Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
Kembali ke Kota


__ADS_3

Keesokan hari setelah kembalinya Maura, mereka memilih kembali ke kota. Pagi itu saat sarapan bersama, tanpa Maura tentunya. Saat diajak sang ibu tadi untuk sarapan katanya dia belum lapar dan memilih rebahan di kamarnya.


"Bi, tolongin antar sarapan Maura ke kamar yah. " Santi menyerahkan nampan berisi buah segar, dua roti yang diolesi coklat dan segelas susu hangat.


" Apa Maura baik - baik aja Tante?" Ini suara Alka. Memang semenjak Maura pulang ke Villa, keduanya kurang berkomunikasi. Maura seperti menjaga jarak dengannya. Menghindari Alka tepatnya. Kalaupun mereka bertemu saat makan bersama, Jika Alka bertanya pada Maura, Maura hanya menjawab seadanya.


"Dia baik - baik aja Al. " Santi tersenyum kearah Alka yang terlihat tampan dengan pakaian kerjanya.


" Oh ya, Arka, Luna besok pagi kami akan kembali. " Menaruh kembali teh yang diminumnya keatas meja, Arka maupun Aluna langsung menatap Bryan. Alka juga tentunya.


"Apa Maura juga ikut paman?" Alka yang lebih dulu bertanya.


Dengan senyum dan anggukan Bryan menjawab pertanyaan Alka. Anggukan itu menandakan bahwa Maura juga akan ikut pulang bersama kedua orangtuanya.


Alka diam setelahnya, ada perasaan sesak menghimpit dadanya. Ada hak apa dia menahan Maura untuk tetap disini.


"Bukannya liburan Maura berakhir pekan depan? " Bersyukur sang Bunda menanyakan hal itu.


"Iya Lun, tapi kata Maura dia juga mau ikut pulang bareng kita. " Maura pasti tidak nyaman di Jakarta, apalagi di rumah ini. Untuk apa dia bertahan, toh pada akhirnya Alka sudah punya kekasih. Begitulah Aluna menyimpulkan.


***


Alka menatap Figura yang diambilnya dari dalam laci meja kerjanya. Setelah selesai sarapan tadi, Arka memutuskan untuk berangkat ke kantor, tentunya dengan perasaan gelisa.

__ADS_1


" Kenapa harus seperti ini. " Ada yang mengganjal hatinya. Selama ini bukan cuma Maura yang terluka, dirinya juga terluka. Bedanya dia lebih mampu menutupinya, ketimbang Maura yang memang terbuka.


"Lagi liatin apa, serius banget. " Suara itu berasal dari balik pintu. Sosok pria muda tersenyum kearahnya.


"Eh Ram." cepat - cepat Alka menaruh kembali Figura itu kedalam laci. Dia tidak ingin Rama mengetahui siapa yang ada dalam Figura itu.


"Ayo, foto siapa itu?" Tanya Rama mencoba menggodanya. Namun Alka hanya tersenyum pias.


"Bukan foto siapa - siapa. Itu foto bunda. "


"Oh ya Al, maaf ya,waktu di Villa aku balik duluan. Soalnya ada rekan kerja aku yang kebetulan liburan ke Jakarta. Waktu itu aku pamit sama Maura dan meminta Maura mengatakannya pada kalian. Apa Maura mengatakannya? "


Alka bahkan lupa kalau Rama juga ikut ke Villa waktu itu. Jadi saat insiden Maura diculik, Rama sudah tidak berada di Villa. Apa Alka harus memberitahu Rama bahwa waktu di Villa, Maura diculik. Berperang dengan pikirannya, Alka memilih tidak menceritakan hal itu pada Rama, bisa - bisa urusannya bakal panjang. Apalagi kalau sampai Rama datang kerumahnya dan menanyakan sendiri keadaan Maura.


"Maura besok akan balik ke kotanya. " Alka memecah keheningan diantara keduanya. Mereka saat ini tengah duduk di sofa panjang ruangan Alka. Berharap Rama terkejut, namun nyatanya ekspresi diwajah Rama nampak biasa saja. Bukan biasa saja, tapi lebih tepatnya Rama seolah tahu akan hal itu.


"Aku tahu. Maura ngasih tahu semalam. " Tuh kan benar. Apa itu artinya Rama lebih berarti bagi Maura ketimbang dirinya. Buktinya Rama lebih tahu, dibanding dirinya yang satu atap dengan Maura, namun hanya bisa mendengar hal itu dari orangtuanya.


"Apa kamu tidak berusaha nyega dia Ram. " Walaupun ini terdengar seperti Alka meminta Rama menahan Maura, setidaknya Maura masih disini, dekat dengannya.


" Kenapa tidak kamu saja yang mencegahnya. " Rama membalikan ucapan Alka. Alka jadi salah tingkah. Kenapa jadi dia .


"Aku tidak punya hak buat nyega dia Ram. " Ucapnya disusul tarikan nafas kasar.

__ADS_1


" Trus aku punya hak? " Bukankah memang Rama punya hak. Karena setahu Alka, Rama adalah pacar Maura, waktu di Villa Maura mengatakan hal itu. Tapi kenapa Rama menanyakan itu.


Alka memilih diam. Hening sesaat setelah pertanyaan terakhir Rama.


" Dia nolak aku Al. " Alka yang tadinya tertunduk langsung mengangkat kepalanya menatap Rama. Maksudnya bagaimana? Bukankah mereka sudah resmi pacaran, lalu apa maksud ucapan Rama.


"Maura cinta sama kamu Al. " Alka tertegun. Sudah bukan rahasia lagi kalau Maura memang bukan sepupu seperti pengakuan mereka dulu.


"Maura nolak aku, karena dia tidak mau nyakitin dan memberikan harapan padaku. Begitu katanya semalam, saat dia menghubungiku. " Rama menjelaskan.


"Semua keputusan ada di kamu Men. " Berdiri dari duduknya, Rama bersiap pergi.


Sebelum meninggalkan ruangan Alka, Rama kembali berbalik.


"Aku juga tahu kau mencintai gadis yang ada didalam Figura itu. " Ekor matanya menunjuk kearah laci dimana Alka menyimpan Figura tadi. Setelahnya dia pergi dengan senyum seperti mengejek sahabatnya itu.


_________


Aku niat pergi ke sebelah, tapi ingat kalian.


🙏🏻


Aku kembali walaupun tertatih.🤭

__ADS_1


__ADS_2