
Aluna membuka matanya ketika mentari pagi sedikit mengintip dan mengenai wajah cantiknya.
"Ahhhhhh... " suaranya menggema diruangan yang dirancang kedap suara itu. Pria disampingnya sontak membuka matanya dan menatap Aluna kesal.
"Aku paling tidak suka ada yang mengganggu tidurku." Serunya tanpa memperdulikan Aluna yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
" Kenapa aku bisa ada dikamar dan seranjang denganmu?" Akhirnya Aluna bertanya dari pada dia mati penasaran.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu kenapa kau bisa ada diranjangku? " Arka berbalik bertanya membuat Aluna berusaha mencari ingatannya semalam.
"Maaf, setahu aku semalam aku tertidur disofa ruang tamu." Ucap Aluna pelan.
"Apakah kau punya kebiasaan tidur sambil berjalan, haa?" Aluna berusaha mengingat kembali. Namun seingatnya dia memang tidur di sofa. Bukan diranjang laki - laki itu.
"Sepertinya tidak, atau mungkin aku sangat lelah makanya bisa jalan sambil tidur." Aluna berspekulasi sendiri. Sedangkan Arka yang mendengar jawaban Aluna hanya berdecak.
"Kau bahkan memilih berjalan menghampiri ranjang seorang pria tanpa noda ini. Apa kau sengaja? " Seru Arka dengan wajah datarnya.
" Ti...tidak tuan." Bahkan Aluna terbata - bata menjawab tuduhan suaminya sendiri.
__ADS_1
"Kau bahkan tidur disampingku dengan tubuh yang tidak kau bersihkan itu." Arka menunjuk pakaian yang dikenakan Aluna. Aluna baru sadar bahwa dirinya semalam ketiduran tanpa membersihkan dan mengganti pakaiannya terlebih dulu.
"Maafkan saya, saya benar - benar tidak sengaja." Akhirnya Aluna merasa bersalah dan itu sebenarnya tujuan Arka. Bahkan dalam posisi berdiri Aluna menunduk tidak berani menatap Arka. Arka kemudian beranjak dari tidurnya menuju lemari mengambil handuk dan melemparkannya kearah Aluna.
"Pergi mandi sana. " Seru Arka dan seketika itu Aluna pergi ke kamar mandi. Dikamar mandi Aluna merutuki kebodohannya. Sedangkan Arka yang sedari tadi menahan tawanya langsung tertawa sejadi - jadinya. Bahkan Arka memegang perutnya yang terasa sakit karena gelak tawanya.
"Bodoh. Apa dia benar - benaf berfikir kalau dia tidur sambil berjalan. " Arka kembali tertawa dia bahkan lupa kapan terakhir dia tertawa lepas seperti ini. Karena semenjak ibunya meninggal, Arka tidak pernah tertawa lepas seperti ini.
Beberapa saat Aluna keluar menggunakan kimono yang dibelikan sekertaris Frans, waktu pertama kali Aluna datang dirumah Arka.
Arka yang melihat Aluna keluar dari kamar mandi merubah kembali mimik wajahnya.
"Apa kamu ingin saya membuatkan sarapan?" Tanya Aluna yang masih merasa bersalah.
"Tidak. Walaupun kita hanya menikah kontrak, tetapi kau tetaplah suami yang harus kulayani." Aluna merutuki kebodohannya kenapa juga dia harus mengatakan hal bodoh itu.
"Apa kau sedang menggodaku sekarang?" Seru Arka menatap Aluna yang hanya tertunduk.
"Kenapa sih, kau selalu berasumsi yang salah." Batin Aluna.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Baiklah anggap saja aku tidak mengatakan hal itu." Aluna lebih baik mengalah dari pada urusannya tambah panjang.
"Baiklah. Buatkan aku sarapan. Hitung - hitung sebagai ucapan maafmu karena telah mencuri tidur denganku. " Seru Arka membuat Aluna menahan setiap amarah yang sudah memuncak.
Aluna lebih memilih keluar dari kamar dan menuju dapur. Tidak ada gunanya berdebat dengan pria gila itu karena sama saja Aluna yang akan memilih mengalah.
Menghidangkan beberapa makanan ringan, untuk sarapan pagi. Terlihat Arka sudah turun menapaki anak tangga dengan mengenakan baju kerjanya.
"Duduklah temani aku sarapan." Ucap Arka disaat melihat Aluna mulai meninggalkan meja makan. Alunapun menuruti dan duduk dikursi kedua setelah Arka.
"Ternyata masakanmu tidak buruk. Okelah kali ini aku maafkan semua kesalahanmu. " Seru Arka ketika memasukan makanan kedalam mulutnya.
"Emang Aku salah apa? Kalau aku tidur sambil jalan ke ranjangnyakan, bukan hal yang ku sengaja. Siapa juga yang ingin tidur disamping singa yang sedang lapar."
"Apa kau tidak ingin mengucapkan terima kasih karena aku telah memaafkanmu? Apa kau lupa aku bahkan tidak memaafkan kedua pria di cafe itu karena mereka bosan menunggu kedatanganku." Menjeda ucapnnya, meraih segelas air dan meminumnya hingga tandas. " Bahkan perusahaan mereka sekarang hancur tak tersisa." Ucapnya kemudian.
Gleek, Aluna tidak ingin mengingat kedua pria itu. Tetapi Aluna tidak menyangkah bahwa pria yang dengan santainya menikmati sarapannya itu, orang yang sekejam itu. Bahkan hanya karena kesalahan kecil. Aluna gemetar, menimbang bagaimana nasibnya, jika dirinya sampai membuat kesalahan.
"Terima kasih." Ucap Aluna kemudian.
__ADS_1
Arka bahkan tahu jika Aluna sudah ketakutan mendengar ucapannya tadi.
Setelah selesai sarapan Arka kemudian pergi ke perusahaan. Begitu juga dengan Aluna dia kembali ke kamar dan bersiap - siap pergi ke cafe tempatnya bekerja.