Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
Pesta Ulang tahun


__ADS_3

Aluna yang tengah tidur, terpaksa harus bangun karena dering ponsel suaminya tidak pernah berhenti berdering.


"Sayang ponselmu terus berdering." Aluna membangunkan Arka dengan cara menggoyangkan lengan Arka.


" Aku ngantuk sayang. Biarin aja. " Arka berbicara namun enggan membuka matanya.


Aluna membiarkan ponsel suaminya karena sudah berhenti berdering. Aluna hendak tidur namun lagi - lagi ponsel Arka berdering.


"Sayang itu ponselmu berdering lagi, siapa tahu aja penting. " Ucap Aluna kembali menggoyangkan lengan suaminya.


"Angkat aja sayang. " Ucap Arka namun tetap tidak membukakan matanya. Aluna pun mengangkat ponsel suaminya. Namun Aluna baru mengatakan hallo, orang yang diujung telpon langsung mematikan sambungan telponnya. Belum juga Aluna berbalik, namun lagi - lagi ponsel Arka berdering masih dengan nomor yang sama, nomor yang tidak tertera nama pemanggilnya.


"Hallo. " Namun lagi - lagi orang yang menghubungi Arka mematikan sambungan telponnya.


"Siapa sih, iseng sekali. " Aluna mematikan ponsel suaminya dan kembali tidur.


Keesokan harinya Arka sudah bersiap - siap ke perusahaan. Sedangkan Aluna masih membersihkan dirinya dikamar mandi.


"Sayang cepatlah. " Seru Arka mengetuk pintu kamar mandi.


"Sebentar lagi. " Setelah itu Arka turun menunggu istrinya di meja makan untuk memulai sarapan mereka.


Setelah beberapa saat Aluna terlihat mendekati meja makan yang sudah ada suaminya menunggu sedari tadi.


"Maaf sayang. " Ucap Aluna mencium pipi kanan suaminya, lalu duduk disamping suaminya. Mereka pun sarapan seperti biasa.


"Tumben hari ini kamu telat bangunnya." Seru Arka pada Aluna yang sementara menikmati sarapannya.


"Itu gara - gara dering ponselmu yang mengganggu tidurku." Ucap Aluna.


"Oh yah, jadi siapa yang menghubungiku dan siapa yang berani mengganggu tidur istriku?" Arka meletakkan potongan sandwich dipiringnya. Arka juga tidak melihat ponselnya dari semalam.


"Tidak ada nama pemanggilnya. Mungkin orang iseng saja. " Ucap Aluna.


" Oh. Yah sudah selesaikan sarapanmu. Aku tunggu di mobil. " Arka kemudian meninggalkan Aluna dan menunggu Aluna di mobil bersama Frans.


" Frans cari tahu nomor ini. " Arka menyerahkan kertas yang berisi nomor yang menghubunginya semalam. Setelah Arka menghidupkan ponselnya melihat nomor pemanggil yang bukan hanya sekali menghubunginya.


"Baiklah tuan. " Frans pun mengambil kertas yang disodorkan Arka padanya.


"Rahasiakan ini dari nona Aluna. " Seru Arka dan diiyakan Frans. Kemudian Aluna terlihat menghampiri mobil suaminya.


***


Perusahaan.


Belum juga Aluna duduk di kursinya, Santi tiba - tiba menghubunginya.


"Siapa? " Tanya Arka pada Aluna.

__ADS_1


"Santi sayang. " Aluna kemudian mengangkat telpon dari sahabatnya itu.


"Hallo San ada apa? " Tanya Aluna pada sahabatnya. Santipun memberitahu perihal dirinya menghubungi Aluna.


" Sayang. " Aluna menghampiri meja suaminya. Ketika percakapan ditelpon sudah berakhir.


" Ada apa? "


" Nanti malam bisakah aku pergi bersama Santi ke acara ulang tahun salah satu teman sekolah kami? " Aluna ragu - ragu apakah suaminya akan mengijinkannya atau seperti biasa mengijinkannya namun dengan embel embel inilah itulah. Walaupun Arka seperti itu namun Aluna bersyukur karena semua demi kebaikan dirinya.


"Baiklah. " Jawab Arka seadanya.


"Benarkah? " Aluna memastikan. Arka mengangguk. Aluna kemudian memeluk suaminya berterima kasih.


