Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
MENGAJAK PULANG


__ADS_3

Rumah minimalis yang ditempati Aluna hanya memiliki dua kamar. Dua pintu dengan cat putih, tapi satu pintu terlihat ada beberapa gambar tokoh kartun menempel. Arka yakin itu kamar anak - anaknya. Membuka pintu dan benar saja, bocah laki - laki itu sedang duduk diatas ranjangnya. Dia masih terisak.


Mengehela nafas panjang, Arka kemudian duduk disamping abang Al. Abang Al yang menyadari kehadiran ayahnya langsung memutar tubuhnya, membelakangi sang ayah.


"Hai jagoan. " Arka membuka percakapan itu.


Abang Al tidak mengubris sapaan ayahnya. Dia masih kesal dan dia masih sesekali terisak.


"Ayah tau, Al marah sama Ayah. Tapi dengarin Ayah nak. " Walaupun Al tidak menjawab apapun, namun Arka tahu anaknya itu sedang mendengar apa yang akan dia katakan.


" Dulu ayah menikahi seorang gadis cantik dan dia adalah bundamu. ayah bahagia waktu itu dan lebih bahagia lagi setelah Tuhan menitipkan seorang bayi diperut bundamu. Awalnya ayah dan bunda mengira itu hanya seorang bayi. Untuk itulah ayah sedikit bertengkar dengan bunda. " Arka tersenyum mengingat kejadian beberapa tahun lalu. " Kau tahu kenapa ayah dan bunda bertengkar? " Arka menoleh kearah putranya yang masih bergeming. " Itu karena bunda menginginkan seorang anak perempuan dan ayah menginginkan seorang anak laki - laki. Alasannya kenapa ayah mau anak laki - laki? biar dia bisa jaga bunda dan adik - adiknya kelak, disaat ayah nggak ada disamping mereka. Kenapa ayah tidak berhenti bersyukur saat ini, itu karena istri ayah yaitu bunda kamu yang dulu sempat dikira sudah meninggal, ternyata masih hidup dan baik - baik saja. ayah tahu semua itu karena putranya ayah yang selalu jagain dia kan? " Arka mengatakannya sembari menahan air mata yang mungkin dalam satu kedipan saja, akan lolos dari matanya.


"ayah tahu jika luka yang tanpa sengaja ayah goreskan, masih bersarang dibenakmu. Ayah mengatakan orangtuamu tidak mengajarimu sopan santun, ayah tanpa sadar telah menyalahkan diri sendiri. Ayah yang sudah gagal menjadi orangtua untuk Al dan Giska. Maafin ayah nak. Kata maaf memang tidak cukup untuk menebus kesalahan ayah pada bunda, Al dan juga Giska. Tapi Al maukan memberi ayah kesempatan memperbaiki kesalahan ayah?" Namun putranya itu masih bergeming. Sikap keras kepalanya seperti Arka.


"Baiklah jika Al tidak bisa memaafkan ayah, ayah terima. Ayah pulang dulu nak. Perlu Al tahu, ayah sayang sama kalian. " Mulai berdiri dan berjalan kearah pintu. Namun sosok laki - laki kecil itu mengejarnya dan memeluk kakinya.


"Ayah, aku ingin sekali bertemu denganmu. Ingin sekali sedetik saja melihat wajahmu. Rinduku ini tak terbendung lagi. Namun, apalah dayaku, aku hanya anak lemah yang tak tahu ke mana harus melampiaskan rasa rinduku ini. Itulah sebabnya aku marah karena aku terlalu merindukanmu. " Arka berbalik mendapati putranya yang masih terisak. Dipeluknya tubuh anak laki - laki itu dengan haru. Mereka berpelukkan melepaskan rindu yang sudah lama terpendam. Aluna yang sedari tadi berdiri diambang pintu, menghapus air matanya. Sudah lama dia menunggu saat ini.


"Ayo kita temuin bunda " Ajak Arka sambil tetap menggendong putranya.


"Frans ini putraku." Menghampiri Frans dan Aluna yang sudah duduk diruang tamu.


"Jadi kedua anak itu...." Frans tidak meneruskan ucapannya.

__ADS_1


"Mereka putra dan putriku Frans. " Ucap Arka bangga. Sedangkan abang Al masih ada dipangkuannya.


" Hai tuan muda junior " Sapa Frans pada abang Al yang tersenyum padanya.


"Hai paman senior. " Jawab abang Al membuat Aluna dan Arka tersenyum.


" Ayo, kita kerumah. Giska sudah merengek minta diantarin sama bundanya. " Ajak Arka pada istrinya. Merekapun pergi bersama kerumah mereka dulu.


