Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
PERTENGKARAN


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat. Hubungan Aluna dan Bryan juga baik - baik saja diusia hubungan mereka yang sudah memasuki enam tahun.


"Sayang bersiap - siaplah dan sampaikan pada orangtuamu besok aku akan datang melamarmu." ucap Bryan lewat telepon.


"Kamu serius Sayang? " Tanya Aluna memastikan.


"Iya aku serius. Sayang nanti aku telepon lagi yah" Bryan langsung mematikan teleponnya karena mendengar suara ayahnya.


"Apakah kamu masih berhubungan dengan gadis itu Bryan? " Tanya Indra Wijaya, ayah Bryan.


"Iya Pa. " jawab Bryan singkat.


"Apakah tadi kamu bilang akan melamarnya? " tanya ayah Bryan kembali.


"Iya Pa. "


"Putuskan hubunganmu dengan gadis itu dan untuk lamaran jangan bermimpi papa akan menyetujuinya. "


"Tapi Pa?"

__ADS_1


"Tidak ada tapi - tapian Bryan." Tegas Indra Wijaya.


"Pa, Bryan mohon. Hanya Luna yang Bryan cintai, Bryan dan Luna udah pacaran lama Pa. Luna gadis yang baik." Bryan berharap ayahnya bisa menerima Aluna.


"Papa tidak mau tahu Bryan. Mau taruh dimana muka papa, jika teman - teman bisnis dan kolega kita sampai tahu kamu menikah dengan gadis yang berasal dari perkampungan dan tidak berpendidikan lagi, Masa depanmu akan hancur."


"Cukup Pa." Teriak Bryan.


"Jangan menghina Luna lagi." Pintanya.


"Memang itu kenyataannya kan?" Kata Indra Wijaya setengah berteriak.


"Bryan tidak perduli asal usul Luna Pa, mau dia dari perkampungan sekalipun, Bryan tidak perduli. Mau dia dari lumpur sekalipun Bryan tidak perduli. Dia berpendidikan sama seperti Bryan. Bahkan dia bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Dia juga termasuk siswa berprestasi. Apa papa lupa Bryan juga hanya tamatan SMA sama seperti Luna?"


"Kualitas... ? Apakah dengan menghina sesama manusia itu termasuk kualitas pa? " Bryan hanya ingin ayahnya sadar dengan apa yang diucapkannya.


Plaaakk


Satu tamparan keras mendarat di pipi Bryan.

__ADS_1


"Jangan kurang ajar kamu Bryan. Sudah susah payah papa membesarkanmu bukan untuk jadi seorang pembangkang. Ucap Indra Wijaya tegas.


"Cukup. Sudahi pertengkaran kalian."


Teriak ibu Ningsi Wijaya, ibu kandung Bryan yang keluar dari dalam kamar karena mendengar pertengkaran ayah dan anak itu.


Bryan tidak lagi menjawab setiap kata - kata yang dilontarkan oleh ayahnya. Karena sorot mata ibunya, yang memohon menghentikan pertikaian ayah dan anak ini.


"Ingat janjimu tiga tahun lalu, ketika kamu meminta papa menghandle semua pekerjaanmu selama seminggu di Singapur. Kamu berjanji akan menuruti semua keinginan papa dan tepati itu sekarang Bryan.


Papa akan mengatur perjodohanmu dengan Fiona, anak rekan bisnis papa dari Jakarta. Dia gadis yang cantik, Anggun dan tentunya berpendidikan serta jelas bibit bobot dan bebetnya. Papa dengar dia dari dulu suka sama kamu. " Bryan ingat, demi menemui Aluna waktu itu yang datang ke Kota, Bryan meminta ayahnya untuk menghandle semua pekerjaannya, dengan jaminan bahwa Bryan akan melakukan apa pun yang di inginkan ayahnya. Namun bukan untuk menjauhi atau meninggalkan Aluna. Itu tidak akan terjadi.


"Bryan tidak setuju pa, Bryan tidak suka sama dia. Bryan hanya mau menikah dengan satu gadis dan itu A L U N A."


"Jangan membantah Bryan, jangan sampai papa memukulmu lagi. Besok Om Hendra, orangtuanya Fiona mengundang kita makan malam diluar. Kebetulan om Hendra dan putrinya akan berkunjung besok. Kalau kamu tidak datang dan nekat melamar pacarmu besok, maka kamu tidak akan pernah mendapatkan sepeserpun harta papa dan kamu tidak akan pernah melihat dia lagi, baik di kehidupan sekarang maupun nanti. " Ucap Indra Wijaya serius.


"Pa.... " Bryan mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Kamu coba saya Bryan, karena papa tidak main - main. " Indra Wijaya mengingatkan sembari pergi meninggalkan Bryan dan ibunya.

__ADS_1


Bryan langsung terduduk lemas dilantai. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan ayahnya. Ayah yang membesarkannya, ternyata tidak memiliki hati. Ibunya hanya bisa mengelus bahu anaknya, tanpa bisa berbuat apa - apa untuk menolong anaknya.


Disisi lain Aluna sangat bahagia dengan apa yang dikatakan Bryan lewat telpon dan dia langsung memberitahu ibunya perihal kedatangan Bryan untuk melamarnya pada besok hari.


__ADS_2