"Ajaklah beberapa pengawal untuk mengawalmu. " Aluna berubah espresi wajahnya ketika mendengar ucapan suaminya.


"Sayang tidak apa - apa aku bisa..." Terpotong ucapannya " Tidak usah pergi kalau begitu. " Kalimat telak dari suaminya.


"Baiklah. Aku akan membawa pengawal tapi mereka hanya boleh memantauku dari jauh dan jangan sampai teman - temanku tahu. " Akhirnya pasrah namun tetap bernegosiasi.


"Oke. " Setelah mendapat persetujuan Aluna kembali ke tempat duduknya.


***


Aluna dan Santi tiba di lobby salah satu gedung tempat dimana acara ulang tahun salah satu teman seangkatan mereka diadakan.


"San kenapa Vexa bisa mengundang kita ke ulang tahunnya? Bukankah waktu di sekolah dia tidak menyukai kita? " Aluna ingat jelas murid pindahan dari Jakarta itu tidak pernah menyukainya dan selalu menghinanya. Tapi sekarang kenapa dia bisa mengundang Santi dan dirinya.


Aluna dan Santi berdecak kagum dengan pesta mewah yang diadakan teman mereka dulu.


Banyaknya tamu undangan dengan gaya mereka yang terkesan glamor dan elegan menunjukkan status sosial mereka.


" Akhirnya mereka datang. " Sekelompok gadis - gadis cantik yang dikenal Aluna dan Santi menghampiri mereka.


"San bukankah itu Vexa dan para pengikutnya waktu di sekolah? Apa mereka juga sudah pindah kesini atau mereka sudah menikah dengan pria kaya dan menetap disini? " Hipotesis Aluna hanya dimungkinkan oleh sahabatnya.


"Luna coba kau lihat itu, itu bukannya Bary ketua osis yang pernah nembak kamu dulu. " Santi hanya menunjuk dengan sorot matanya karena Vexa dan juga gengnya sudah menghapiri Aluna dan Santi.


"Waow penampilan kalian lumayan juga. Setidaknya selevelah dengan pelayan - pelayan disini." Seru Fira salah satu pengikut Vexa.


" Apa yang kau katakan Fira, tidak baik berbicara seperti itu kepada teman lama. " Ucap Vexa kepada sahabatnya Fira.


"Maaf yah Luna, San. Fira memang suka bercanda. " Vexa memegang tangan Aluna dan Santi bergantian.


"Tidak apa - apa" Aluna hanya tersenyum. Sedangkan Santi sudah menatap tidak senang kepada Fira.


"Oh yah ayo kita kesana, disana teman - teman yang lain sudah pada menunggu. " Ajak Vexa pada Santi dan Aluna. Keduanya pun ikut.


"Hai gays lihat siapa yang datang. " Seru Vexa kepada teman - teman yang lain. Bary ketua osis mereka dulu langsung menatap kaget dengan kedatangan Aluna dan Santi.

__ADS_1


"Luna. " Bary mendekat bahkan memegang bahu Aluna.


"Aku tidak menyangkah kau juga ada disini. " Tambahnya sambil tersenyum bahagia terukir diraut wajah tampannya. Yah Bary memang tampan bahkan banyak siswi yang menyatakan perasaan mereka pada Bary termasuk Vexa dan Bary menolak mereka semua. Bary menyukai dan sempat menembak Aluna dilapangan basket setelah selesai pertandingan antar sekolah. Namun Aluna menolaknya. Karena memang Aluna sudah pacaran dengan Bryan jauh sebelum bertemu Bary.


Aluna menepis lembut tangan Bary. Aluna hanya tersenyum mengangkat tangannya, mengucap hai pada teman - teman yang sepertinya waktu sekolah tidak menyukainya dan anehnya yang datang di pesta ulang tahun Vexa semuanya hampir tidak ada yang menyukainya.


Pesta sudah berlangsung, terlihat Vexa dan orangtuanya maju ke podium untuk memotong kue ulang tahun. Setelahnya mereka disambut tepuk tangan dari para tamu undangan.


Setelah itu acara jamuan makan pun dimulai. Aluna dan Santi mendekati meja makan. Aluna mengambil beberapa kue. Sedangkan Santi dia mengambil makanan yang disukainya sampai dia tidak sadar piringnya sudah sangat penuh.


