Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
BERTEMU BRYAN


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa Arka masih menatap wajah Aluna yang tertidur pulas. Aluna menggeliat dan perlahan membuka matanya.


"Selamat pagi" Seru Arka masih menopang kepalanya dengan sebelah tangannya.


"Pagi. " Aluna buru - buru bangun dari tempat tidur, langsung berjalan menuju kamar mandi.


"Apa dia masih malu. " Gumam Arka yang sudah mengganti posisi dengan bersandar disandaran ranjang.


"Kau mau kemana? " Tanya Arka kepada Aluna yang sudah keluar ruang ganti mengenakan baju kerjanya.


"Aku akan pergi bekerja. " Aluna meraih sling bag dan hendak keluar kamar.


"Tunggu aku dibawa. Kita akan pergi bersama. " Arka mulai turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Setelah beberapa saat Arka sudah turun dan menghampiri Aluna yang menunggunya di meja makan. Keduanya pun sarapan seperti biasa.


"Luna berhentilah bekerja di cafe." Arka berbicara kepada Aluna namun tidak menatap Aluna. Mendengar apa yang dikatakan Arka, Aluna memghentikan aktivitas makannya dengan meletakkan sendok diatas piringnya.


"Kenapa? " Tanya Aluna menatap Arka yang terus fokus dengan sarapannya. Karena Aluna tetap menunggu penjelasan Arka dan tidak lagi melanjutkan sarapannya, membuat Arka juga menghentikan aktivitas sarapannya dan mulai menatap Aluna.


"Kau ingat kejadian waktu kau hampir tertabrak di depan cafe? " Tanya Arka dan diiyakan Aluna karena Aluna ingat kejadian itu hampir saja membuatnya kehilangan nyawa kalau Arka tidak segera menolongnnya.

__ADS_1


"Itu bukan karena sopir mobil itu tidak sengaja menabrakmu tapi dia memang sengaja akan menabrakmu. " Aluna yang mendengarnya terlihat kaget. Tangannya bergetar meraih gelas air minum dan akhirnya Arka yang membantu mengambilkannya.


" Siapa orangnya? Kenapa orang itu sengaja menabrakku? apakah aku mengenalnya? dan kau tahu dari mana orang itu memang sengaja menabrakku? " Sederet pertanyaan yang Aluna tanyakan kepada Arka. Karena yang Aluna tahu, dia tidak pernah menyinggung dan menyakiti siapapun. Namun akhirnya kedua pria yang pernah menculiknya muncul dipikiran Aluna membuat tubuhnya bergetar


"Luna kau tidak perlu tahu siapa dan dari mana aku tahu semua ini. Yang perlu kau tahu, aku akan berusaha untuk selalu menjagamu. Kau hanya perlu berjanji padaku bahwa kemanapun kau pergi kau akan memberitahu aku atau setidaknya beritahu Frans. "


"Kalau aku tidak bekerja di cafe, bagaimana dengan kebutuhan hidupku? bagaimana aku bisa mengirim uang kepada mama. " Arka yang mendengar ucapan Aluna hanya tersenyum.


"Luna walaupun kita menikah kontrak, namun tidak bisa dipungkiri bahwa kau tetaplah istri seorang Arka Arya Wiguna pemilik perusahaan terbesar di negeri ini. Jadi apa yang menjadi milikku, itu juga milikmu. Aku tidak akan menjadi miskin dengan memberi makan kelinci kecil kayak kamu. " Arka mengelus kepala Aluna sambil tertawa kecil. Aluna hanya memajukan bibirnya, tidak suka dikatai kelinci kecil.


Setelah percakapan mereka dimeja makan, akhirnya keduanya berangkat kerja bersama. Hari ini adalah hari terakhir Aluna pergi dan bekerja di cafe. Sekalian dia akan pamit dengan teman sekerjanya dan juga pemilik cafe yang selalu memperlakukannya dengan baik. Walaupun Aluna sebenarnya sudah nyaman bekerja di cafe, namun karena mendengar apa yang dikatakan Arka membuat Aluna takut, takut jika dirinya kembali dijahati sama orang yang berniat buruk padanya.


