
"Apa dia bersenang - senang sampai lupa pulang. " Arka mondar mandir dikamarnya sambil menatap jam tangannya, menunggu kepulangan istrinya.
"Apa terjadi sesuatu pada mereka. " Arka langsung lari keluar kamar, menuruni anak tangga dan menghubungi Frans yang ada di rumah belakang.
"Frans kita susul nona Aluna ke pesta. " Arka bahkan terlihat cemas karena Aluna dan pengawalnya belum juga sampai. Padahal dirinya sudah memberi standar waktu kepada Aluna dan pengawalnya.
"Tuan saya sudah menghubungi pengawal dan mereka bilang mereka sudah hampir sampai. " Arka terlihat lega mendengar penuturan orang kepercayaannya.
Setelah mobil pengawal sampai Arka masih melihat ke ujung jalan. Mobil yang mengantar istrinya belum juga sampai. Belum juga ia menanyakan kepada pengawal dimana istrinya. Ponselnya berdering satu panggilan dari salah satu pengelolah perusahaan cabang milik Arka.
"Ada apa pak Tomy? " Tanya Arka pada intinya karena saat ini fokusnya hanya pada istrinya.
"Maaf mengganggu tuan. Saya hanya menginformasikan bahwa ada mobil atas nama tuan di curi seorang wanita dan ditinggalkannya sebagai hadiah ulang tahun anak saya dan setelah saya konfirmasi dengan petugas kepolisian, ternyata mobil ini milik tuan. " Pak Tomy bahkan tidak tahu jika Aluna adalah istri Arka. Karena waktu resepsi pernikahan pak Tomy tidak hadir karena harus menghandle pekerjaan di luar negeri.
" Tuan saya akan menyuruh orang saya untuk mengantar ke rumah tuan. " Arka kemudian menyerahkan ponselnya kepada Frans untuk mengurus hal itu. Arka kemudian mendekati pengawalnya menanyakan dimana istrinya.
"Maaf tuan kami mengantar nona ke kontrakan temannya. Nona bilang dia akan memberi tahu tuan. Kami sudah berusaha menahan nona, namun nona tetap ... "
" Frans antar aku ke kontrakan lama Aluna. " Pengawal bahkan belum menyelesaikan ucapannya, Arka sudah mengajak Frans untuk pergi ke kontrakan Santi.
Arka terlihat kesal dengan sesekali membuang nafasnya kasar. Dia bahkan mengingat tiap detil kejadian hari ini. Namun nihil dia sama sekali tidak mendapati dirinya melakukan kesalahan atau mengecewakan Aluna sehingga Aluna tidak pulang ke rumah.
Syukurlah jalanan tidak terlalu padat, sehingga Frans tidak terlalu lama menjadi amukan tuan mudanya.
Arka turun dan mulai mengetuk pintu kontrakan Santi. Santi dan Aluna yang baru saja membersihkan bekas riasan mereka langsung saling menatap menduga - duga siapa yang datang ke kontrakan mereka.
"Luna keluar berani beraninya kau..." Mendengar suara itu Aluna yakin bahwa itu suaminya. Aluna masuk kedalam selimut, dia menutupi seluruh tubuhnya, bahkan sedikit rambutpun tidak terlihat.
__ADS_1
"Luna kenapa kau malah sembunyi. " Santi berusaha membuka selimut namun Aluna tetap menahannya kuat.
"San tolong aku kali ini. Apa kau tidak dengar yang dia katakan " Berani - beraninya kau. San itu artinya berani - beraninya aku memberikan salah satu mobilnya untuk Vexa. " Aluna takut dengan pikirannya sendiri.
Terpaksa Santi membuka pintu kontrakan karena Arka yang sudah mengancam akan menghancurkan rumah kontrakannya.
"Tuan " Santi menyapa Arka yang sudah terlihat sangat marah.
"Dimana Aluna? Berani - beraninya dia tidak pulang dan tidak mengabariku. " Arka bahkan sudah masuk kedalam kontrakan mencari keberadaan istrinya.
"Tuan jangan memarahi Aluna, ini semua gara - gara saya. Saya yang membuat Aluna memberikan mobil tuan. " Arka menatap Santi dan mulai meredamkan emosinya. Sudah bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi.