"Coba kalian lihat, orang miskin memang rakus kalau di pesta seperti ini. Lihat saja makanannya. " Tunjuk Fira pada piring Santi. Semua mata pun menoleh kearah Santi yang enggan menatap orang - orang yang menatapnya.


"Fira jangan seperti itu. " Seru Vexa namun terlihat sekilas tawa mengejek diujung bibirnya.


"Makanlah. Kita tamu diundangan disini. Kita bebas makan apa saja yang kita suka. " Aluna mendekati Santi menyerahkan piring yang baru diletakkan Santi diatas meja.


" Oh yah Vexa kau mau hadiah apa dari kami sebagai bayaran jamuan makan yang telah kami makan. " Tanya Aluna yang sudah tahu bahwa Vexa hanya mengundang mereka untuk jadi bahan lelucon.


Mendengar ucapan Aluna Fira dan teman - temannya pun tertawa mengejek. Kecuali Bary yang selalu mencuri pandang kearah Aluna.


"Apa memang yang kalian bisa berikan kepada Vexa? Sapu tangan? atau gantungan kunci yang kalian beli dari pasar tradisional? " Semuanya tertawa mendengar ucapan Fira, termasuk Vexa.


" Oh yah Fira sebelum itu aku ingin menanyakan padamu. Apa hadiah yang kau berikan kepada sahabatmu ini? " Tanya Aluna yang sudah mendekati Fira.


"Kenapa kau bertanya seperti itu. Apa kau akan membandingkan hadiah yang kuberikan pada Vexa. come on Aluna jangan mempermalukan dirimu sendiri. " Seru Fina dengan percaya diri.


"Hanya ingin tahu saja. Semahal apa harga persahabatan yang kau beri pada Vexa? " Mendengar ucapan Aluna Fira mulai kesal dan membuka tasnya mengambil hadiah yang sudah dia siapkan untuk Vexa. Membuka bungkusan hadiah didepan Aluna. Sebuah jam yang harganya berkisar sepuluh jutaan.


"Hanya itu? " Tanya Aluna membuat Fira semakin kesal..


" Emang apa yang kau hadiahkan untuk Vexa. " Tanya Fira penasaran. Teman - temannya juga penasaran.


"Aku hanya berdoa untuknya supaya dapat sahabat yang tulus bersahabat dengannya. " Jawaban Aluna membuat Fira sangat marah. Bahkan dia sudah membuka hadiahnya didepan teman - temannya. Fira pikir Aluna akan memberi hadiah gantungan kunci atau apalah yang bisa membuat dirinya dipermalukan.


Aluna menarik tangan sahabatnya. " Ayo kita pulang. Makanan disini tidak enak. " Vexa menjadi geram dengan ucapan Aluna.


"Oh yah Vexa, Kau lihat mobil itu. " Tunjuk Aluna pada mobil yang mengantarnya tadi.


"Ambillah, itu hadiah ulang tahun dari Santi untukmu. Hitung - hitung sebagai bayaran jamuan makan yang dimakannya tadi. " Ucap Aluna membuat Santi menatapnya dan semua ikut menatap kearahnya tidak percaya dengan ucapannya.


" Bisa saja itu mobil tamu undangan yang lain. Lagi pula mobil itu sangat mahal. " Seru Fira lagi.


" Kau bisa mencobanya, kuncinya ada didalam. " Fira dan teman - temannya pun pergi kearah mobil yang ditunjuk Aluna dan Fira membuka mobil tersebut ketika pengawal Aluna sudah keluar dari mobil itu. Fira bergetar ketika apa yang dikatakan Aluna benar adanya.


Aluna kemudian mengajak Santi untuk naik mobil yang dibawa pengawal yang mengikuti Aluna.


"San matilah aku. Itu mobil Arka. Kenapa aku juga sok kayak tadi. Seharusnya aku membiarkan mereka menghina kita. " Aluna menyadarkan kepalanya dibahu Santi.


" Apa yang harus aku katakan pada suamiku. " Aluna bahkan mulai menangis sendiri.

__ADS_1


"San aku ikut ke kontrakan. " Ide gila dari Aluna yang ingin lari dari amukan suaminya. Santi hanya menurut saja.


__ADS_2