Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
VILLA 6


__ADS_3

"Aku nggak cinta sama dia Ra. " Satu kalimat yang keluar dari bibir Alka mampu membuat Maura menutup mulutnya tidak percaya.


"Apa maksud Abang Al? Suara bertanya itu terdengar pelan, memilih bertanya Maura pikir dia hanya salah mendengar saja tadi.


" Ra, jangan membangun hubungan diatas keterpaksaan. Kamu akan menyesal dan menderita nantinya. " Mungkin kalimat itu lebih cocok ditujukan untuknya. Yah, Alka memang terpaksa menjalin hubungan dengan Violin. Violin gadis itu pernah menyelamatkan nyawanya. Seharusnya waktu itu Alka yang tertabrak sebuah mobil pick up, namun entah dari mana Violin muncul menyelamatkannya. Gadis yang selalu ditolak cintanya oleh Alka.


Ketika kecelakaan itu terjadi, Alka tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang hendak menabraknya. Karena ketika kejadian itu terjadi, sang supir segera lari meninggalkan tempat kejadian. Bahkan plat mobil yang digunakan pria itu tidak tercatat di kepolisian. Alka yakin, mobil itu memang menargetkan dirinya. Intinya sang pengemudi berniat mencelakainya, bukan karena remnya bermasalah atau karena supirnya mengantuk. Seperti kecelakaan biasa terjadi pada umumnya.


Alka melihat Violin tidak sadarkan diri, disamping tubuhnya yang terpental karena didorong gadis itu. Ada beberapa luka dibagian kaki, siku dan juga pipi kiri gadis itu. Sepintas luka itu memang terlihat tidak terlalu parah. Tapi sayangnya, karena benturan keras mengenai bagian perut gadis itu, membuat gadis itu tidak bisa mengandung. Alka menjambak rambutnya frustasi. Semua yang dialami gadis itu karena menolong dirinya. Violin yang kalah itu menangis diranjang rumah sakit, meratapi nasibnya. Dia berkata tidak mengapa kepada Alka, namun Alka tahu, semua wanita di dunia ini ingin menjadi ibu ketika tiba saatnya nanti. Lalu bagaimana dengan Violin? Adakah pria yang akan menikah dengannya, jika tahu Violin tidak bisa mengandung dan memberikan keturunan?


Alka dengan gemetar dan rasa yang berkecamuk meraih tangan gadis itu. "Tidak usah kuatir, akan ada pria yang akan menikahimu dengan keadaanmu seperti ini. " Ingin mengatakan hal yang begitu sulit diucapkan, namun Alka harus melakukannya. "Pria itu....aku. " Kalimat itu keluar dengan pejaman mata pasrah. Mungkin semua sudah jalannya. Dari situlah Alka menerima Violin menjadi pacarnya, walaupun mereka baru terdengar mengumumkan kedekatan mereka setahun terakhir.


Alka tidak pernah menceritakan kejadian hari itu pada siapapun termasuk sang bunda. Intinya mulai dari kecelakaan itu, Alka berubah.


"Abang Al, apa ada yang Abang Al tutupin dari Maura? " Gadis itu tahu, ada sesuatu yang Alka pikirkan. Ada kesedihan dimatanya, saat menatap Maura. Saat mengatakan kalimat tadi, Maura yakin Alka mengalaminya.


"Apa Abang Al terpaksa pacaran dengan Violin?" Menduga - duga, Maura melemparkan pertanyaan itu.


Alka tersenyum, "Sok tahu kamu. " Kali ini Alka berdiri dari duduknya. Berjalan kearah balkon, karena pria itu masuk kekamar Maura tidak melalui pintu, melainkan naik dari sisi balkon kamarnya. Sebelum dia benar -benar pergi, dia kembali menatap gadis itu.


"Jangan menikah sebelum kamu mencintai pria itu. " Mungkin ini peringatannya pada Maura. Jangan terburu - buru menjalin hubungan yang serius dengan Rama, sebelum Maura jatuh hati pada pria itu. begitulah mungkin Alka menasehati gadis itu. Biarlah dia yang menderita, jangan Maura. Setelah mengatakan itu, Alka pergi.


***

__ADS_1


Pagi itu Maura terlihat tidak bersemangat, entah mengapa Alka selalu membuatnya ragu. Ragu melanjutkan sandiwaranya dengan Rama. Karena memang mungkin akan sia - sia.


"Maura, kita sepedaan yuk. " Suara cantik itu membuyarkan lamunannya. Setelah sarapan tadi, Maura memilih duduk di taman Villa, seorang diri tentunya. Ia menatap gadis yang sedang mendorong sepeda kearahnya.


"Eh Vio. " Ucapnya yang langsung berdiri menghampiri gadis itu.


"Kita sepedaan yuk. Aku bosan di Villa terus. " Ucapnya.


