Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
CINTA TIDAK HARUS DIPAKSAKAN


__ADS_3

Diruang keluarga kediaman keluarga Wiguna.


Duduk ketiga orang yang baru saja pulang itu. Duduk berhadapan dengan Arka selaku kepala keluarga. Sesekali Aluna menasehati suaminya, agar bisa mengontrol emosi dan nada suaranya.


"Sekarang jelaskan kepada ayah, kenapa wajah Maura sampai kayak gitu? " Bertanya sambil melihat kearah Alka dan Giska bergantian. Itu artinya salah satu dari kedua anaknya itu harus menjelaskan kepada sang ayah.


" Tadi Alka ninggalin Maura dan Giska Yah. Soalnya Vio butuh bantuan Alka. " Alka menunduk dan menjawab jujur. Sedangkan Maura, gadis itu, setiap kali nama Vio disebut selalu menjadi tanda tanya dikepalanya tentang siapa pemilik nama itu. Dalam artian ada hubungan apa Alka dengan nama Vio, yang Maura tahu berjenis kelamin perempuan itu.


" Vio? " Sang ayah bertanya. Karena baru mendengar nama itu dirumah mereka. Ingat, Alka hanya memberitahu tentang siapa Vio hanya pada sang bunda saja. Sedangkan Aluna belum sempat memberitahu suaminya itu, soal Vio yang katanya pacarnya Alka.


Pertanyaan Arka sudah mewakili kegundahan hati Maura sejak tadi siang, saat Alka meninggalkan dirinya dan Giska hanya karena wanita yang bernama Vio itu menghubungi Alka.


Mengangkat kepalanya, Alka lantas memandang sebentar kearah Maura, lalu pandangannya kembali beralih kepada sang ayah yang butuh jawabannya. Alka lantas menjawab. "Pacarnya Alka ayah. "


Aluna bisa melihat ekspresi wajah kaget sekaligus kecewa dari Maura. Bahkan setelah kalimat itu terucap dari bibir Alka, Maura tidak berhenti menatap kearah Alka yang tidak lagi melihat kearahnya.


"Tante, Paman, Kak Giska, Maura ke kamar dulu. Sepertinya luka diwajah Maura tiba - tiba sakit sekali. " Bukan luka diwajahnya, tapi dihatinya.


"Maura, biar tante bantu obatin. " Tawar Aluna mulai berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Menjawab dengan tersenyum. "Tidak apa - apa tante, Maura bisa sendiri. Lagi pula ini hanya luka kecil saja. Maura biasa terluka jauh lebih sakit dari ini. "


"Maura permisi dulu. " Sudah berjalan tanpa menunggu jawaban. Mengunci pintunya rapat, Maura memukul dadanya yang terasa sakit.


Kenapa dia merasa sesakit ini saat mendengar bahwa Alka sudah punya kekasih. Sudah menyimpulkan sendiri, mengapa selama ini Alka tidak pernah lagi menghubunginya. Tidak pernah lagi mengangkat telpon darinya.


Berjalan menuju ranjangnya, mencari benda yang berbentuk persegi didalam tasnya. Maura menghubungi sang ibu. berpikir sebentar lalu memutus panggilan itu sebelum tersambung. Maura tidak ingin ibunya tahu kalau Alka sudah punya pacar. Tidak ingin ibunya melihat kondisinya saat ini. Bisa - bisa dia langsung dikirimi tiket pulang.


" Kalau Abang Al sudah memutuskan komunikasi denganmu, itu artinya Abang Al udah punya pacar sayang. Ibu nggak mau kamu sakit hati nantinya. "


"Maura yakin bu, Abang Al itu masih sayang sama Maura. Maura bisa pastikan sama ibu. Maura akan liburan ke Jakarta dan Maura yakin bisa ajak Abang Al ketemu ibu dan ayah. " Maura masih ingat pembicaraan singkat saat dirinya begitu percaya diri mengatakan kalimat itu pada sang ibu, dimalam ketika esoknya dia akan berangkat ke Jakarta.


Jika dia menghubungi ibunya saat ini, sudah pasti ibunya akan meminta dia pulang. Sementara dirinya, masih ingin disini. Melihat Abang Al beberapa hari lagi. Walaupun dia harus berpura - pura baik - baik saja didepan keluarga Wiguna.


***


Sepertinya mentari pagi sudah naik memanaskan bumi. Maura yang sudah bangun sejak tadi, belum juga bergerak turun ke lantai bawah. Padahal dia tahu, kalau keluarga itu pasti sedang menunggunya sarapan.


"Bagaimana aku bisa pergi menemui mereka dengan mata sembabku. " Melihat wajahnya dipantulan cermin, sambil menyentuh matanya yang sembab.

__ADS_1


"Maura sayang. " Suara Aluna dibalik pintu kamarnya.


Gimana ini, apakah dirinya berpura - pura tidur atau masuk kedalam selimut lagi dan berpura - pura sakit.


"Ayo sarapan nak. Semuanya udah nunggu Maura dimeja makan. "


"Iya tante. Maura bentar lagi nyusul. Maaf yah tante, Maura lagi ganti baju dulu. " Memilih menghadapi kenyataan, dari pada pura - pura sakit. Takut, kalau nanti dia malah sakit beneran.


"Oke, tante Luna tunggu dimeja makan yah sayang. " Setelah mendapat jawaban iya dari Maura, Aluna turun kembali, menunggu di meja makan bersama yang lainnya.


"Al, bisakah kamu tidak mengajak Vio dulu kerumah ini, disaat ada Maura disini. " Arka sudah mendengar penjelasan Alka semalam mengenai Vio yang akan diajaknya kerumah untuk menemui ayah dan bundanya.


"Iya Abang, setidaknya jagalah perasaan Maura. Abang Al lihatkan gimana wajah kecewa Maura semalam, pas dengar Abang Al udah punya pacar. " Sang bunda menambahi. Bukan hanya wajah kecewa Maura yang bisa Al gambarkan, karena memang semalam dia tidak melihat lagi kearah Maura. Bahkan Alka juga mendengar Maura menangis semalam dikamarnya.


"Tidak apa - apa paman, tante. " Maura yang menjawab. Dia sudah mendengar apa yang dikatakan Arka dan juga Aluna pada Alka.


"Lagi pula, Abang Al udah anggap Maura kayak kak Giska. Jadi pacarnya Abang Al juga bisa jadi calon iparnya Maura. " Tambah gadis itu dengan tersenyum. Bahkan dengan bantuan makeup mata sembabnya sedikit tak terlihat.


"Abang Al tidak usah sungkan sama Maura. Tante, paman juga tidak usah merasa tidak enak sama Maura. Maura sudah anggap Abang Al juga seperti kakak kandungnya Maura. " Bukannya senang, Alka malah terasa sakit mendengar ucapan Maura. Sakit ketika Maura mengatakan bahwa dirinya dianggap seperti kakak kandung. Tapi bukankah itu lebih baik?

__ADS_1


Setelah mengatakan isi hatinya, Maura sedikit merasa lega. Untuk saat ini biarlah dia mengalah. Toh, cinta tidak harus dipaksakan.


Kalaupun Alka adalah jodohnya, cinta sejatinya, pasti suatu saat akan kembali padanya.


__ADS_2