
Setelah mengantar Fiona, Bryan langsung pulang ke rumah dan ayahnya juga sudah sampai di rumah.
" Kau sudah pulang Bryan? " Tanya Ayahnya.
"Seperti yang papa lihat. " Jawab Bryan sembari melangkah ke kamarnya. Bryan memang masih marah kepada ayahnya.
"Bryan bisakah kita bicara sebentar? " minta Indra Wijaya kepada anaknya.
Bryan menghentikan langkahnya.
"Apa masih ada lagi yang perlu kita bicarakan?Bukankah tiada gunanya kita bicara karena pada akhirnya hanya keputusan papa yang final. " Bryan berbicara tanpa menoleh kepada ayahnya. Kemudian dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Sementara ayahnya tidak lagi menahannya untuk bicara karena apa yang dibilang Bryan ada benarnya.
Setelah mengganti pakaiannya, Bryan menghubungi Aluna. Dia sudah bertekad akan menjelaskan dengan jujur pada Aluna perihal ketidak hadirannya hari ini. Sudah tiga kali dia menghubungi nomor Aluna tapi gadis itu tidak mengangkat teleponnya.
"Apakah dia marah? " . Batin Bryan.
Bryan kembali menghubungi Aluna dan akhirnya diangkat.
__ADS_1
"Hallo sayang... "
" Hallo Kak Bryan. Ini Mira, bukan sayangnya kak Bryan " Jawab Mira dari ujung telepon milik Aluna.
"Oh itu kamu dek, maaf kak Bryan pikir Luna. Bisakah Ka Bryan bicara dengan Luna? " pinta Bryan kepada Mira. Sedangkan Aluna hanya mendengarkan dari bawah selimut karena memang dia yang meminta Mira untuk mengangkat telepon dari Bryan. Aluna yang mendengar bahwa Bryan ingin bicara dengannya hanya menggelengkan kepala sambil membuat kepalanya bertumpu pada dua tangan yang dia satukan, pertanda bahwa Mira harus mengatakan pada Bryan kalau dia sudah tidur. Aluna bisa mendengar Bryan bicara karena Mira sengaja mengaktifkan pengeras suara.
"Ka Lunanya udah tidur dari tadi kak Bryan. " Jawab Mira sesuai dengan petunjuk Aluna.
"Oh, udah tidur yah. Baiklah kalau begitu nanti kak Bryan telepon lagi. Tolong bilangin Luna kalau Kak Bryan telpon "
"Ok Kak. " Jawab Mira lalu mematikan sambungan telepon Bryan.
"Kak Luna kan udah dengar sendiri. Kecuali kak Luna ngga bisa dengar apa yang dari tadi Kak Bryan ngomong. Udah Mira speaker juga. " Jawab Mira seraya menggoda sepupunya.
"Iya kak Luna dengar bawel. " Jengah Aluna kepada Mira.
" Kak Luna kenapa ngga mau ngomong sama Kak Bryan? Kak Luna marah yah sama Kak Bryan? tanya Mira kembali.
__ADS_1
Aluna menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Kak Luna ngga marah, kak Luna hanya kecewa aja. Apa alasan Bryan sampai dia ngga bisa datang di hari ini? Hari dimana dia akan melamar Kak Luna. " Terlihat ada kekecewaan di mata Aluna.
"Mungkin kak Bryan punya pekerjaan mendadak yang tidak bisa kak bryan tinggalkan." Ucap Mira sambil tersenyum kepada Aluna. Mira berusaha menghibur sepupunya tersebut.
"Apa pekerjaannya lebih penting dari pada lamarannya untuk Kak Luna? " Tanya Aluna dengan mimik sedih.
" Lalu kenapa dia tidak menghubungi Kak Luna diawal, jika memang dia tidak bisa datang. Supaya Kak Luna tidak seperti orang bodoh yang menunggunya di depan pintu sampai larut malam. " Ucap Aluna lagi.
Mira hanya mengusap punggung Aluna, dia akan selalu siap mendengar setiap keluhan Aluna tentang Bryan. Mungkin dengan begitu Aluna akan sedikit lebih lega karena sudah mengeluarkan isi hatinya tentang pria itu.
"Sekarang Kak Luna tidur aja yah! " Akhirnya Mira membuka suara ketika sepupunya itu mulai tenang.
"Baiklah. Kamu juga harus tidur Mir. " Jawab Aluna sambil memposisikan tubuhnya senyaman mungkin. Walaupun dia tahu bahwa malam ini tidak bisa dilewatinya dengan bermimpi indah.
"Baiklah, Ayo kita tidur. " Mira pun tidur di samping Aluna.
__ADS_1
Setelah memastikan bahwa Mira telah terlelap dalam tidurnya Aluna kembali duduk di ujung ranjang hingga pagi menyingsing.
Sementara hal yang sama dirasakan Bryan. Dia juga tidak tidur sampai pagi karena memikirkan Aluna.