"Kemana?" Tanya Maura yang sebenarnya tidak ingin pergi kemana - mana sekarang.


"Aku sempat bertanya pada penjaga Villa, katanya dekat sini ada tempat biasa orang - orang bersepedaan. Katanya seru, kita tidak akan tersesat, karena sudah ada anak panah penunjuk jalan kalau nantinya kita masuk kedalamnya. "


"Emang dimana tempatnya? " Tanya Maura, karena dia masih bingung dengan penjelasan Violin.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu. " Mengambil salah satu sepeda yang memang sudah tersedia di Villa itu, Violin terlihat senang karena kali ini dia memiliki teman untuk bersepedaan.


"Paman, tolong katakan kepada ibuku kalau aku pergi sebentar dengan Violin. " Sebelum pergi Maura berpesan pada penjaga Villa, yang kebetulan melintas disana.


Beberapa saat Violin menghubungi Alka, dengan kalimat yang tidak bisa diucapkannya dengan baik. Violin terbata mengatakannya, Alka tahu gadis itu sedang panik sekarang.


"Ada apa Vi? Kamu dimana sekarang? " Tanya Alka yang tidak mendengar baik apa yang dikatakan Violin tadi.


"Maura jatuh ke jurang Al. " Ucapnya dengan suara tangisnya.

__ADS_1


"Apa? " Alka kaget setengah mati, jantungnya tiba - tiba memompah cepat dan seakan ingin keluar dari pangkalnya. Apa yang terjadi, kenapa Maura bisa jatuh ke jurang? Setahunya gadis itu duduk ditaman, karena dia sempat melihatnya dari balkon sebelum ia kembali masuk kekamarnya, memeriksa beberapa dokumen penting yang dikirim sekertarisnya ke alamat email miliknya.


"Kalian dimana sekarang? " Tanyanya berlari keluar kamar. Disaat keluar halaman mengambil mobilnya, Giska muncul dengan barang belanjaan. Pagi tadi dia memutuskan, untuk membeli beberapa barang yang lupa dibawanya dari rumah.


"Abang Al mau kemana? " Tanya Giska pada Abangnya.


"Maura jatuh ke jurang, tolong jangan kasih tahu Tante Santi dulu. Kasih tahu bunda sama ayah aja dulu. " Setelah mengatakan itu, Alka segera menaiki mobilnya, melaju dengan tergesa - gesa.


Karena kepanikannya, Giska lupa apa yang dikatakan Alka,yang dia lakukan sekarang adalah berlari kedalam Villa.


"Tante Santi, Maura jatuh ke jurang. "


BERSAMBUNG DULU YAH.


Aku sakit seminggu ini, jadi malas mikir...


Maaf hanya itu yang bisa aku katakan. Oh yah, sekedar informasi, sepertinya akun yang lapor karya ini udah di blacklist. Karena terbukti tidak memiliki bukti bahwa karya ini plagiat. Aku sekarang tahu orangnya. Karena komentar dia yang biasa muncul paling atas, paling pertama saat buka novel ini udah nggak ada beserta akunnya.


Benar, dia pembaca setia Novel ini. Sayangnya dia benar - benar tidak suka Aluna akhirnya dengan Arka, dia lebih suka Aluna kembali dengan Bryan. Tapi sayang aku sebagai author penulis novel ini lebih suka Aluna sama Arka. Karena secara kalau dipikir, perempuan mana yang akan memilih bertahan dengan pria yang dengan mata kepalanya tidur dengan wanita lain. Disaat mereka berhubungan nanti, mungkin akan teringat kalau pria yang menidurinya pernah meniduri wanita lain. Okelah, Arka juga memang pernah tidur dengan wanita lain, tapi itu disaat dia tidak terikat dengan Aluna. setelahnya kan Arka tidak pernah menyentuh wanita lain selain Aluna. Okelah, Bryan nggak sadar, tapi dia yang memilih mempercayai wanita itu direstoran ketimbang mengantar Aluna pacarnya, dia memilih mengantar Fiona. Kalaupun dia harus terpaksa menikahi Fiona, itu pilihan dia. Apa dia tidak cukup punya kekuatan untuk melindungi Aluna? Yah intinya aku lebih suka Arka dibanding Bryan.


Lagi pula ini hanya cerita dalam Novel, janganlah dihayati sampai jadi pembenci novelnya dan authornya. Kalau memang pengen kisah Aluna berakhirnya dengan Bryan, berimajinasi aja seperti itu.Nggak bahkal ada yang ngelarang. Itu aja.


"Jangan lupa ramaikan Novelku yang berjudul "Perjuangan Emely. " Perlahan - lahan aku bahkal nyelesaian keduanya bersamaan. Doakan saja.

__ADS_1


__ADS_2