
Arka dan ibu Asmita sudah beberapa kali dibujuk untuk setidaknya mengisi perut mereka yang tidak terisi semenjak kemarin. Namun keduanya tetap bergeming, sambil menggeleng lemas.
Arka beberapa kali tidak sadarkan diri, disaat dia mulai menangis dengan histeris. Dia tidak mampu menerima kenyataan ini. Masih teringat jelas diingatannya, disaat dia dan Aluna baru saja memberikan nama untuk calon anak mereka. Kebahagiaan yang baru saja menghampiri keluarga kecil mereka, harus direngut secara paksa oleh takdir.
Ibu Asmita jauh lebih tegar atau mungkin dia hanya berusaha tegar menerima semua ini. Tante Ira senantiasa memberi topangan dan dukungan untuk sang kakak. Sedangkan Mira dan Nara keduanya tetap menangis sesegukan, semenjak tadi pagi mereka tiba di Jakarta. Nenek Ami juga terpukul, mendengar berita itu. Namun karena fisiknya yang lemah, dia hanya bisa mendoakan Aluna dari jauh. Om Ben yang menemaninya.
"Kau tidak becus menjaganya. " Datang seorang pria yang sama hancurnya dengan Arka, menarik kerak baju Arka dan melayangkan satu pukulan keras diwajah Arka. Arka tidak membalasnya, pikirannya kosong dan benar dia memang gagal menjaga Aluna.
"Bryan sudah, saya mohon jangan buat keributan disini. Kasihan anak saya. " Ibu Asmita seketika menangis. Membuat Bryan melepaskan tangannya dari kerak baju Arka. Memilih keluar dari dalam rumah Arka. Bukan karena dia masih kesal, tapi karena dia tidak mampu melihat jasad Aluna.
Sejauh ini Aluna masih menempati hatinya.
Bryan menangis, kenangannya dengan Aluna seakan menari indah diingatannya.
Bryan menghapus air matanya, ketika merasakan tepukan lembut di bahu laki - laki itu.
"Menangislah. " Bryan menoleh. Yang menepuknya adalah Santi. Santi sudah datang semenjak semalam. Dia juga sama terpukulnya mendengar kabar yang menimpa Aluna.
"Kenapa dia harus pergi San? Aku iklas dia meninggalkan aku. Tapi aku tidak iklas jika dia harus pergi dengan cara seperti ini. "
"Aku baru mengijinkannya berbahagia dengan suaminya, tapi apa ini. Dia memilih pergi. " Santi masih menepuk, memberikan dukungan. Walaupun dia juga sebenarnya sangat kehilangan.
***
Rumah itu seakan pecah dengan tangisan, ketika jasad Aluna dibawah ketempat peristirahatannya yang terakhir.
__ADS_1
"Jangan bawa istriku. " Cegahnya sambil merangkul jasad Aluna.
"Jangan berani mendekat atau kubunuh kalian. " Ayah Ardian bahkan hancur melihat putranya.
"Ar, jangan menyusahkan Aluna. Kasihan dia, kalau kamu kayak gini. " Ini suara Bryan yang berusaha menenangkan Arka. Walaupun dia juga akan melakukan hal yang sama jika diposisi Arka saat ini.
"Kau nggak sayang sama Luna? Mereka mau membawanya pergi. Dia akan sendirian disana. " Masih sangat erat menahan jasad Aluna.
"Ar kamu harus kuat. Aluna akan sedih melihat kamu kayak gini. Apa kamu nggak sayang sama dia? " Kedua laki - laki yang sama - sama mencintai Aluna itu berdebat. Yang satu berusaha mempertahankan dan yang satu berusaha merelakan.
"Dia bakalan sakit, kalau kamu nggak iklas melepaskan dia. " Arka sepertinya mulai melonggarkan tangannya. Apa yang dibilang Bryan benar, dia tidak boleh membiarkan istrinya kesakitan.
Disaat Arka mulai lengah, Bryan menahan kedua tangannya dan memberi kode untuk pengawal Arka, membawa segera jasad Aluna. Arka yang baru menyadari ingin kembali mencegah namun sudah ditahan Bryan dan juga ayahnya.
***
Sepulang dari pekuburan Aluna, Arka masuk kedalam kamarnya. Mengurung diri disana.
Bahkan bajunya yang setiap malam dicium Aluna, masih ada di ranjang kamarnya.
Lagi - lagi laki - laki itu beruarai air mata mengingat semua tentang Aluna. Bagaimana istrinya itu merajuk ketika Arka tiduran tengkurap. Sengaja menggoda istrinya yang ingin sekali mengendus perpotongan lehernya. Arka tidak sanggup kehilangan istrinya, dia belum siap untuk ini semua.
Arka meraih laptop disisi ranjang. Laptop yang menemani istrinya dikalah suntuk.
Dengan ragu dia membuka folder foto yang bertuliskan my hubby. Sederet foto Arka yang diambil Aluna secara diam - diam. Kebanyakan saat laki - laki itu sedang tidur terlelap. Beberapa foto yang terlihat Aluna sedang mencuri menciumnya disaat Arka terlelap tanpa mengenakan baju. Arka tahu itu diambil Aluna setelah mereka berhubungan badan semalaman. Bahkan wanita itu tersenyum, karena dia berhasil mencium Arka tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
Arka menutup laptop itu, dia sudah tidak mampu melanjutkannya. Air matanya kini membanjiri pipinya. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menghimpit disana.
Jam makan malam bahkan kembali ia lewati.
"Aluna takut gelap. " Arka seketika berlari keluar, membuat heran keluarganya yang masih duduk diruang keluarga.
"Frans. " Teriaknya dengan suara lantang. Semua orang menatapnya.
"Iya tuan. " Frans muncul dari arah depan.
"Siapkan mobil. " Perintahnya, membingungkan Frans dan keluarganya. Mereka seperti bertanya akan kemana Arka ditengah malam seperti ini. Frans mengiyakan dengan ragu - ragu, walaupun dia tidak tahu kemana tujuan tuannya.
"Arka, kau mau kemana malam - malam begini nak. " Ayah Ardian mendekati anaknya yang nampak kacau. Bahkan baju yang dipakainya masih baju yang sama , waktu dia dan Frans kembali dari Bandung.
"Aku mau nemanin Aluna ayah. Aluna takut gelap. " Ucapnya membuat semua orang terkejut.
"Arka pergi dulu ayah. Aluna suka menangis kalau ketakutan. " Berlalu meninggalkan semua keluarganya yang tampak terkejut dengan apa yang akan dilakukannya. Ayah Ardian boleh sedikit lega karena Arka mengajak Frans bersamanya.
_______________
Jadi githu dulu.
Intinya aku akan berusaha bikin ceritanya happy ending bukan sad ending. wkwkwk
Ngga tahu deh kalau masih ada Alunanya.
__ADS_1