"Dimana dia. " Tanya Arka dan Santi hanya menunjuk kearah kamar.
"San apa dia sudah pergi? Kau tidak bilangkan kalau aku disini. " Ucap Aluna karena mendengar suara langkah kaki yang datang menghampirinya yang Aluna pikir adalah Santi.
" Luna aku hitung sampai tiga. Jika dalam hitungan ketiga kau tidak membuka selimut itu, akan ku pastikan bukan hanya selimut yang terbuka. " Arka mulai menghitung "1, 3" Aluna langsung membuka selimut yang menutupinya. Tangannya dia satukan dan diletakkan di depan wajahnya.
"Sayang aku minta maaf, aku terima jika kau marah dan menghukumku. Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku. Kau bisa memotong dari gajiku untuk biaya mobil itu. " Aluna bahkan menutup matanya tidak ingin melihat amukan suaminya.
"Jadi karena masalah mobil yang kau berikan sebagai hadiah ulang tahun temanmu membuat kamu tidak pulang? " Arka bahkan berdecak.
"Apa kamu takut aku akan memarahimu. Makanya kamu bersembunyi disini? " Aluna hanya mengangguk membenarkan ucapan suaminya. Arka mendekati Aluna, namun Aluna mulai mundur ke sisi ranjang.
"Kemarilah. " Arka sudah duduk diranjang dan menatap Aluna yang menggeleng kepalanya, tetap menghindari suaminya.
"Luna kemarilah. " Suaranya bahkan melembut memanggil Aluna. Mau tidak mau Aluna mendekat kearah Arka. Aluna pikir Arka akan memarahinya namun laki - laki itu malah menciumnya.
__ADS_1
" Ini hukuman karena kau telah membuatku kuatir. " Satu ciuman dibibir Aluna. Setelah dirasanya nafas Aluna tersengal. Arka hanya memberinya waktu untuk bernafas saja.
"Ini hukuman karena kau tidak pulang ke rumah. " Sekali lagi mencium bibir Aluna seperti tadi.
" Ini hukuman karena kau mulai menyuruh temanmu membohongiku. " Ciuman terakhir dan cukup lama.
"Apa kau tidak menghukumku karena mobilmu itu. " Aluna bertanya ragu - ragu.
"Soal itu aku akan menghukummu dirumah. " Ucap Arka setengah berbisik kepada Aluna. Dia mengatakan hal itu dengan tersenyum.
"Aku tidak mau pulang kalau begitu. " Aluna mulai menjatuhkan tubuhnya diranjang.
"Kalau begitu aku akan menghukummu disini. " Arka mulai mendekati istrinya dan hukuman itupun terjadi. Frans dan Santi hanya pura - pura tidak mendengar suara kucing dan tikus didalam kamar.
Arka tersenyum puas melihat peluh yang mengucur diwajah kesal istrinya.
Setelah merapikan pakaian mereka, Aluna dan Arka sudah keluar dari dalam kamar. Santi dan Frans sontak berdiri bersamaan melihat kedua orang yang sudah berpegangan tangan.
"San aku pulang dulu. Maaf aku tidak jadi menginap. " Santi hanya mengiyakan. Sebelum berlalu dari Santi, Aluna memutar sedikit badannya kearah Santi " Maaf aku telah menodai ranjangmu. " Ucapnya setengah berbisik agar tidak didengar orang lain. Bahkan dengan malu - malu dia mengatakan hal itu. Arka yang berada disamping Aluna tersenyum mendengar ucapan istrinya.
Sepanjang perjalanan, Aluna tertidur dipangkuan suaminya. Arka hanya membelai wajah istrinya dengan sangat lembut. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Frans hubungi pak Tomy. Katakan padanya dia boleh mengambil mobil itu karena Aluna sudah memberikan mobil itu sebagai hadiah ulang tahun putrinya. "
"Baik tuan"
Sesampainya dirumah Arka membangunkan Aluna. Aluna pun bangun dan keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Maaf aku membangunkanmu. Makanlah dulu sebelum tidur. " Ucap Arka pada Aluna yang sudah memasuki rumah mereka. Arka tahu istrinya belum makan malam dan menghubungi pelayan untuk menyiapkan makan malam sebelum mereka sampai.