
Alka melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata - rata. Saat menerima telpon dari Giska tadi membuat jantungnya seakan lepas dari pangkalnya. Bahkan Violin yang berusaha menahan pergelangan tangannya, langsung ditepisnya.
Sungguh dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri, jika sampai sesuatu yang buruk terjadi kepada adiknya dan juga Maura.
Memarkirkan mobilnya disembarang tempat, Alka berlari ke tempat dimana terakhir kali dia meninggalkan Giska dan Maura.
Berlari kecil sambil meneriaki nama Giska dan Maura.
Sudah menemukan adik perempuannya. Alka melihat ada seorang wanita penjual asongan, bersama sang adik. Berusaha menenangkan adiknya dan memberi sebotol air mineral.
"Yah Tuhan, Giska kamu tidak apa - apa? "
"Abang Al. " Giska langsung memeluk kakak laki - lakinya itu. Membalas pelukan adiknya sambil mengusap punggung adiknya, Alka mencoba menenangkan adiknya yang masih terlihat ketakutan.
Melepaskan pelukannya, saat sadar tidak ada Maura disana. Alka menangkup wajah adiknya. "Giska, Maura mana? " Tanyanya kuatir.
"Maura masih disana Abang. Dia tadi nyuruh Giska pergi. Maura berusaha menahan kedua pria itu. " Jelas Giska dengan air mata yang mengalir dipipinya.
__ADS_1
"Kamu tunggu didalam mobil Abang Al, Abang Al akan cari Maura. " Setelah menyerahkan kunci mobil pada Giska, Alka kembali berlari kecil, mencari Maura.
"Maura kamu dimana? " Berharap kalau Maura baik - baik saja.
Sungguh Alka sangat kuatir pada gadis itu. Mencari ke arah yang ditunjuk Giska tadi, akhirnya Alka bisa melihat sosok gadis itu. Alka melongo melihat pemandangan yang ada didepannya.
Ada luka kecil seperti bekas cakaran dan memar dibagian pipi gadis itu. Tapi Alka masih bersyukur karena Maura masih terlihat baik - baik saja. Gadis itu bahkan sedang berjongkok, sambil memperhatikan kedua pria yang sedang terkapar sambil meringis.
Mendekati Maura sambil melihat kondisi kedua pria itu, Maura yang menyadari kedatangan Alka, cepat - cepat berdiri. Pura - pura menangis dan memeluk Alka.
"Abang Al udah lapor polisi. " Mendengar nama polisi, kedua pria itu langsung berusaha mengubah posisi mereka melihat kearah Alka.
"Kakak jangan laporkan kami. Kami itu disini korban. " Ucap salah satu pria itu. Dahi Alka mengerut, sedangkan Maura, gadis itu melepaskan pelukan Alka, tersenyum nyengir sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Abang Al, jangan laporin mereka. Mereka sebenarnya tidak salah. " Apa maksudnya ini? Alka tidak mengerti. Kata Giska tadi ditelpon, mereka dikejar dua orang preman. Tapi dilihat dari wajah dan penampilan kedua pria itu, mereka jauh dari sosok preman yang biasa mangkal di pasar dan terminal. Melihat raut wajah Alka yang meminta penjelasan, Maura pun menjelaskannya.
"Mereka sebenarnya hanya fansnya kak Giska. " Melihat kearah kedua pria itu yang ikut mengangguk. "Salah mereka sendiri sih, baru bilang, pas udah jadi kayak gini." Menyalahkan kedua pria itu. Jadi tadi pas selesai menghajar kedua pria itu, disaat Maura ingin kembali menghajar mereka. Salah satu dari mereka menjelaskan bahwa mereka bukanlah orang jahat. Mereka hanya mengidolakan Giska.
__ADS_1
" Mbaknya aja yang langsung nyerang pas kami sampai disini. " Maura mengigit kuku tangannya, tidak ingin menatap Alka yang menatapnya tidak percaya. Tidak percaya kalau gadis kecil yang dulu sangat manja itu, ternyata bisa bela diri.
" Habisnya kalian ngejar aku sama Giska. Lihat juga wajahku, aku juga luka. " Maura masih membela diri, sambil menunjuk wajahnya.
" Kan mbak berdua lari pas lihat kami. Padahal kami hanya mau minta foto sama tanda tangan saja, sama mbak Giska. Lagi pula luka diwajah mbak itu karena kami berusaha membela diri. " Kali ini Alka sudah menyimpulkan bahwa ini hanya salah paham.
Membantu kedua pria itu berdiri, Alka lantas meminta maaf atas nama adiknya dan Maura.
"Ayo minta maaf. " Melihat kearah Maura yang bergeming.
"Maaf. " Ucap gadis itu dibalik punggung Alka.
Akhirnya kedua pria itu memaafkan Maura. Asal Maura berjanji untuk mempertemukan mereka dengan Giska, meminta foto bersama dan juga tanda tangan sang idola mereka. Maura meminta persetujuan Alka dan sebelumnya menghubungi Giska meminta persetujuan Giska. Giskapun tidak keberatan melakukannya dan akhirnya kedua pria itu diajak Alka ke mobil dimana ada Giska disana yang sudah menunggu mereka. Kedua pria yang berjalan tertatih itu, akhirnya pergi meninggalkan ketiganya dengan binar bahagia, bahagia karena bisa berfoto bersama sang idola walaupun dengan wajah memar mereka. Foto yang bisa mereka pamerkan kepada teman - teman mereka.
Sayangnya gara - gara masalah itu, Alka mengajak keduanya pulang, gagal sudah mereka jalan - jalan.
Didalam mobil, sekali - kali Alka melihat kearah spion depan, yang memperlihatkan Maura dikursi belakang. Gadis itu sesekali bercermin, bercermin di cermin lipat yang selalu ia bawa. Bercermin sambil menyentuh pipinya yang sedikit membiru. Alka menggelengkan kepalanya, masih tidak percaya apa yang dilakukan Maura tadi.
__ADS_1