Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
MENEMUKAN ALUNA


__ADS_3

Aluna hari ini berencana melamar pekerjaan. Toko, cafe dan rumah makan adalah target Aluna mencari pekerjaan. Karena Aluna sadar ijasah terakhir yang dimilikinya hanya cocok dengan pekerjaan sebagai karyawan toko, cafe dan pelayan di rumah makan. Aluna tidak berharap lebih, dia hanya ingin bekerja dan menghasilkan uang. Satu prinsipnya adalah mendapat pekerjaan halal.


Hari ini Aluna hanya mencari lowongan pekerjaan yang dekat dengan kontrakan Santi. Agar supaya dia bisa menghemat uang untuk ongkos kesana kemari jika dia sudah diterima ataupun belum diterima kerja.


Santi hari ini tidak bisa menemaninya mencari pekerjaan karena hari ini Santi juga bekerja ditempat yang selama ini menjadi tempatnya mengais rejeki. Walaupun Santi sudah meminta Aluna untuk menunggunya sepulang kerja untuk menemani Aluna mencari pekerjaan. Tetapi Aluna mengatakan bahwa tidak apa - apa dia mencari pekerjaan sendiri. Setelah meyakinkan Santi bahwa dia akan baik - baik saja, akhirnya Santi mengijinkan Aluna mencari pekerjaan sendiri dengan syarat hanya yang dekat dengan kontrakan Santi agar Aluna tidak tersesat. Jikapun Aluna tersesat Santi akan mudah mencari dan menemukannya.


Akhirnya setelah beberapa tempat yang dia tuju untuk melamar pekerjaan akhirnya dia diterima disalah satu cafe. Aluna sangat gembira dan berterima kasih kepada pria yang memakai kacamata yang telah menerimanya bekerja. Aluna diterima bekerja karena dia memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Mengingat cafe ini banyak didatangi para turis dan juga bos - bos besar yang mengadakan meeting jadi diperlukan karyawan cafe yang bisa menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional.


Aluna akan mulai bekerja pada esok hari. Aluna sangat bahagia dengan pekerjaan yang dia dapat. Mengingat Cafe yang nantinya menjadi tempatnya mencari rejeki adalah cafe yang bisa dibilang kekinian dengan desain modern dan cukup diminati orang - orang kalangan atas. Terlihat dari beberapa sudut meja dengan sofa - sofa cantik yang sudah berjejer orang - orang untuk sekedar menikmati menu cafe dan juga ada yang terlihat membahas suatu pekerjaan dengan laptop yang menyala di atas meja cafe di suatu ruangan privat. Aluna melihat itu ketika pelayan cafe mengantar pesanan ke salah satu ruang.


Santi merasa bahagia, sahabatnya sudah mendapatkan pekerjaan. Tadi sepulang Santi bekerja Aluna menceritakan perihal tentang dirinya yang telah diterima bekerja. Aluna menceritakan dengan antusias sehingga mengembangkan senyum di wajah sahabatnya. Mereka bercerita sampai keduanya mengantuk dan terlelap.


Keesokan harinya Aluna sudah bangun sangat pagi. Setelah membuat sarapan untuknya dan Santi dia bergegas menuju kamar mandi untuk mandi. Aluna tidak ingin terlambat di hari pertama dia bekerja dan membuat kesan buruk bagi pemilik cafe.


Setelah selesai mandi dan ganti baju Aluna membangunkan sahabatnya yang masih meringkuk di dalam selimut berwarna coklat. Santi kaget karena sahabatnya sudah rapi dan sudah siap berangkat kerja. Santi meraih jam tangan yang ada disamping tempat tidurnya, Santi berfikir dia sangat terlambat bangun. Kekuatirannya menghilang ketika jarum jam masih menunjukkan pukul 06:30 pagi.


"Ternyata Aluna yang bangun terlalu pagi." Gumam Santi sambil bangun dari tidurnya dan mencari sosok sahabatnya.


"San aku berangkat kerja dulu. Udah ada sarapan dimeja" Teriak Aluna yang sudah sarapan terlebih dulu dan memakai sepatu di depan kontrakan yang memiliki kursi dan meja kecil.


"Kok udah mau pergi Lun? apa ini tidak kepagian?" Tanya Santi yang masih melingkarkan handuk menyusul Aluna di depan pintu.


" Nggak apa - apa San. Aku berangkat yah" Ucap Aluna dengan tersenyum manis kepada sahabatnya yang masih berdiri mematung di pintu.


"Baiklah. Hati - hati di jalan. Jangan lupa kabari aku." Ucap Santi sambil melambaikan tangan kepada Aluna yang sudah beberapa meter berjalan. Santi tidak bicara lagi, dia hanya tersenyum ke arah Aluna yang semakin jauh dari matanya.


"Semangat Aluna." Teriak Santi walaupun tidak didengar lagi oleh Aluna.


