Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
KANGEN MAMA


__ADS_3

Kali ini tante Ira yang membukakan pintu untuk Bryan. Bryan langsung menanyakan tentang Aluna. Bryan semakin frustasi ketika mendengar bahwa Aluna telah pergi dua jam yang lalu. Bryan mencoba menyusul Aluna ke pelabuhan. Sementara dalam perjalanan dia mengutuk dirinya sendiri mengapa sampai ia nekad masuk club dan memesan minuman yang membuat dirinya tidak sadar. Bahkan mengingat perkataan Richo dan Fiona bahwa Aluna melihat dia.... Bryan beberapa kali memukul setir mobilnya membayangkan bagaimana perasaan Aluna.


Dengan kecepatan laju mobil yang ia kendarai, akhirnya dia sampai di pelabuhan. Bryan memarkirkan mobilnya dan berlari kecil kearah kapal yang biasanya bersandar menunggu keberangkatan sesuai jam yang ditentukan.


Langkah Bryan terhenti ketika ada suara yang memanggilnya.


"Om Ben. " Seru Bryan sedikit lega karena melihat Om Ben berjalan menghampirinya. Dalam benak Bryan jika Om Ben masih ada di pelabuhan berarti Aluna masih ada.


Bryan melihat ke belakang Om Ben berharap gadis yang ia cintai berdiri mematung melihatnya atau setidaknya datang memarahi dia, menampar pun Bryan akan menerima. Jika itu tidak cukup Bryan bisa berlutut memohon.


"Kamu mencari siapa? " Lamunan Bryan buyar ketika Om Ben mulai bertanya dan ikut melihat kearah yang sedari tadi dilihat Bryan.


"Aku mencari Luna Om." Jawab Bryan yang matanya tetap fokus seperti mencari seseorang.


"Aluna ada di kapal itu." Tunjuk Om Ben kearah kapal yang sudah beberapa meter meninggalkan pelabuhan.


" Apa? " Bryan langsung lari menuju kapal yang ditumpangi Aluna. Bryan berteriak memanggil Aluna yang masih berdiri di samping kapal. Bryan yang berusaha mengejar posisi kapal yang semakin menjauh dari pelabuhan dengan berlari kearah paling ujung pelabuhan dia berharap bisa sedikit berbicara dengan Aluna dari jarak pelabuhan dan kapal yang Aluna tumpangi.


Jantung Bryan seakan berhenti ketika tadinya berdetak kencang mengikuti langkah kakinya yang berlarian ketika melihat Aluna yang mendengar namanya dipanggil mencari kearah suara dan setelah Aluna melihat Bryan dia langsung masuk kedalam kapal dan tidak pernah keluar lagi sampai kapal itu benar - benar pergi membawanya.

__ADS_1


Om Ben yang sedari tadi mengikuti Bryan dapat menarik kesimpulan bahwa Bryan dan Aluna sedang bertengkar. Walaupun Om Ben sendiri tidak tahu apa yang menjadi pemicu pertengkaran mereka..


"Om apakah ada kapal lain yang menuju kampung halaman Aluna? " Tanya Bryan kepada Om Ben.


" Itu kapal terakhir untuk hari ini. " Sahut Om Ben dengan menunjuk kapal yang ditumpangi Aluna yang semakin menjauh.


Bryan menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Om Ben kemudian mengajak Bryan untuk pulang. Bryan hanya mengiyakan.


Sesampainya di rumah Aluna langsung mencari ibunya. Ketika Aluna melihat sosok yang dia rindukan berada dihalaman belakang rumahnya, Aluna langsung memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Ma, Luna kangen. " Ucap Aluna yang sudah dipeluk ibunya.


"Luna sudah makan? " Tanya ibunya dan Aluna hanya menggeleng kepala pertanda dia belum makan.


Ibunya langsung merangkul anaknya mengajak ke dapur kecil mereka dan menyajikan makanan kesukaan Aluna. Sebelumnya Aluna sudah memberi kabar kepada ibunya bahwa dia akan pulang hari ini.


Bryan membanting seluruh benda yang berada dimeja kamarnya. Kemudian dia masuk kedalam kamar mandi membersihkan tubuhnya. Bryan menatap cermin besar yang berada dikamar mandi. Betapa kagetnya dia melihat ada beberapa tanda merah di bagian leher, dada dan perutnya. Bryan memaki dalam hatinya sambil mencoba menghapus tanda itu dengan sabun tapi tanda merah itu bahkan semakin memerah.


Sejam kemudian Bryan keluar dari kamar mandi, dia memasukkan pakaian yang dipakainya semalam kedalam kantong plastik.

__ADS_1


"Bibi.... " Panggil Bryan kepada seorang asisten rumahnya.


" Iya Den. Ada yang bisa bibi bantu? " Sahut wanita yang sudah sedikit berumur itu sembari berlari kecil mendekati suara majikannya.


"Tolong buang ini, bila perlu bakar itu bi. " Bryan memberikan kantong yang berisi semua pakaian yang dipakainya semalam. Bibi kemudian mengambil kantong tersebut tanpa menanyakan apa isi kantong tersebut.


Bryan kemudian masuk kedalam kamarnya, mengambil ponsel yang sedari tadi berdering. Bryan berharap Aluna yang menghubunginya, walaupun itu mustahil menurutnya tapi Bryan berharap cinta Aluna kepadanya mengalahkan semuanya.


"Hallo. " Sahut Bryan malas.


"Bryan apa yang telah kau lakukan kepada Fiona? " seru Indra Wijaya dari seberang sana. "Justru aku ingin bertanya kepada perempuan itu apa yang dia lakukan kepadaku. " Andai Bryan bisa mengatakan hal itu kepada ayahnya.


"Aku tidak melakukan apa - apa kepada perempuan itu. " Jawab Bryan dengan malas.


"Lalu kenapa dia menghubungi papa sambil menangis dan dia bilang kamu menidurinya." Indra Wijaya semakin meninggikan suaranya membuat Bryan sedikit menjauhkan telponnya.


" Cih Bahkan dia tidak tahu malu mengatakan hal itu kepada orang lain. " Batin Bryan.


Bryan hanya diam saja, tidak ada gunanya berdebat dengan ayahnya. Karena tetap saja dia yang dipersalahkan.

__ADS_1


"Papa akan segera kembali, kamu harus menjelaskan semuanya kepada papa. " Indra Wijaya menutup sambungan telepon. Sementara Bryan hanya tersenyum sinis.


__ADS_2