Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
MENCURI


__ADS_3

Sepertinya Arka sangat bahagia menjadi calon ayah. Perut Aluna masih rata, tapi dia sudah menyiapkan kamar bayi. Kalau saja Aluna tidak melarangnya, mungkin saja kamar itu sudah penuh dengan perlengkapan bayi dan juga mainan.


"Aku hanya ingin yang terbaik untuk anak kita sayang. " Ucapnya memelas ketika tadi Aluna melarangnya untuk menyuruh Frans membeli semua perlengkapan bayi, mulai dari box bayi, pakaian dan mainan.


"Sayang aku tahu. Tapi ini terlalu cepat. Nanti kalau usia kandunganku udah tujuh bulanan, baru qta beli perlengkapan bayinya. Satu lagi, kita berdua yang bakal beli semuanya, nggak pake orang lain walaupun itu sekertaris Frans. " Kali ini Arka mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.


***


Jam menunjukkan pukul 02 dini hari, disaat Aluna terjaga dari tidurnya. Suaminya masih terlelap disampingnya sambil memeluknya.


" Sayang bangun... " Arka langsung membuka matanya ketika Aluna membangunkannya. Dulu waktu Aluna belum hamil, Aluna harus beberapa kali membangunkan suaminya itu jika perlu sesuatu atau karena ada panggilan telpon ditengah malam. Tapi semenjak Aluna hamil jangankan Aluna membangunkannya, Aluna yang kadang bicara sementara tidurpun Arka langsung terbangun. Dia sangat sensitif, takut - takut terjadi sesuatu dengan Aluna.


"Iya sayang, apa ada yang sakit?" Walaupun dia terlihat masih sangat mengantuk, namun dia berusaha membuka matanya dan duduk memposisikan tubuhnya didekat istrinya yang sudah ikut duduk disisi ranjang.


"Aku ingin sesuatu. " Arka meraih ponselnya diatas nakas, melihat jam yang ada dilayar ponselnya. Muda - mudahan istrinya hanya minta dimasakin nasi goreng seperti tadi pagi.


"Kamu mau apa sayang? " Tanyanya ragu - ragu. Sementara Aluna sudah berbinar. Dia tahu suaminya ini selalu memenuhi semua keinginannya semenjak tahu Aluna mengandung dan butuh perhatian eksra.


"Aku ingin makan buah mangga." Ragu - ragu Aluna mengatakannya. Karena Aluna yakin suaminya ini tidak akan mengijinkannya.


"Sayang makannya besok yah, setelah sarapan atau makan siang. " Arka mengelus pipi istrinya. Dia bukannya tidak ingin membawakan buah mangga itu kehadapan istrinya saat ini. Karena Arka ingat didalam lemari es, ada beberapa buah mangga yang dibelinya sepulang kantor karena permintaan Aluna. Tapi ini jam 02 malam loh, ngga baik untuk perut Aluna, pikir Arka.


"Aku maunya sekarang. " Wajah Aluna memelas.

__ADS_1


"Besok yah sayang. Ayo tidur lagi. " Arka hendak menidurkan istrinya, namun Aluna malah menepis tangannya.


"Kamu nggak sayang yah sama anak kamu. Dia yang minta loh bukan aku. " Rengek Aluna masih dengan wajah memelas.


"Yah Tuhan, apa ini yang dinamakan ngidam? " Arka tahu itu karena dia sudah bertanya pada dokter kandungan dan juga kepada Adit yang notabenenya seorang dokter walaupun bukan seorang dokter spesialis kandungan. Tapi setiap dokter pasti tahu hal - hal mengenai kehamilan.


"Kalau kamu tidak mau biar aku cari sendiri. " Ucap Aluna mulai turun dari ranjang.


"Baiklah, kamu tunggu disini aku yang akan kedapur mengambil mangga buat kamu. " Ucap Arka menahan pergelangan tangan istrinya.


"Aku ikut. "


***


"Sayang kamu serius? " Kali ini Arka yang memelas.


"Aku serius sayang. Aku mau yang itu. " Menunjuk pohon mangga milik tetangganya.


"Apa tidak bisa, kalau aku suruh pengawal mengambilnya. "


"Nggak, aku mau kamu yang ambil. Aku kan hamil anak kamu bukan anak pengawal kamu. "


" Tapi sayang pemiliknya pasti sedang tidur, nggak enak kalau dibangunin. Makan mangga yang ada aja yah. " Arka masih mencari cara untuk membujuk istrinya ini untuk bisa makan mangga yang ada di rumahnya.

__ADS_1


"Nggak, aku pengen yang itu. " Lagi - lagi menunjuk mangga yang bergantungan dipohonnya. "Yang dirumah udah lembek, aku nggak suka. "


"Tuan ini saya bawah bambu. Jadi tuan tidak perlu masuk meminta ijin pemiliknya. Tuan bisa mengambilnya dari sini. " Ide yang diberikan pengawal disetujui Aluna sedangkan Arka malah memarahi pengawal karena memberi ide gila menurutnya.


"Inikan mencuri namanya. "


"Ayolah sayang cepat, ide pengawal kamu bagus kok. " Akhirnya dengan ragu - ragu Arka mengarahkan bambu yang diberikan pengawal tadi ke pohon mangga yang cabangnya keluar dari pekarangan rumah pemiliknya.


"Ya Tuhan, sejak kapan aku jadi pencuri dan yang aku curi hanya beberapa buah mangga yang bakan bisa kubeli sekalian dengan swalayannya. " Gerutu Arka yang masih berusaha mengambil buah mangga dengan bambu tadi. Aluna disampingnya hanya tersenyum sambil sesekali memberikan semangat kepada suaminya yang bahkan sudah bermandikan keringat karena usahanya sedari tadi tidak berhasil.


Hingga akhirnya, Aluna bersorak senang ketika dua buah mangga jatuh tidak jauh dari keduanya. Namun disaat Aluna hendak mengambilnya terdengar pemilik rumah membuka pintu rumah mereka. "Siapa itu?" Arka langsung mengambil mangga itu dan menyuruh Aluna naik ke punggungnya dan mereka kabur ketika pemilik rumah itu mulai keluar pagar.


***


"Sayang tadi itu seru. " Ucap Aluna berbinar, disaat suaminya hampir saja kehilangan nafasnya karena menghindari teriakan maling yang dilayangkan pemilik buah mangga tadi. Namun istri kesayangannya yang sementara asik menikmati mangga mudanya, dengan tanpa berdosanya mengatakan kejadian tadi seru.


" Oh Tuhan muda - mudahan istriku besok - besok tidak ngidam yang aneh - aneh lagi. " Berdoa dalam hati.


Arka mendekatkan tangannya keperut Aluna, mengelusnya dengan lembut. "Sayangnya daddy, daddy harap kamu sehat - sehat yah disana. Jangan nyusahin mommy yah nak. " Padahal dia ingin bilang jangan nyusahin daddy. Namun takut, macan disampingnya mengamuk.


________


Maaf yah kalau sering lama uploadnya, soalnya saya punya penyakit yang mendarah daging yaitu penyakit malas. Jadi kadang saya malas berfikir dan malas menulis. Hahaha maaf

__ADS_1


__ADS_2