
Dunia memang harus dihadapi dengan keberanian dan sikap yang optimis. Tidak perlu takut dengan segala macam rintangan kehidupan dan segala hambatan yang datang sebagai ujian hidup. Tetapi jadikan masalah-masalah hidup itu sebagai tantangan yang akan membuat dirimu semakin kuat dan tegar dalam menghadapi hidup. Mungkin itu yang menjadi pegangan seorang gadis yang bernama Aluna Anggisty.
pagi itu seperti biasa Aluna sudah bangun sangat pagi, dia membuat sarapan dan setelahnya dia membersihkan diri dan membangunkan sahabatnya Santi.
"Kamu sudah mau berangkat kerja Lun?" Aluna sudah terlihat rapi dengan baju kerjanya.
"Iya San. Ada sarapan di meja makan. Jangan lupa sebelum berangkat kerja sarapan dulu." Ucap Aluna dan hanya diangguki sahabatnya.
"Lun makasih yah." Ucap Santi tulus dan gadis yang memakai baju atasan merah dan balutan celana panjang hitam itu hanya tersenyum mengiyakan.
"Aku duluan San. " Aluna sudah siap berangkat kerja walaupun jam kerjanya dimulai satu jam kemudian.
"Iya hati - hati yah." imbuh Santi dan hanya dibalas senyum oleh Aluna.
"Ya ampun aku sampai Lupa menanyakan perihal kepulangan Aluna. Semalam Aluna udah ketiduran pas aku selesai ngobrol sama pria itu dan paginya Aluna udah berangkat kerja. Aku harus cari waktu buat ngobrol sama Luna"
Gumam Santi mulai beranjak dari ranjang yang selama ini menemani tidurnya.
Aluna beraktivitas seperti biasanya, bahkan tidak terlihat gadis itu punya masalah karena tertutup dengan wajah yang selalu ceria dibuatnya bahkan dia mengembangkan senyum kepada setiap pelanggan di cafe tempatnya bekerja.
Setelah selesai bekerja Aluna hendak pulang ke kontrakan. Langkahnya berhenti ketika ada mobil mewah yang sedari tadi membunyikan klason. Aluna awalnya tidak mengubris suara klason yang semakin mendekatinya karena Aluna pikir hanya mobil yang lewat.
"Nona Aluna." Langkah Aluna berhenti ketika mendengar suara yang memanggil namanya dari dalam mobil yang sedari tadi membunyikan klason.
"Sekertaris itu lagi." Gumam Aluna setelah melihat seorang pria yang duduk dibalik kemudi mobilnya.
"Iya ada apa tuan." Tanya Aluna dengan senyum menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Tuan Arka ingin bertemu denganmu. Masuklah." Dengan langkah malas Aluna masuk kedalam mobil.
Setelah beberapa saat mobil mereka sampai dirumah Arka.
"Masuklah nona." Ucap sekertaris Frans yang melihat Aluna tidak bergeming dari dalam mobil. Aluna akhirnya mengikuti langkah kaki sekertaris yang membawanya.
"Tunggulah disini. Tuan Arka sedang mandi dikamarnya." Frans mempersilakan Aluna duduk di kursi sofa ruang tamu sembari menunggu Arka.
Setelah beberapa saat akhirnya Arka turun dengan rambut yang masih sedikit basah dengan menggenakan baju santai.
"Ada apa tuan ingin menemuiku?" Tanya Aluna ketika Arka sudah duduk di sofa satunya.
"Bukankah kamu yang kesini? berarti kamu yang ingin menemuiku." Ucapnya santai. Aluna yang mendengarnya merasa kesal. laki - laki dihadapannya selalu punya cara memojohkannya.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Aluna berdiri dari duduknya dan hendak melangkah pergi.
"Tinggalah kembali disini." Kalimat yang keluar dari bibir Arka membuat Aluna menghentikan langkahnya. Dia seperti ingin bertanya mengapa, namun Arka lebih dulu memberitahunya perihal alasan Arka menyuruhnya kembali dan tinggal bersama dengannya.
Aluna menutup matanya mencerna ucapan Arka. Bahkan bayangan Arka yang mendominasi seakan menari - nari dipikirannya membuat Aluna mendesah.
"Aku tidak bisa." Akhirnya Aluna memberanikan diri menolak perintah Arka.
"Kamu tidak bisa atau tidak ingin kembali." Seru Arka yang sudah geram dengan penolakan seseorang yang baru kali ini berani menolak seorang Arka Wiguna.
"Pertanyaan apa itu bukankah keduanya sama saja. Aku tidak bisa berarti tidak ingin." Gumam - gumam kecil Aluna.
"Jawab." Akhirnya suara Arka meninggi karena Aluna tak kunjung menjawabnya. Aluna yang melihat sorot mata Arka yang hendak menelannya hidup - hidup menjadi gemetar.
__ADS_1
"Aku tidak bisa karena aku tidak membawa baju ganti." Akhirnya alasan konyol itu yang keluar dari bibir Aluna.
"Kau pikir aku semiskin itu sampai tidak bisa membelikanmu baju ganti." Seru Arka kembali masih dengan mimik wajah kesalnya.
"Iya - iya kau memang kaya jadi mau beli apa aja bisa."
"Baiklah aku akan tinggal disini bersamamu. Ini semua aku lakukan demi ayah Ardian." Akhirnya Aluna mengalah karena percuma dia berdebat dengan Arka. Ujung - ujungnya Aluna yang kalah. Biarlah dia mengalah demi kebahagiaan ayah Ardian yang sudah sangat baik memperlakukannya.
"Ambil ini dan belilah semua keperluanmu besok." Arka menyodorkan kartu debit berwarna gold kepada Aluna. Tetapi lagi - lagi Aluna menolaknya.
"Tidak apa - apa tuan. Saya masih bisa mengambil baju lama saya di kontrakan besok." Seru Aluna menolak kartu yang diberikan Arka kepadanya.
"Belum sampai sejam kau bahkan berani menolak pemberianku?" Seru Arka kembali meninggikan suaranya.
"Ambil." Teriak Arka yang membuat Frans masuk keruang tamu untuk memastikan apa yang terjadi dengan majikannya. Aluna yang mendengar teriakan Arka menjadi gemetar. Aluna akhirnya mengambil kartu yang diberikan Arka. Bahkan tangannya dengan gemetar menerima kartu yang diberikan Arka padanya.
"Frans antarkan dia besok ke toko untuk membeli perlengkapannya selama dia tinggal sini bersamaku." Perintah Arka kepada sekertaris yang baru saja masuk.
"Baik Tuan." Jawab Frans.
Arka kemudian naik ke lantai dua kamarnya dan merebahkan dirinya diranjang. Sedangkan Aluna kembali duduk di sofa, kakinya serasa tidak mampu menopang tubuhnya yang bergetar. Aluna selama ini di didik dengan lemah lembut. Jadi wajar saja dia agak shok jika ada orang yang meneriaki dan membentaknya.
Arka bangun dari tidurnya karena merasa haus. Arka melihat sofa yang biasa digunakan Aluna untuk tidur tetapi tidak ada Aluna disana. Arka melihat jam dilayar depan ponselnya ternyata sudah pukul 2 dini hari.
"Apa dia benar - benar pulang ke kontrakannya?" Ucap Arka sembari melangkah keluar menuju dapur karena persediaan air minum dikamarnya sudah habis.
Langkah Arka terhenti melihat sosok gadis yang meringkuk kedinginan dengan posisi kedua tangan menopang kepalanya yang bertumpuh pada tangan sofa. Arka mendekatinya dan melihat raut wajah Aluna yang mengerut dalam tidurnya.
__ADS_1
"Apa aku keterlaluan membentaknya tadi." Arka mengamati Aluna dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.
"Dia ternyata cantik. Tetapi percuma kalau hatinya busuk. Karena semua wanita sama saja, dia akan mendekati seorang pria kaya dan ketika kau jatuh miskin maka dengan gampangnya kau meninggalkan dia. " Itulah wanita menurut Arka. Kemudian Arka meninggalkan Aluna dan pergi ke dapur mengambil minum.