Setelah jam kerja telah selesai, Aluna berpamitan dengan semua karyawan cafe dan juga pemilik cafe. Tak lupa juga Aluna berterima kasih kepada pemilik cafe yang sudah sangat baik memperlakukannya. Sebenarnya pemilik cafe tidak mengijinkan Aluna untuk berhenti bekerja namun karena Aluna berjanji akan sering mengunjungi cafe makanya pemilik cafe akhirnya menyetujui keputusan Aluna.


Dalam perjalanannya menuju rumah, Aluna tidak sengaja melihat seorang pria yang berjalan sempoyongan dipinggir jalan dan nyaris tertabrak truk karena pria itu sepertinya mabuk dan berjalan ditengah jalan raya. Walaupun mendapat makian dari beberapa pengemudi, namun sepertinya pria itu malah mengumpat balik. Aluna menyuruh sopir taxi itu menghentikan mobilnya. Lalu Aluna menarik pria itu kepinggiran jalan raya.


"Apa kau sudah gila. " Teriak Aluna kepada pria yang tak lain adalah Bryan. Awalnya Bryan menghempaskan tangan seseorang yang menariknya, namun melihat siapa wanita yang saat ini memarahinya membuat Bryan memegang kedua sisi wajah Aluna.


"Sayang ini kamu. Kamu kemana saja, seharian ini aku mencarimu. " Bryan memeluk Aluna, namun Aluna berusaha melepaskan pelukan Bryan.


"Nggak kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi. " Bryan menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya kepada Aluna. Ketika Aluna semakin berusaha melepaskan pelukan Bryan.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu pulang. Fiona pasti menunggumu. " Bryan akhirnya melepas pelukan Aluna dan menatap Aluna.


"Luna apakah kau sudah tidak mencintai aku lagi? apa benar pria yang waktu itu, dia suamimu? " Bryan mengguncang tubuh Aluna karena Aluna hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaannya.


"Jawab aku Luna "


"Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Jadi stop mencari aku Bryan. Aku telah menikah dan hidup bahagia sekarang. " Aluna sengaja berkata seperti itu agar Bryan tidak lagi mencari atau berharap padanya lagi.


"Kau bohong Luna. Kau menipu perasaanmu sendiri. Aku tidak melihat ada cinta dimatamu setiap kau melihat laki - laki itu. " Bryan setengah berteriak mengatakan hal yang diyakininya itu. Membuat pengguna jalan sejenak berhenti menatap keduanya dan kembali melanjutkan perjalanannya seakan tidak mau terlibat dengan pertengkaran kedua orang itu.


" Kau tahu apa Bryan tentang perasaanku? Kau tidak akan pernah tahu apa yang aku rasakan saat ini. Jadi jangan sok tahu. " Aluan lagi lagi menghempaskan tangan Bryan.


"Baiklah Luna jika memang kau sudah tidak mencintaiku lagi, maka tidak ada gunanya aku hidup. " Bryan kembali ketengah jalan raya dan merentangkan kedua tangannya.


Aluna kaget dengan apa yang dilakukan Bryan, cepat - cepat Aluna kembali menarik Bryan, namun Bryan menghempaskan tangan Aluna. Keduanya sudah menjadi sorotan orang - orang yang lewat dijalan itu. Bahkan makian kembali terdengar dari pengemudi yang terpaksa menghindari keduanya.


"Pergilah bersama pria yang mengaku suamimu itu Luna. Jangan perdulikan aku lagi. pergi.... " Teriak Bryan kepada Aluna.


"Kamu jangan gila Bryan. Kau ingin anak yang dikandung Fiona lahir tanpa seorang ayah? " Bujuk Aluna agar Bryan menepi dan memikirkan calon anaknya bersama Fiona. Namun Bryan hanya tertawa getir.


"Anak? perempuan itu tidak hamil. Dia hanya menggunakan kehamilan palsunya untuk menjerat aku." Aluna yang mendengarnya menjadi kaget.

__ADS_1


"Katakan kau masih mencintaiku Luna. Ku mohon... " Ucap Bryan yang mulai menangis seperti orang bodoh.


"Iya aku masih mencintaimu. Sekarang kita ke tepi yah... " Mendengar hal itu Bryan langsung menuruti Aluna yang menariknya ke tepi jalan. Namun ternyata ada pria yang memegang dadanya mendengar ucapan Aluna pada Bryan.


__ADS_2