
Aluna gemetar melihat suaminya yang sudah tidak sadar di lantai. Aluna berteriak histeris memanggil Frans yang langsung menerobos masuk ke kamar tuan dan nyonyanya. Matanya membulat melihat tangan Arka yang terluka. Aluna menangis menyesali kata - katanya. Frans mencoba mengangkat tubuh Arka ke ranjang.
"Nona ambilkan kain atau apa saja." Tanpa sadar Frans memerintah Aluna. Aluna langsung berlari kearah almari mencari kain atau pakaian lainnya. Sementara Aluna sibuk mencari yang disuruh Frans, Arka membuka satu matanya dan menempelkan jari telunjuknya dimulutnya. Frans bernafas lega karena ternyata tuannya hanya berpura - pura. Arka mengusir Frans dengan sorot matanya kearah pintu.
"Sekertaris Frans ini." Aluna akhirnya mengambil handuk putih kecil yang masih baru didalam almari.
" Peganglah itu nona, saya akan mengambilkan baskom air dan tolong bersihkan luka tuan Arka. " Ucap Frans mulai berjalan meninggalkan kamar.
"Sekertaris Frans apa tidak seharusnya kita membawanya ke rumah sakit? Aku takut terjadi apa - apa padanya." Langkah Frans terhenti mendengar ucapan Aluna.
" Saya akan memanggil dokter nona, nona tolong jaga tuan dengan baik. Aku takut tuan bahkan tidak akan selamat." Aluna menelan salivanya meraih tangan suaminya yang terluka. Untung saja Aluna sedang panik makanya dia tidak mencerna kata - kata Frans dengan baik. Kalau saja Aluna masih bisa berfikir tenang pasti dia akan berteriak kepada Frans untuk cepat - cepat membawa suaminya kerumah sakit, jika suaminya tidak akan selamat.
Setelah mengantar baskom berisi air, Frans meninggalkan tuan dan nona mudanya keluar kamar. Frans tetap menghubungi dokter dan menyuruh dokter tersebut datang dua jam kedepan, karena dia tahu luka ditangan Arka hanya terkena serpihan kaca dan Arka sementara mencari perhatian istrinya.
"Sayang tolong jangan membuatku takut, aku mohon sadarlah." Aluna menangis sambil sesekali bibirnya meniup tangan suami yang sementara dia bersihkan lukanya.
"Aku ingin melihat seberapa dalam perasaanmu padaku dan seberapa takut kau kehilanganku." Gumam Arka dalam hati. Walaupun dia tidak tega mendengar suara tangisan istrinya, namun dia menahannya dalam diam.
__ADS_1
"Ku mohon bangunlah, jangan tinggalkan aku. Aku janji jika kamu bangun, aku tidak akan menyebut nama Bryan lagi, tidak bukan hanya Bryan aku tidak akan menyebutkan nama laki - laki lain didepanmu dan aku tidak ingin anak perempuan lagi. Jika kamu mau anak kita laki - laki maka aku akan setuju saja. Tapi ku mohon bangunlah. " Aluna nemeluk suaminya menyadarkan kepalanya didada Arka. Arka membuka matanya melihat istrinya yang membenamkan wajah didadanya, ingin menyentuh kepala istrinya namun dia menahannya.
" Ku mohon bangunlah, kalau kau jadi hantu kau pasti akan terus mengejarku kan." Arka bahkan hampir ingin tertawa mendengar ucapan istrinya.
Aluna kembali bangun menatap wajah suaminya yang masih menutup matanya. Aluna mendekati wajah suaminya, mencium seluruh bagian wajah suaminya.
"Apakah kau benar - benar akan meninggalkanku? Apa kau tega membiarkan aku menjadi janda muda." Arka kali ini mungkin dia tidak bisa menahan tawanya lagi. Ada senyum diujung bibirnya untung Aluna tidak melihatnya. Aluna kembali memeluk Arka dan menangis terisak didada suaminya. Arka membuka matanya, mengelus pucuk kepala Aluna.
"Sayang " Aluna bangun ketika merasakan sentuhan dikepalanya oleh tangan suaminya. Aluna meraih tangan itu dan mendekatkannya dipipinya, mencium punggung tangan suaminya.
Arka mengangkat tangan yang satunya, menghapus air mata istrinya.
"Apa sekarang kau baik - baik saja?" Tanya Aluna kepada Arka yang sudah duduk menatapnya.
" Aku berusaha untuk hidup, karena aku tidak ingin kau menjadi janda muda." Arka menyentil kening istrinya.
"Kenapa kata katamu seperti yang aku pikirkan?" Tanya Aluna menyelidiki.
__ADS_1
"Karena aku tahu kau memang menginginkan aku mati." Arka membuat mimik sedih diwajahnya.
" Apa kau pikir setelah kau mati, aku bisa hidup? Kau bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku." Aluna mulai berdiri namun Arka menahan dan memeluknya.
"Jadi kau tidak bisa hidup tanpa aku?" Tanya Arka yang sudah membalikkan tubuh istrinya menghadapnya. Aluna mengangguk. Arka mendaratkan ciuman cukup lama dibibir istrinya.
"Maaf karena membuatmu kuatir." Ucap Arka setelah melepaskan bibir istrinya.
"Berjanjilah jangan pernah meninggalkan aku" Aluna berucap membuat Arka menjanjikannya hal itu.
Setelahnya Arka menghubungi Frans untuk tidak menyuruh dokter datang mengobatinya. Karena Aluna telah mengobatinya. Setelah itu mereka memutuskan istirahat.
"Apa malam ini kita bisa membuat anak laki - laki sayang?" Godanya pada Aluna yang berada dalam pelukannya. Aluna sejenak menatapnya penuh tanda tanya.
"Ingat kau sudah berjanji." Tambah Arka membuat Aluna mencubit pinggangnya.
"Bagaimana kau tahu, aku berjanji seperti itu? " Aluna kembali mencubit bagian perut suaminya.
__ADS_1
"Aku hanya bermimpi kau mengatakan hal itu" Arka mencoba mengelak dan menarik kembali istrinya untuk tidur dipelukannya. Setelah itu mereka tertidur dengan saling memeluk.