
Setelah makan malam, entah mengapa Aluna sakit perut.
" Kamu kenapa sayang? " Arka mulai panik melihat istrinya yang meringis kesakitan.
"Entahlah aku mungkin hanya terlambat makan hari ini. " Ucap Aluna mulai rebahan ditempat tidur.
" Apa pelayan terlambat menyediakan sarapan atau makan siang tadi? " Tanya Arka sedikit kesal. Dalam hatinya dia sudah memgancam pelayannya "Awas saja jika benar - benar mereka tidak mengurus istriku dengan baik."
"Tidak sayang. Mereka menyiapkan sarapan dan makan siang tepat waktu. Hanya saja aku asyik mengobrol dengan Santi makanya aku sedikit telat makan siang. " Jelas Aluna.
"Mulai besok, aku tidak mengijinkan Santi kesini lagi. " Aluna merutuki kebodohannya kenapa juga dia menyebut nama Santi.
"Santi ngga salah sayang. Aku yang belum lapar tadi. Padahal Santi sendiri sudah sangat lapar dan mengajakku makan. " Jelas Aluna berharap kali ini suaminya tidak akan melarang Santi untuk datang menemaninya. Aluna bahkan lupa sebentar lagi dia mungkin akan bekerja dan Santi tidak perlu datang lagi menemaninya dirumah kecuali hari libur.
" Jangan marah. Aku sudah minum obat pereda sakit." Aluna memelas agar suaminya tidak terlalu kuatir dan tidak marah lagi.
"Entahlah aku bahkan tidak bisa menjagamu. " Ucap Arka menatap kearah Aluna.
"Sayang Kenapa orangtuamu memberikan nama Arka padamu" Tanya Aluna yang tengah tidur disamping suaminya. Aluna berusaha tidak membahas sakit perutnya lagi.
"Karena Arka adalah gabungan nama ayah dan ibuku Ardian dan Kamila. Buah cinta mereka adalah aku jadi mereka memberiku nama Arka. " Jawab Arka sambil mengelus perut Aluna yang sedang sakit.
" Wah pasangan yang bahagia dan nama yang bagus. " Aluna senang sendiri.
"Kalau kamu kenapa diberi nama Aluna?" Tanya Arka juga penasaran apakah Aluna juga diberi nama gabungan nama orangtuanya.
" Orangtuaku senang dengan nama itu. Kata mama nama Aluna diambil dari tokoh utama novel favorit mama. Waktu mama merekomendasikan nama itu sama papa, papa setuju saja dan papa juga menambah Anggisty. Jadilah Aluna Anggisty. " Itulah kira - kira yang Aluna tahu kenapa dirinya diberi nama Aluna oleh kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Kalau anak kita, kamu ingin kasih nama apa sayang? " Tanya Arka pada Aluna. Aluna diam sejenak berfikir nama apa yang hendak diberikannya pada anak perempuannya kelak.
" Emm Giska aja, Anggisty Arka. " Seru Aluna dengan semangat.
" Kok nama anak perempuan sayang? " Tanya Arka pada Aluna.
"Kan aku pengen punya anak perempuan sayang. " Sahut Aluna santai.
"Aku pengen baby boy sayang." Arka malah sudah menatap serius istrinya.
"Aku mau anak perempuan sayang. " Aluna sepertinya tidak ingin mengalah dari suaminya.
"No no baby boy sayang. " Arka masih kekeh ingin memiliki anak laki - laki untuk menjadi pewarisnya dikemudian hari.
"Yang melahirkan siapa? " Tanya Aluna yang sudah mulai duduk dengan menaruh tangan dikedua pinggangnnya.
"Itu berarti anak kita harus perempuan. " Seru Aluna pada suaminya. Mendengar itu Arka mulai duduk dihadapan istrinya dan menaruh tangan juga dipinggangnya seperti istrinya.
"Yang membuatnya siapa? " Tanya Arka pada istrinya. Mereka bahkan mulai bertengkar seperti anak kecil.
"Kamu. " Jawab Aluna memajukan bibirnya bertanda dia mungkin akan kalah.
" Jadi aku akan membuatnya menjadi baby boy. " Senyum Arka mengembang tanda kemenangannya.
"Kalau begitu aku tidak mengijinkanmu membuatnya. " Aluna mulai tersenyum melihat raut wajah suaminya yang berubah.
"Baiklah kau pemenangnya. Anak kita perempuan. " Ucap Arka yang dengan kasar merebahkan tubuhnya kembali.
__ADS_1
Aluna bersorak senang.
"Tapi mulai malam ini, kita akan terus membuat anak perempuan itu. " Seru Arka mulai menarik istrinya.
" Aduh perutku sakit lagi. " Aluna pura - pura. Padahal perutnya sudah tidak sesakit tadi.
" Kau tidak apa - apa Luna. Kita ke dokter sekarang. " Arka mulai bangun dari tidurnya. Namun Aluna menahannya.
" Aku tiduran aja pasti sakitnya bakal hilang. Lagipula tadi aku sudah minum obat. Kau elus aja seperti ini pasti sakitnya cepat hilang. " Aluna mengambil tangan Arka dan menaruhnya diatas perutnya sambil Aluna menggerakkan tangan Arka mengelus perutnya.
"Luna" Arka ingin memastikan apakah istrinya tengah tertidur.
"hemmm" Aluna masih menjawabnya, membuat Arka melanjutkan apa yang ingin ia katakan.
" Aku tidak masalah jika nantinya Tuhan memberikan kita anak perempuan atau laki - laki. Bagiku semuanya sama. Asalkan kamu yang menjadi ibu dari anak - anakku. " Aluna yang mendengar ucapan Arka merasa terharu. Matanya bahkan sudah berkaca - kaca mendengar ucapan pria yang begitu tulus mencintainya.
" Kenapa kau malah menangis, apakah perutmu masih sakit? " Tanya Arka menyadari ada air mata yang jatuh ketika dia menatap lekat wajah istrinya yang sudah membuka mata menatap mata suaminya seolah mencari kebenaran kata - kata suaminya disana.
" Kamu memang anak ibumu Luna. " Tambah Arka membuat Aluna bingung dan seperti bertanya apa maksud ucapan Arka, toh dia memang betul anak mama Asmita.
"Karena disetiap momen yang bahagia sekalipun kalian akan menangis. " Tambah Arka. Aluna baru mengerti maksud ucapan suaminya yang mengatakan kamu memang anak ibumu. Aluna hanya tersenyum menyadari apa yang dikatakan suaminya memang benar. Mungkin diluar sana juga banyak seperti dirinya. Menangis bukan hanya karena kita merasa sedih melainkan menangis juga bisa karena kita bahagia.
"Terima kasih." Ucap Aluna tulus.
"Terima kasih untuk apa? " Tanya Arka
"Untuk semua cinta yang kau berikan padaku. " Sahut Aluna mulai melingkarkan tangannya diperut suaminya.
__ADS_1
" Terima kasih juga karena kau telah percaya bahwa aku mencintaimu dan berjanjilah bahwa apapun yang terjadi kau harus tetap percaya bahwa aku mencintaimu. " Aluna mengangguk setelah itu ciuman sebelum tidurpun dimulai dan setelahnya merekapun tidur.