
Jam dinding kantor menunjukan pukul 19:30 saat Alka mulai beranjak dari ruangan kerjanya. Dia ingin segera pulang dan menemui Maura. Tidak jauh dari kantor, Alka mampir sebentar di toko Bunga. Mawar putih dipadukan dengan mawar merah merupakan pilihan Alka.
"Vi, aku pengen ngomong sama kamu. Keluar bentar, aku tunggu dekat cafe shop dekat apartemen kamu. " Dalam perjalanan Alka mengirim pesan itu pada Violin. Alka tahu saat ini Violin ada di Apartemennya, karena tadi gadis itu mengabari Alka lewat sebuah pesan, ketika Alka menanyakan keberadaan gadis itu.
"Langsung ke apartemen aku aja sayang. " Alka sejenak berpikir setelah membaca balasan pesan dari Violin.
"Kamu tenang aja, ada manager aku kok disini. " Karena Violin tahu, Alka tidak akan menemui dirinya jika hanya berdua di apartemen. Violin juga mengirim sebuah foto sang Manajer yang tenga berbaring di sofa kamarnya. Violin hanya meyakinkan Alka bahwa benar - benar ada sang manager di apartemennya.
Alka melajukan kecepatan mobil yang dikendarainya, Alka ingin secepatnya menyelesaikan urusannya dengan Violin.
***
"Vi, maaf sebelumnya. " Alka menggenggam tangan Violin. Violin menatap Alka dengan penuh tanda tanya. Mereka kini tengah duduk di ruang tamu apartemen Violin.
" Aku sudah berusaha semampu aku untuk bisa mencintai dirimu. " Alka tahu ini akan menyakiti Violin, tapi di satu sisi Alka harus melakukan ini. Dia tidak bisa terus menerus menyakiti Maura, menyakiti dirinya sendiri dan menyakiti Violin tentunya. Violin bisa menemukan pria yang bisa mencintainya dan itu tentu bukan Alka.
" Apa yang kamu katakan sayang. " Violin langsung menutup telinganya, tidak ingin mendengar kalimat apa lagi yang akan Alka ucapkan.
"Aku tidak mau mendengar apa - apa lagi. " Pungkasnya.
__ADS_1
" Vi, Please." Alka bahkan memohon.
" Aku tidak mencintai kamu Vi. Kamu bisa mendapatkan laki - laki lain lain yang bisa mencintai kamu. " Violin langsung berdiri dari duduknya.
" Tidak ada laki - laki yang bisa menerima aku Al, kamu tahu sendiri karena menyelamatkanmu waktu itu, aku bahkan tidak bisa lagi mengandung." Cara ini selalu berhasil membuat Alka tidak bisa meninggalkan Violin.
" Aku tahu itu Vi, aku memang hutang nyawa sama kamu. Nyawa pun aku akan memberikannya untukmu. Tapi tidak dengan hatiku Vi. Aku... " Sejenak Alka berpikir. Namun memang sudah saatnya semuanya harus diakhiri.
"Aku mencintai gadis lain. " Akhirnya Alka mengatakannya.
Violin terlihat tidak terima.
" Maura. "
"Aku mencintai Maura Vi, aku sudah berusaha melupakan gadis itu. Aku pikir perasaanku padanya, hanya karena aku dan dia tumbuh dewasa dan selalu menghabiskan waktu bersama saat kecil dulu. Tapi saat aku bertemu lagi dengannya dan saat dia memilih mengalah dan melepaskan aku. Aku sadar , aku tidak bisa melepaskannya. Aku mencintainya Vi, jauh sebelum kamu masuk dalam kehidupanku. "
Violin duduk kembali dan menangis sambil wajahnya dia benamkan pada kedua kakinya yang bertumpuk.
" Kamu tidak mau kan, hidup dengan laki - laki yang raganya ada denganmu tapi hatinya menyimpan gadis lain. " Alka mencoba memberi pengertian sambil mengelus punggung Violin.
__ADS_1
"Aku nggak perduli Al. " Violin mengangkat wajahnya menatap Alka. Sudah dari dulu Violin tidak perduli akan hal itu.
" Kalau kamu benar - benar mencintai aku, aku mohon biarin aku bahagia Vi. " Bagi Alka kalimatnya barusan terdengar brengsek. Tapi dia sudah banyak mengalah selama ini.
" Bagaimana dengan kebahagiaan aku Al? " Tanya Violin yang membuat Alka menutup matanya berpikir.
" Kamu akan bahagia Vi dengan atau tanpa aku." Violin tidak senang mendengar ucapan Alka barusan. Baginya Alka adalah kebahagiaannya. Violin mengangkat wajahnya menatap Alka dengan alis yang bertautan pertanda dia tidak senang dengan ucapan Alka.
"Pokoknya aku nggak mau pisah sama kamu Al. Aku nggak mau. " Violin tetap pada pendiriannya. Gadis itu berdiri dari duduknya, sekali lagi dia mencoba menghindar seperti biasanya. Hendak menuju kamarnya, namun Alka langsung mengejar dan menahannya.
" Hubungan kita sudah berakhir Vi, suka atau tidak suka, kamu harus bisa menerimanya Vi. " Kali ini Alka harus lebih tegas.
"Aku nggak mau Al. " Violin menahan pergelangan tangan Alka. Suaranya sudah meninggi, Managernya bisa mendengar apa yang terjadi di luar kamar itu, namun dia memilih diam dan tetap berada di dalam kamar.
" Maaf Vi. " Alka melepaskan pegangan tangan Violin. Walaupun Violin menggeleng, agar Alka tetap bertahan di sampingnya, namun Alka sudah bertekad. Alka melangkah pergi meninggalkan Violin yang masih memanggil namanya.
" Maaf Vi. " Gumam Alka dalam hati.
------- Jangan di Bully karena baru muncul setelah sekian ribu purnama _____😂🤭🙏🏻🙏🏻
__ADS_1