
Alka berlari kecil saat menapaki anak tangga, menuju kamarnya.
"Lho Abang, nggak makan dulu. " Aluna yang menuntun Maura kearah dapur, menghentikan langkahnya ketika mendengar suara hentakan sepatu milik putrannya disaat menapaki anak tangga.
" Al nanti nyusul bun. Al mandi dulu, udah lengket banget tubuh Al. " Alka melihat sepintas kearah Maura yang menatapnya, sebelum ia kembali berbalik dan kembali menapaki anak tangga terakhir, menuju kamarnya.
"Tante, yang lain mana? " Tanya Maura disaat sudah duduk diruang makan.
"Om Arka ada dikamar, sebentar lagi pasti turun. Kalau Giska, tadi sore ada pemotreran. Tapi tadi udah beri kabar tante, kalau dia udah ada dijalan pulang. " Aluna menjawab sambil sibuk dengan menata masakan yang dimasak Bi Ina dan Bi Sum, pelayan dirumah mereka.
" Tente mau Maura bantuh? " Tanya gadis itu, hendak berdiri dari duduknya. Namun Aluna menahannya. "Tidak usah, tante suka melakukannya. " Tersenyum kearah Maura. " Oh yah kalau kamu butuh sesuatu, atau pengen makan sesuatu bisa minta tolong sama Bi Ina sama Bi Sum. " Menunjuk kearah pelayan yang sedang sibuk membersihkan peralatan yang dipakai tadi buat masak. Maura mengiyakan apa yang dikatakan Aluna.
" Oh yah tante, Ardi mana? " Maura lebih senang memanggil Ardi dari pada Ardian. Katanya kalau Ardian terlalu kepanjangan.
"Ardian udah dijalan. " Jawab Aluna yang sudah selesai menyiapkan meja makan. Baik peralatan untuk makan dan semua masakan sudah tersedia diatas meja.
"Wah...wah siapa gadis cantik ini. " Arka datang menghampiri istrinya dan juga Maura. Menggoda Maura yang tersenyum kearahnya.
"Paman Arka. " Maura langsung berdiri, memeluk dan mencium pipi Arka. Bagi Arka Maura sudah seperti Giska. Bagi Maura Arka sudah seperti Bryan ayahnya. Bryan sudah menceritakan pada Maura, bahwa semua kemewahan yang mereka miliki adalah semata - mata karena pemberian Arka. Perusahaan mereka bahkan bisa berdiri kembali karena modal yang diberikan Arka kepada Bryan sebagai tabungan untuk Maura. Itulah sebabnya Maura sangat menghormati dan menyayangi Arka seperti ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Ah, tante cemburu. " Ucap Aluna menggoda Maura. Maura langsung melepaskan pelukannya pada Arka.
"Maaf tante. " Ucap Maura tidak enak. Aluna terkekeh melihat ekspresi Maura.
"Tante itu cemburunya bukan sama kamu, tapi sama Paman Arka. " Maura terlihat bingung dengan ucapan Aluna barusan.
" Tadi saat ketemu tante, tante yang duluan meluk sama cium kamu, tapi kamu saat ketemu paman Arka langsung peluk dan cium paman Arka. " Maura mengerti sekarang. Kemudian gadis itu tersenyum, menghampiri Aluna, memeluknya dan mencium kedua pipi Aluna.
"Jangan cemburu lagi yah tante. " Ucapnya tersenyum. Aluna dan Arka sontak terkekeh mendengar ucapan Maura.
"Hhhmm. " Alka menghampiri ketiganya.
" Kalau begitu, kita bisa mulai makan malam sekarang. " Aluna menarik kursi suaminya. Sementara Al, kursi yang biasa didudukinya saat ini diduduki oleh Maura.
"Biar Maura yang pindah dikursi lain tante, Abang Al disini saja. " Sudah berdiri, hendak pindah kekursi lainnya.
"Tidak apa - apa. Kamu bisa duduk disitu. Aku bisa duduk dikursi lain. " Alka berucap sambil mengambil tempat duduk Giska yang berada dekat sang bunda, berhadapan dengan Maura.
"Oh, baiklah. " Maura duduk kembali dikursi milik Alka.
__ADS_1
"Tante, kita nggak nunggu Giska sama Ardi? " Tanya Maura yang melihat Aluna mulai mengambilkan makanan untuk suaminya.
" Giska nggak suka makan malam. Paling cuma makan roti sama buah saja. kalau Ardian, sudah makan katanya sama teman - temannya. " Yang biasa makan malam seperti ini memang biasa hanya Arka, Aluna dan Alka. Sedangkan kedua anaknya itu, jarang sekali makan malam dirumah.
"Ayo Maura, mulai makannya. Mau tante ambilin? " Menggeleng Maura tidak ingin merepotkan Aluna. Walaupun Aluna merasa tidak direpotkan oleh gadis itu.
Disaat Maura hendak mengambil dessert puding coklat buatan Aluna, disaat yang sama Alka juga mengambil itu. Maura menatap tangan Alka yang tanpa sengaja memegang tangannya.
"Kalian berdua ternyata masih memiliki selera yang sama dan kebiasaan yang sama. " Ucapan Aluna membuat Alka menarik tangannya.
"Pasti itu yang kalian makan terlebih dulu. " Heran dengan kebiasaan keduanya yang suka makan makanan penutup. Setelah itu, baru makan makanan yang padat.
" Karena ini enak tante "
"Karena ini enak bunda. " Ucap keduanya bersamaan. Aluna dan Arka tersenyum. Sedangkan Maura dan Alka keduanya jadi salah tingkah.
"Ternyata Abang Al, tidak berubah. " Gumam Maura dalam hati, sambil mengambil dessert puding, menaruhnya dalam piring. Sebenarnya yang punya kebiasaan itu hanya Maura. Tapi waktu kecil, Maura sering menaruh dessert puding itu ke piring Alka, sebelum Alka mengambil makanan yang lain. "Ini enak Abang. " Ucapnya kalah itu. Mau tidak mau, Alka pun memakannya dan hal itu yang membuat Alka hingga dewasa ini, selalu makan dessert puding terlebih dulu. Jika ada menu itu diatas meja.
Mereka kemudian memulai makan malam. Sesekali Aluna dan Arka bertanya perihal tentang kabar kedua orangtua Maura. Walaupun hampir setiap hari baik Aluna maupun Santi saling memberi kabar. Sedangkan Alka, pria itu makan dalam diam.
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak.