Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
KEMBALI KE KOTA


__ADS_3

Hari ini Arka dan Aluna akan kembali ke kota. Aluna sudah berusaha membujuk ibunya untuk ikut dan tinggal bersama dirinya dan juga Arka, namun ibunya tetap menolak. Alasannya karena ibunya lebih nyaman tinggal dikampung dan ingin setiap saat bisa mengunjungi makam suaminya kapanpun dia rindu ingin bertemu dengan suaminya. Aluna sangat menghargai keputusan ibunya karena Aluna juga tidak ingin almarhum ayahnya kesepian ditinggal sendiri.


Asmita dan juga keluarga Santi mengantar Aluna, Arka dan Santi ke pelabuhan. Baru kali ini Arka melakukan perjalanan dengan menggunakan kapal very, walaupun dia banyak mengeluh namun dia tetap mengikuti keinginan Aluna yang tidak ingin menggunakan pesawat pribadi milik Arka.


Sengaja Aluna menyuruh Arka menghubungi Frans untuk menunggu mereka di kota XX. Karena sebelum Aluna kembali ke Jakarta, dia ingin mengunjungi Mira dan keluarganya. Aluna juga sepertinya sengaja, dia ingin melihat bagaimana reaksi tuan muda ini melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.


Jika tahu kejadiannya bakal seperti ini Aluna menurut saja kepada Arka untuk pergi menggunakan pesawat pribadi Arka. Aluna tidak tega melihat Arka yang sudah bolak balik kamar mandi akibat mabuk laut. Bahkan sepertinya semua makanan yang dia makan habis tak tersisa.


"Kamu tidak apa - apa? " Tanya Aluna sambil mengusap punggung Arka. Arka hanya menggeleng dan tiduran di pundak Aluna. Wajahnya pucat bahkan tubuhnya terus berkeringat dingin. Santi yang duduk dikursi depan Aluna, juga terlihat mengkuatirkan keadaan Arka.


Aluna mengeluarkan minyak angin dari dalam tas. Arka yang menutup matanya langsung membuka matanya, ketika telapak tangan Aluna menggosok dengan lembut perut Arka dengan menggunakan minyak angin.


"Kau bahkan sudah berani menyentuh tubuhku. " Ucapnya menggoda Aluna.


" Aku hanya membantumu mengurangi rasa mual, jangan berfikir macam - macam. " Gerutu Aluna mengembangkan senyum diwajah lemah Arka.


" Kau bisa menyentuh bagian lain untuk menghilangkan rasa mualku. " Arka tertawa kecil membisikan kalimat itu ditelinga Aluna, sontak membuat Aluna mencubit pinggang Arka. Arka memekik kesakitan namun tidak dihiraukan Aluna.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka sudah sampai dikota. Frans sudah menunggu disana dan menyuruh orang - orangnya mengurus semua barang yang dibawa Aluna, Arka dan Santi. Setelah itu mereka langsung menuju bandara.


Aluna terlihat sedih karena tidak bisa mengunjungi Mira dan keluarganya. Dikarenakan kondisi Arka yang tidak memungkinkan. Arka sudah mengatakan bahwa tidak apa - apa mereka pergi mengunjungi keluarga Aluna. namun karena Aluna kuatir dengan keadaan Arka, makanya dia meminta untuk segera ke bandara.


Setelah beberapa jam akhirnya mereka tiba di Jakarta. Frans terlebih dulu mengantar Santi ke kontrakan dan kemudian mengantar Aluna dan Arka ke rumah.


Sesampainya dirumah, Frans mengantar Arka untuk istirahat dikamarnya. Aluna menyuruh Frans untuk menghubungi Adit namun dilarang Arka. Arka mengatakan bahwa dengan dia istirahat maka semuanya akan membaik.


Arka lebih memilih membersihkan tubuhnya sebelum istirahat, sedangkan Aluna lebih memilih kedapur membuatkan teh jahe untuk menghilangkan mabuk laut Arka dan membawa makanan yang sudah disiapkan pelayan sebelum mereka sampai.


Arka sudah tiduran sambil memijat tengkuknya. Aluna masuk dengan nampan yang berisi makanan dan juga teh jahe yang dia buat.


"Kenapa tidak kau suruh pelayan untuk mengantarkan semua itu. " Seru Arka melihat Aluna menutup pintu kamar dengan menggunakan kakinya.


"Aku bisa melakukannya. " Seru Aluna mendekati Arka dan mulai menyuapi Arka makanan. Arka hanya menatap sendok yang diarahkan Aluna ke mulutnya. Arka menggelengkan kepalanya karena mulutnya belum bisa menerima makanan yang membuatnya kembali mual.

__ADS_1


"Kenapa? " Tanya Aluna susah meletakkan kembali sendok diatas piring.


"Aku belum ingin makan apapun. " Sahut Arka.


"Tapi perutmu kosong, makanlah sedikit aku akan menyuapimu. " Akhirnya Arka mengangguk. Arka kemudian makan hanya beberapa sendok saja dan meminum teh jahe yang diberikan Aluna padanya.


