rumah belakang." Kau yang mengaji mereka setiap bulan, tapi kau bahkan tidak tahu nama mereka. Dasar majikan kejam. Begitulah kira - kira Aluna mengumpat suaminya dalam hati.


"Oh." Aluna kesal sendiri mendengar hanya kata itu yang keluar dari mulut suaminya. Dia bahkan kembali menutup matanya tanpa mengatakan pergilah atau kita pergi bersama.


"Sayang apakah aku bisa pergi." Aluna masih berusaha membujuk suaminya. Dengan menggoyangkan lengan suaminya.


"Bisa saja asalkan kau bisa membuatku senang." Masih menutup mata dan ada senyum muncul diujung bibirnya. Aluna mencium seluruh wajah suaminya, berharap setelahnya suaminya akan mengijinkannya. Karena Aluna tahu Arka sangat senang jika Aluna menciumnya.


" Bagaimana ? apakah aku bisa pergi sekarang sayang? " Aluna penuh keyakinan bahwa dengan cara itu dia telah membuat suaminya senang.


"Baiklah inikan yang kau ingini." Gumamnya dalam hati. Aluna kemudian membuka seluruh pakaiannya dan setelah itu membuka satu - satu pakaian suaminya dan kali ini dia yang berperan aktif dalam hubungan suami istri mereka. Arka bahkan ingin tertawa melihat Aluna yang masih kakuh dan tidak tahu harus mulai dari mana. Karena selama ini Arkalah yang mendominasi. Arka melirik istrinya, merasa puas mengerjai istrinya yang bermandikan peluh yang sudah tiduran disampingnya.


"Apakah kau senang sekarang " Ucap Aluna dengan nafas yang tak beraturan.


"Aku sangat senang sekarang. " Aluna mendengarnya merasa lega karena akhirnya hari ini dia bisa menghabiskan waktu seharian di pantai.


" Jadi kau mengijinkan aku pergi sayang." Aluna berbinar, bahkan dengan bersemangat dia mengatakannya.

__ADS_1


"Iya aku mengijinkanmu " Aluna bersorak senang.


"Tapi besok." Tambah Arka membuat Aluna rasanya ingin menangis.


"Kenapa besok?" ingin protes karena dia sudah bekerja keras hari ini.


"Karena nanti malam, kita harus menghadiri peresmian galeri seni oleh salah satu teman kuliahku. Aku tidak ingin kau kelelahan." Arka menarik selimut menutupi tubuh istrinya, kemudian mengambil handuk kecil mengeringkan keringat istrinya.


"Aku janji besok kau bisa bermain sepuasnya dipantai." Ucap Arka disela mengeringkan keringat diwajah istrinya yang masih memajukkan bibirnya.


"Kau janji?" Aluna mengangkat jari kelingkingnya. Arka hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Arka mengangkat jari kelingkingnya mengaitkannya dijari kelingking istrinya.


"Tapi aku tidak membawa gaun." Akhirnya pembicaraan sudah menjurus ke pakaian yang akan dipakainya nanti malam. Aluna tidak tahu bahwa suaminya sudah meminta Frans membelikan gaun untuknya.


"Kau hanya perlu bersiap - siap sayang." Arka bangun dari ranjang dan mengulurkan tangannya pada Aluna.


"Kemana?" Aluna bertanya namun masih enggan mengulurkan tangannya.


"Mandi sayang. Aku tidak tahan dengan baumu. Habisnya kau bau sesuatu." Arka tertawa.

__ADS_1


"Dasar. Bau sesuatu, itukan bau sesuatu milikmu." Aluna meraih tangan suaminya. Keduanyapun tertawa bersama menuju kamar mandi.


__ADS_2