Sesampainya di cafe, Aluna mengganti pakaiannya dengan seragam yang sudah dipersiapkan pemilik cafe. Walaupun jam kerja belum di mulai namun cafe sudah di buka. Aluna merupakan karyawan pertama yang datang dan langsung membersihkan cafe menyapu dan membersihkan beberapa meja. Setelah tamu berdatangan Aluna menyambut mereka dengan ramah dan dengan senyum menghiasi bibir yang sengaja dia beri warna pink. Pemilik cafe yang juga datang pagi sangat senang dengan kinerja Aluna. Dia berharap Aluna tidak hanya seperti itu di hari pertama bekerja tetapi Aluna dapat mempertahankan kinerjanya selama bekerja di cafe tersebut.


Sudah seminggu Aluna bekerja di cafe. Aluna sudah memiliki teman yang tak lain adalah sesama karyawan cafe. Mereka menerima Aluna dengan baik karena Aluna mampu bersosialisasi dengan baik dan mudah berteman dengan siapa saja.


Hari ini Aluna diminta mengantarkan beberapa minuman diruang VIP privat. Aluna membawa nampan yang berisi minuman itu dengan sangat hati - hati mengingat tamu yang ada di ruangan itu adalah bos besar sebuah perusahaan. Aluna tersenyum menghampiri kedua pria dengan memakai setelan jas dan kelihatannya sedang menunggu seseorang.


"Permisi, tuan ini pesanan anda." Aluna menaruh minuman dan beberapa cake coklat yang di pesan ke atas meja berbentuk bundar tersebut. Terlihat kedua pria itu menatap Aluna dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Setelah selesai mengatur pesanan di atas meja, Aluna permisi kepada kedua orang itu.


Setelah langkah pertama Aluna kaget karena pergelangan tangannya ditahan oleh seorang pria yang lebih muda dari pria yang satunya.


"Duduklah dan temani kami minum." Pinta pria tubuh besar dengan setelan jas berwarna coklat tua kepada Aluna.

__ADS_1


"Maaf tuan tugas saya hanya melayani pesanan tamu." Sahut Aluna dengan sopan.


"Kalau begitu saya pesan seorang gadis dan gadis itu kamu." Ucap salah satu pria yang menurut Aluna seumuran dengan Almarhum Ayahnya. Pria itu terlihat genit dan tersenyum kearah Aluna.


"Maaf tuan disini tuan hanya bisa memesan makanan dan minuman." Jawab Aluna masih dengan sopan dan tersenyum. Aluna tidak ingin merusak reputasi cafe di depan tamu jika dirinya bertindak tidak sopan kepada tamu.


"Tapi saya mau anda nona." Ucap pria berjas coklat yang menarik pergelangan Aluna dengan kasar membuat Aluna terduduk di kursi sofa diapit kedua pria disisi kanan dan kirinya.


"Maaf tuan tolong jangan kurang ajar." Aluna berusaha melepaskan tangannya dari genggaman laki - laki disamping kanannya.


"Tidak usah sok mahal. Gadis seperti kamu bisa saya beli." Ucap laki - laki itu dengan tertawa keras.


"Kamu bisa melayani kami secara bergantian. Jika servis kamu bagus, kami akan memberi kamu bonus." Ucap pria disamping kanan Aluna.


"Maaf tuan saya bukan gadis seperti itu. Jika tuan ingin membeli perempuan, berapa harga yang pantas untuk perempuan yang melahirkan tuan? " Jawab Aluna yang sudah mulai kehabisan sabar.


"Hei, kamu sudah mulai tidak sopan kepada tamu yah. " Ucap Pria di kiri Aluna.


"Maaf tuan saya tidak berani." Sahut Aluna dengan menunduk.


"Biarkan saya pergi tuan, masih ada tamu yang menunggu pesanan mereka." Kilah Aluna yang mencoba berdiri dan keluar. Tetapi usahanya gagal karena laki - laki itu justru semakin mendorongnya ke sofa. Aluna sekuat tenaga melawan kedua laki - laki yang mulai kurang ngajar memegang pahanya.


"Tuhan tolong... Sita tolong. " Aluna berharap Tuhan akan menolongnya dengan mendatangkan Sita teman sekerjanya.


Tiba - tiba pintu terbuka dan dua orang pria muda dengan setelan jas masuk ke ruang itu. Sehingga menghentikan kedua pria yang hendak mencumbu Aluna.


"Oh jadi kalian sedang bersenang - senang?" Tanya pria muda dengan tersenyum sinis kepada kedua pria yang menunggu kedatangannya.


"Maaf tuan Arka. Kami hanya bosan menunggu. Jadi kami sekedar ingin bermain - main dengan gadis ini.