"Kau juga harus makan. " Arka mengambil sendok dan menyuapi Aluna.


"Aku bisa sendiri. " Aluna ingin meraih kembali sendok ditangan Arka namun Arka tidak memberikannya.


"Jangan membantah, aku ini suamimu. " Setelah mengatakan hal itu akhirnya Aluna menurut saja.


Setelah selesai makan, Arka menghubungi pelayan untuk mengambil nampan dan juga piring bekas mereka makan. Walaupun Aluna sudah bersikeras mengatakan bahwa dia bisa mengerjakannya namun Arka melarangnya. Malahan Arka menyuruh Aluna mandi. Aluna pun hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan Arka.


Selesai mandi dan ganti baju, Aluna hendak mengistirahatkan tubuhnya diranjang. Arka sepertinya juga sudah tidur disisi ranjang.


Namun setelah Aluna tidur agak jauh dan membelakangi Arka, tiba - tiba Arka memeluknya dari belakang.


"Kau belum tidur? " Tanya Aluna tetap membelakangi Arka.


"Luna... " Panggil Arka membuat Aluna berbalik kearah Arka yang masih tetap memeluknya.


"Aku ingin memperbaiki hubungan kita dan aku minta apapun yang kau rasakan dan apapun yang terjadi padamu kau bisa menceritakan padaku begitupun aku sebaliknya. " Arka mengelus pucuk kepala Aluna dan Aluna hanya mengangguk saja.


"Luna bisakah aku bertanya? " Kembali Arka berbicara dan lagi - lagi Aluna mengangguk.


"Siapa laki - laki yang waktu itu ditengah jalan bersamamu? dan dia juga laki - laki yang sama dipesta itu kan? " Pertanyaan Arka membuat Aluna kaget.


"Apakah kau melihat aku bersama dia waktu itu ditengah jalan? " Tanya Aluna penasaran. Arka mengangguk kali ini.


"Aku bukan hanya melihat kalian tapi aku juga mendengarkan apa yang kalian bicarakan. " Arka masih mengelus kepala Aluna bahkan sangat lembut.


" Dia Bryan mantan pacarku...." Aluna kemudian menceritakan dengan jujur dari awal dia bertemu Bryan, pacaran lama dengan Bryan dan akhirnya alasan mereka sampai berpisah. Walaupun cerita Aluna sudah sebagian besar diketahui Arka dari Frans namun entah mengapa Arka ingin mendengarnya langsung dari Aluna.

__ADS_1


"Apakah kau masih mencintainya? " Tanya Arka ragu - ragu. Walaupun dia sudah tahu jawabannya namun dia akan berusaha menerima.


"Entahlah... " Arka menghentikan tangannya mengelus kepala Aluna.


"Apakah kau membencinya? " Tanya kembali Arka.


"Aku tidak akan membenci seseorang yang pernah kupanggil sayang. " Jawab Aluna mulai memalingkan wajahnya dari tatapan Arka.


"Apakah kau akan membenciku jika suatu saat kita berpisah? " Pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin Arka tanyakan karena dia tidak ingin berpisah dengan Aluna, membayangkannya saja dia tidak ingin.


"Aku akan membencimu. " Sahut Aluna dengan santai. Sedangkan yang mendengarnya mulai mengangkat wajah Aluna untuk menatapnya.


"Kenapa?" Tanya Arka kembali.


"Karena aku tidak memanggilmu sayang. " Jawab Aluna santai dan kembali memalingkan wajahnya.


"Kalau begitu mulai hari ini kau harus memanggilku sayang. " Seru Arka lagi.


"Tidak mau. " Aluna mulai memunggungi Arka kembali.


Arka langsung menarik Aluna dan menindihnya. " Panggil Aku sayang atau aku akan menciummu " Arka sudah hendak mencium bibir Aluna, namun Aluna cepat - cepat memanggilnya sayang. Arka hanya tersenyum melihat kegugupan Aluna memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Panggil lagi. " Pinta Arka.


"Sayang. " Ucap Aluna dengan keras.


"Sepertinya kau tidak iklas. " Arka kembali mendekatkan wajahnya didekat wajah Aluna.


"ok baiklah, sayang... " Aluna bahkan sangat lembut mengatakannya. Arka tersenyum dan tetap mencium bibir Aluna, bahkan durasinya cukup lama. Arka menghentikannya ketika nafas Aluna sudah tersengal.


"Bukankah aku sudah memanggilmu sayang, kenapa kau masih tetap menciumku. " Ucap Aluna kesal dan Arka sudah kembali tidur disamping Aluna.


"Itu hadiahku untukmu karena telah memanggilku sayang. " Senyum bahkan mengembang diwajah tampan Arka.

__ADS_1


"Lain kali lakukan dua hal disaat aku hendak menciummu. pertama, tutup matamu dan kedua, buka mulutmu. " Aluna yang mendengarnya semakin kesal sedangkan Arka hanya tersenyum melihat tingkah Aluna.


__ADS_2