
Adit sudah berpamitan kepada Arka ketika dia memberi beberapa obat dan juga vitamin untuk diberikan kepada Aluna jika nanti dia sudah sadar.
Walaupun dengan gelisah Arka yang masih menahan Adit untuk tetap menunggu sampai Aluna benar - benar sadar. Namun karena Adit tetap meyakinkan Arka bahwa semuanya baik - baik saja membuat Arka akhirnya mengijinkan Adit pulang dari rumahnya karena Adit ada jadwal operasi dirumah sakit tempatnya bekerja yang tak lain milik Arka.
Setelah kepulangan Adit, Frans kembali memasuki kamar dengan seorang pelayan pria yang membawa nampan berisi bubur dan juga segelas susu hangat. Setelah meletakkan nampan tersebut diatas meja sesuai yang ditunjuk tuannya, pelayan itu mengundurkan diri dari kamar yang mencengkam karena tak satupun yang bicara termasuk sekertaris Frans yang juga kuatir dengan istri tuan mudanya.
"Tuan sebaiknya tuan juga makan. Apa tuan ingin saya menyuruh pelayan untuk membawa makan malam kekamar tuan?" Sopan Frans melihat kearah tuannya yang masih dengan wajah gelisah dan kuatir menatap gadis yang sedari tadi tidak membuka matanya.
"Aku tidak lapar." Arka tidak memiliki selera untuk sekedar mengisi perutnya yang memang sudah butuh asupan makanan. Karena terakhir dia hanya sarapan dirumah Ardian Ayahnya.
__ADS_1
"Frans cari tahu siapa pria yang menikah tadi?" Arka ingin tahu siapa pria yang memeluk istrinya walaupun Arka sudah bisa menebak dengan melihat kejadian tadi.
"Baik tuan." Frans kemudian berlalu meninggalkan Arka. Karena Frans tahu jika tuannya menginginkan sesuatu, berarti hal itu sangat penting untuk tuannya.
Karena begitu lelah akhirnya Arka tertidur dikursi dekat dengan ranjangnya. Arka tidak berencana tidur karena dia ingin memastikan sendiri keadaan Aluna. Namun entah karena matanya yang hanya fokus disatu arah membuat matanya lelah dan akhirnya dia mengantuk dan akhirnya tertidur.
Aluna seketika mulai membuka pelan matanya. Aluna mengingat jika tadi dia sedang berada dikamar mandi dan entah mengapa pandangannya memburam saat tadi berada dikamar mandi. Setelahnya dia lupa apa yang terjadi karena dia sudah jatuh pingsan.
Aluna tampak tidak menatap Arka walaupun Arka telah menyodorkan minuman kepadanya. Aluna hanya mengambil posisi duduk dengan menyandarkan kepalanya diranjang. Bahkan minuman yang diberikan Arka padanya tidak dia ambil. Sepertinya Aluna benar - benar membenci Arka saat ini. Bahkan ekpresi wajahnya tetap tidak bergeming. Arka yang melihat sikap Aluna menjadi frustasi sendiri.
__ADS_1
"Jika kau masih marah dan membenciku. Aku terima dan aku memberikanmu hak untuk itu. Tapi jangan siksa dirimu sendiri. Kau perlu tenaga untuk membenciku bukan? Jadi cepatlah sembuh karena aku ingin melihat seberapa benci kau padaku." Entah apa yang diucapkan Arka, kata - kata itu bahkan keluar begitu saja dari mulutnya. Kemudian dia meraih nampan berisi bubur dan susu menaruhnya dekat dengan Aluna. Arka bahkan tidak memberikannya langsung kepada Aluna karena Arka tahu Aluna tidak akan mengambilnya dari tangan Arka.
"Aku tidak perlu sembuh untuk membencimu. Walaupun aku sakit dan matipun aku akan membencimu." Deg Arka bahkan tidak menyangkah kalimat yang dilontarkan Aluna padanya tepat menusuk hatinya.
"Makanlah dan setelah itu minumanlah obatmu." Arka mengambil obat dan vitamin yang tadi diberikan Adit padanya dan menaruhnya dinampan dekat bubur Aluna.
Namun kembali Aluna diam membisu menatap lurus kedepan. Arka kemudian meninggalkan Aluna didalam kamar agar gadis itu bisa makan dan meminum obatnya.
Setelah mendekati pintu kamar, langkah Arka terhenti ketika Aluna berbicara " Siapa yang mengganti bajuku?" Tanya Aluna ketika dia baru menyadari jika terakhir dia masih mengenakan gaun tak utuh itu.
__ADS_1
"Aku menyuruh pelayan wanita untuk mengganti bajumu." Aluna merasa lega dengan jawaban yang diberikan Arka padanya. Setelah itu Arka berlalu meninggalkan Aluna sendiri dikamar untuk memberi ruang kepada Aluna setidaknya menghabiskan bubur dan susunya dikamar itu.