"Siapa kedua pria ini. Apa mereka juga akan bergabung dengan kedua pria kurang ajar ini. Mama benar hidup di kota tidak baik untukku." Aluna ingat kata - kata ibunya dan air matanya mulai membanjiri pipinya.


"Oh jadi kau bosan menungguku?" Tanya Arka kepada pria itu, sesekali matanya menatap gadis yang seakan memohon kepadanya.


"Maaf bukan begitu tuan. Anu..." Pria itu tidak mampu berkata, dia sudah salah menyinggung tuan Arka yang terkenal dengan sebutan pria yang tidak memiliki perasaan.


"Sekertaris Frans, Batalkan kerja sama dengan kedua klien itu." Arka menunjuk dengan jari telunjuk kearah kedua pria yang masih menggenggam tangan Aluna. Seketika keduanya kaget dan bersimpuh di kaki Arka.


"Tuan maaf kami salah. Tolong tuan jangan batalkan kerja sama dengan perusahaan kami. " Pinta kedua laki - laki itu dengan menyatukan kedua tangan mereka memohon kepada Arka

__ADS_1


"Hei Ladies, haruskah aku menerima kerja sama dengan perusahaan mereka?" Tanya Arka kepada Aluna yang heran sekaligus senang menatap kedua bajingan yang berusaha kurang ajar kepadanya memohon seperti dirinya tadi.


"Silakan kalian memohon kepada gadis itu." Jika dia setuju, maka saya juga setuju." Ucap Arka santai sambil melipat kedua tangannya di dada. Sedangkan Frans hanya menatap tuannya tidak bergeming.


Kedua laki - laki tadi sekarang beralih kepada Aluna dan memohon agar Aluna mengatakan setuju kepada Arka.


"Nona katakan setuju kepada tuan Arka." Ucap salah satu pria dan di iyakan pria yang satunya. Arka hanya menatap santai kedua orang yang bersimpuh di kaki Aluna. Aluna tidak bicara sepatah katapun karena dia juga bingung dengan apa yang terjadi. Sesekali dia menatap pria yang menyilangkan kakinya dengan tersenyum sinis diujung bibirnya. Seakan tidak perduli dengan apa yang dilihatnya.


"Waktu kalian tinggal 1 menit, jika dalam waktu 1 menit kalian tidak mendapat jawaban dari gadis itu maka aku akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan kalian dan kalian tahu apa akibatnya jika aku membatalkan kerjasama dengan perusahaan kalian? Maka perusahaan lainpun tidak akan mau bekerja sama dengan kalian. " Kedua pria itu keringat dingin mendengar ucapan Arka.


"Nona tolong bicaralah kepada tuan Arka." Pinta pria yang sesekali mengusap air keringat di dahinya.


"59 Detik." Ucap Arka yang semakin membuat panik kedua pria itu.


"Nona..." Pria yang satunya berteriak kepada Aluna.


"30 detik." Ucap Arka tanpa menoleh kepada kedua pria itu.


"10 detik" Ucap Arka kembali dan membuat kedua pria itu mencengkram erat tangan Aluna yang tak kunjung bicara.


"5 , 4 , 3 , 2, 1 Waktu kalian habis." Kedua pria itu terduduk dilantai mendengar ucapan Arka.


"Frans hubungi perusahaan lain yang bekerjasama dengan kita, beritahu mereka jangan menerima kerja sama dengan dua perusahaan milik kedua pria ini. Jika mereka berani main di belakangku. Maka hancurkan juga perusahaan itu sampai tidak tersisa." Ucap Arka santai yang membuat kedua pria itu menggenggam lutut mereka.


"Pergilah sebelum kesabaranku habis." Ucap Arka kembali dan kedua pria itu langsung lari keluar.


Setelah kedua pria itu keluar Aluna hendak keluar meninggalkan Arka dan juga sekertaris Frans diruang itu.


"Tunggu" Ucapan Arka menahan langkah kaki Aluna.


"Iya tuan ada yang bisa saya bantu?" Sahut Aluna sopan kepada Arka.


"Apa kau yang bernama Aluna?" Tanya Arka mengangetkan Aluna.


"Mengapa tuan ini tahu namaku? "


Siapa sebenarnya dia? batin Aluna.


"Iya saya Aluna tuan." Aluna takut - takut menjawab.

__ADS_1


Setelah ayahnya meminta Arka mencari Aluna hanya hitungan jam Arka dapat mengantongi wajah gadis itu melalui Cctv bandara dimana Aluna terakhir berpisah dengan Ardian dan gadis yang bernama Santi yang ternyata bekerja di salah satu hotel milik Arka. Mempermudah sekertaris Frans mencari petunjuk gadis yang dicari ayah tuannya. Setelah mendapat petunjuk dari Santi tentang Aluna yang bekerja di cafe dan pertemuan dengan klien di cafe tersebut maka Arka dan sekertaris Frans menuju cafe itu.


__ADS_2