
Setelah makan malam seperti biasa Aluna langsung masuk ke kamarnya. Dia menatap ponselnya yang sudah jarang ia pegang. Ada beberapa pesan dan beberapa panggilan dari Bryan di sana. Seperti biasa Aluna hanya membacanya tanpa membalas satupun pesan itu. Setelah membaca semua pesan yang ada di kotak masuk ponselnya, Aluna kembali menyimpan benda kecil itu kedalam laci kamar tidurnya.
"Luna apakah kamu sudah tidur?" Tanya Ibu Asmita dibalik pintu kamar Aluna.
"Belum ma, masuk aja pintunya nggak Luna kunci." Sahut Aluna.
Ibu Asmita kemudian masuk ke dalam kamar dan langsung menuju lemari pakaian Aluna. Ibu Asmita mengambil beberapa helai baju Aluna menaruhnya di atas ranjang sambil membanding - bandingkan tiap pakaian. Aluna memandang ibunya bingung.
__ADS_1
"Kenapa baju Aluna dikeluarin ma?" Tanya Aluna mendekati ibunya yang tengah sibuk sendiri memilih baju Aluna.
" Bukannya kamu akan pergi ke Jakarta? Mama akan memilih baju yang masih bagus untuk kamu pakai di sana." Perkataan ibunya membuat Aluna kaget sekaligus takut kalau - kalau ibunya mendengar pembicaraannya dengan Santi temannya untuk menanyakan perihal tentang kota itu. Padahal sebelumnya ibunya tidak mengijikannya pergi.
"Mama marah sama Luna soal tadi Luna menanyakan perihal kota Jakarta kepada Santi? Ma Luna hanya bertanya saja. Luna tidak akan pergi jika mama tidak mengijinkan Aluna." Ucap Aluna lirih sembari memandang wajah ibunya.
"Benarkah mama mengijinkan Luna pergi?" Aluna memastikan.
__ADS_1
"Iya sayang. Bersiap - siaplah besok pagi kita berangkat ke kota dan malam harinya kamu bisa langsung ke bandara." Jawab Ibu Asmita yang membuat Aluna kembali membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan ibunya.
"Secepat itu ma? Memang mama punya uang untuk biaya perjalanan Aluna. Tiket pesawatnya pasti mahal ma. Luna tidak mau menyusahkan mama." Aluna mulai berfikir untuk tidak pergi.
"Mama punya tabungan dan itu cukup untuk kamu membeli tiket pesawat dan biaya tambahan untuk kamu tinggal di sana bersama sahabatmu itu. " Ibunya menjelaskan agar Aluna tidak memikirkan masalah uang. Perihal Santi Ibu Asmita sudah mengenal Santi dari semenjak kecil sampai gadis itu pergi merantau ke Jakarta. Santi berkepribadian baik dan satu - satunya sahabat Aluna. Jadi ibunya tidak terlalu kuatir jika Aluna tinggal bersamanya. Mereka bisa saling menjaga, seperti dulu waktu Santi masih bersama Aluna di kampung.
Setelah Bryan dan Aluna di pantai waktu itu. Ibu Asmita ternyata menyusul mereka untuk mengajak makan siang. Tapi ibu Asmita mengurungkan niatnya setelah mendengar pertengkaran anaknya dengan Bryan. Ibu Asmita baru tahu bahwa Aluna hendak pergi ke Jakarta untuk berusaha melupakan Bryan. Pantas saja anak gadisnya suka mengurung diri dikamar beberapa hari setelah kepulangannya dari kota, dia melihat Bryan tidur dengan gadis lain. Ibunya bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan anak gadisnya. Makanya ibunya merelakan Aluna pergi ke Jakarta.
__ADS_1
Pagi - pagi Aluna dan Ibunya berangkat ke kota. Om Ben dan tante Ira yang menjemput mereka di pelabuhan setelah semalam Ibu Asmita memberi kabar kepada Ira adiknya perihal keberangkatan dirinya dan keberangkatan Aluna ke Jakarta. Awalnya tante Ira dan keluarga kaget dengan keputusan Aluna. Tetapi setelah Richo membeberkan semua yang terjadi di hotel. Maka mereka juga mendukung keputusan Aluna untuk pergi jauh dari Bryan.