***


Asmita sedang bermain boneka didalam rumah bersama Giska. Ayah Ardian hanya duduk di sofa menatap mereka. Entah mengapa ayah Ardian merasa kalau Giska mirip sekali dengan menantunya. Mungkinkah karena itu Arka membawa anak itu kerumah mereka?


Arka masih merindukan sosok istrinya yang sudah meninggal itu. Begitu pikir Ardian, sampai lamunannya buyar ketika pintu rumah itu terbuka. Arka masuk dengan abang Al dipelukkannya.


"Abang Al. " Teriak Giska dan Arka menurunkan putranya itu. Kedua anak itu berpelukkan. Sedangkan ayah Ardian dan ibu Asmita tambah bingung. Siapa lagi yang dibawa putranya itu. "Paman ngajak abang Al kesini? " Tanya Giska dengan senang.


"Benarkah paman? Lalu dimana bunda? " Giska melihat kearah pintu menunggu sang bunda yang sudah dirindukannya semenjak kemarin.


"Sayang. " Apa bahkan Arka memanggil ibu dari anak - anak itu dengan sebutan sayang. Apa yang sedang terjadi dengan putranya. Ayah Ardian bahkan mulai cemas dengan keadaan putranya. Ayah Ardian juga mengingat mereka baru beberapa hari sampai di Jakarta. Tidak mungkin secepat itu anaknya sudah mendapat seorang wanita. Jika wanita itu memilki putra dan putri, berarti dia seorang janda atau masih sah istri orang lain. Ardian bernafas gugup dan cemas.


"Bunda. " Teriak Giska kearah wanita yang baru saja masuk dibantuh Frans membawa tas perlengkapan putra dan putrinya.


"Ya Tuhan. " Ibu Asmita bahkan menjatuhkan boneka yang ada ditangannya. Sedangkan ayah Ardian membuka kacamata. Mereka tidak salah lihat kan? Wanita itu mirip Aluna. Tapi Aluna tidak memiliki kembaran.

__ADS_1


"Sayang. " Aluna memeluk tubuh putrinya. Kemudian menghampiri penghuni rumah itu, yang masih enggan berbicara atau tepatnya mereka terlalu terkejut.


Aluna bahkan sudah tidak bisa membendung airmatanya, menatap wanita yang sudah mulai menua itu. Namun sepertinya Asmita belum menyadari bahwa wanita yang mulai mendekatinya Itu adalah Aluna putrinya. Sampai suara lembut itu mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya berdegub kencang.


"Mama... Ma, ini Luna. " Ya Tuhan, Asmita bahkan merasa lemas. Wanita tua itu beruarai airmata, dia menatap lekat putrinya yang juga tengah beruarai airmata didepannya.


"Ya Tuhan, ini benar kamu nak. " Tanya ibu Asmita sambil tangannya yang gemetar tengah membingkai wajah putrinya. Aluna mengangguk dan detik itu juga Ibu Asmita memeluk putrinya.


"Terima kasih Tuhan." Ucap Asmita sambil tetap memeluk anaknya. Mengusap lembut punggung sang anak.


"Bunda. " Giska merasa tidak nyaman dengan posisinya. Hal itu membuat Asmita melepaskan pelukannya. Ayah Ardian ikut mendekat dan memeluk Aluna. " Bagaimana bisa nak? " Ayah Ardian melepaskan pelukannya pada Aluna. Dibalas senyum oleh wanita itu.


" Jadi anak kecil ini? " Ayah Ardian mengelus pipi gadis kecil yang terlihat bingung dengan apa yang sedang terjadi.


"Dia cucu ayah, Oh iya yang satu itu juga. " Menunjuk kearah abang Al yang sudah dipeluk ayahnya kembali.


"Ya Tuhan, Jadi kalian selamat nak? " Ayah Ardian berucap syukur dan meraih cucu perempuannya. Pantas saja dia merasa akrab dengan gadis itu. Giska menatap bundanya setelah tubuhnya diraih ayah Ardian. " Giska itu opa nak dan ini oma. " Menunjuk kearah Asmita.


"Yeh akhirnya Giska punya opa dan oma. " Ucapnya senang.


" Al, sini nak peluk oma. " Aluna memanggil putranya dan Arka menurunkan putranya.


Asmita mendekat meraih cucu laki - lakinya. " Ya Tuhan, kau mirip sekali dengan Arka nak. " Arka yang mendengarnya hanya tersenyum.

__ADS_1


Mereka membawa Al dan Giska ketaman, bermain dengan kelinci dan juga sesekali memberi makan ikan yang ada di kolam dekat taman.


Sedangkan Arka menarik tangan istrinya mengajaknya ke kamar mereka. Dia masih rindu dengan wanita itu.


__ADS_2