
Tiga hari berlalu akhirnya Bryan dan keluarganya sampai pagi tadi di kota Jakarta.
"Dimana kamu sayang? Apakah kamu tahu aku datang dikota ini hanya untuk mencarimu. Aku merindukanmu Luna." Gumam Bryan yang baru sampai dibandara, disusul ayah dan ibunya.
"Kita akan menginap di rumah Hendra. " Ucap Indra Wijaya.
"Aku akan menginap dihotel." Seru Bryan yang tidak ingin pergi kerumah Fiona. Karena tidak ingin berdebat dengan putranya akhirnya Indra Wijaya juga memutuskan untuk menginap di hotel.
Sebelum hari pernikahannya dilaksanakan, Bryan selalu berkeliling kota Jakarta. Bryan berharap dia akan menemukan Aluna disuatu tempat. Namun gadis itu tak kunjung dilihat atau dijumpai Bryan.
"Luna kamu dimana?" Bryan menatap setiap jalanan, mall dan toko - toko yang dilewatinya. Tapi hasilnya tetap sama, dia tidak menemukan keberadaan Aluna.
*****
Arka sedang mengadakan rapat penting terkait proyek baru diperusahaannya. Tiba - tiba sekertaris Frans masuk kembali kedalam ruangan, ketika tadi dia keluar karena ada panggilan masuk dari salah satu orang suruhannya untuk mengikuti dan menjaga Aluna dari jarak jauh.
Sekertaris Frans kemudian memilih memberitahu Arka setelah tadi dia berdebat dengan pikirannya sendiri.
"Tuan Arka perduli atau tidak itu urusan nanti. Yang penting aku sudah memberitahunya." Gumam Frans dalam hati kemudian menghampiri Arka yang sementara serius mendengarkan presentasi dari karyawan yang akan menangani proyek baru di perusahaannya. Frans kemudian membisikkan sesuatu ke telinga tuannya dan lebih mengherankan Frans, Arka langsung menghentikan rapatnya.
__ADS_1
"Ini kali pertama aku melihat tuan Arka menghentikan rapat penting ditengah jalan. " Gumam Frans dan karyawan yang memilki pendapat yang sama dengannya.
Kemudian Arka dan Frans menuju ruang kerja Arka.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Arka kepada Frans dengan wajah yang kuatir.
"Nona Aluna berusaha menolong seorang anak kecil yang sedang mengamen dilampu merah. Tiba - tiba ada mobil yang katanya remnya tidak berfungsi dan hendak menambrak anak kecil itu. Tetapi nona Aluna yang berada tidak jauh dari kejadian langsung berlari menolong anak itu." Jelas Frans sesuai dengan informasi yang diterimanya.
"Apa? jadi dia yang tertabrak? Bagaimana sekarang keadaannya? " Tanya Arka kembali.
"Nona dan anak itu tidak tertabrak. Nona menarik anak itu menghindari mobil. Mungkin karena shok dengan apa yang dilihat dan dialaminya nona jatuh pingsan dan sekarang dibawah kerumah sakit."
Sesampainya dirumah sakit, Aluna sudah sadar dan duduk diranjang ditemani kedua orangtua anak yang ditolongnya.
Arka masuk keruangan itu dan membuka masker yang dipakainya semenjak masuk rumah sakit.
"Kenapa kau begitu ceroboh? Apakah kau tidak menyayangi nyawamu?" Arka bahkan tidak tahu mengapa dia begitu marah dengan apa yang dilakukan Aluna. Sedangkan Aluna yang mendengar Arka marah hanya diam saja.
"Tuan maafkan kami. Ini semua salah kami. " Ucap kedua orangtua anak itu setelah mereka menyadari bahwa pria tampan yang baru masuk ruangan itu adalah suami Aluna.
__ADS_1
"Kalian tidak bersalah, sesama manusia kita harus tolong menolong bukan?" Seru Aluna yang merasa tidak enak dengan kedua orangtua itu. Sementara Arka mulai menahan amarahnya.
"Tuan beruntung memiliki istri yang cantik, baik dan juga perduli dengan orang kecil seperti kami." Ucap ibu anak itu yang sudah berurai airmata.
Arka yang mendengar penuturan ibu itu mulai bisa mengontrol emosinya.
"Aku yang tidak beruntung memiliki suami seperti dia. Udah kepedean, dingin dan semaunya lagi." Gumam Aluna dalam hati.
"Baiklah tuan dan nona. Kami permisi dulu. Sekali lagi terima kasih banyak nona, semoga nona selalu diberkahi kebahagiaan." Seru ibu itu dan hanya dibalas anggukan dan senyum oleh Aluna. Sementara Arka masih dengan wajah datarnya.
"Apa ada yang terluka?" Tanyanya memperhatikan Aluna dari ujung kaki hingga kepala gadis itu. Sementara Frans sudah keluar mengantar orangtua anak tadi dan menyerahkan sejumlah uang atas perintah Arka.
"Aku tidak apa - apa. Aku mau pulang sekarang." Aluna kemudian mencabut sendiri selang infus yang terpasang ditangannya. Aluna kemudian dengan buru - buru turun dari ranjang pasien dan entah karena masih pusing Aluna tanpa sengaja hampir jatuh, jika Arka tidak cepat - cepat meraihnya.
" Kau benar - benar ceroboh." Arka menyetil lembut kening Aluna. Setelah mendapat ijin dari dokter, akhirnya hari itu juga Aluna sudah diperbolehkan pulang.
"Tuan apakah tuan akan kembali lagi ke perusahaan? " Tanya Frans dibalik kemudi ketika Arka sudah mulai turun mengantar Aluna masuk kedalam rumah.
"Tidak. Kau lanjutkan rapat yang sempat tertunda tadi dan laporkan semuanya padaku." Setelah mengiyakan tuannya akhirnya Frans kembali ke perusahaan dan melanjutkan rapat yang sempat tertunda tadi.
__ADS_1
Setelah malam hari Frans sudah mengirim hasil rapat tadi ke email Arka. Arka melihatnya dengan seksama sementara Aluna setelah makan malam dan minum obat dia sudah tertidur.