Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
MENYESAL


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju perusahan Arka yang tengah duduk dikursi penumpang sambil menyadarkan kepalanya dijok mobil.Sementara Frans tetap setia dibalik kemudi. Sesekali Frans melihat kearah spion dan mendapati tuan mudanya yang sesekali tersenyum tanpa sebuah alasan menurut Frans.


"Apa aku salah melihat, tidakkan... ? Apa tadi tuan Arka tersenyum. Entahlah mungkin aku salah melihat." Gumam Frans.


Arka kembali tersenyum mengingat Aluna yang begitu polosnya percaya bahwa semalam dia tidur sambil berjalan kearah kamar Arka bahkan ke ranjang Arka.


"Apa dia sebodoh itu." Arka bergumam namun masih bisa didengar Frans.


"Maaf tuan." Frans yang merasa Arka mengatainya bodoh.


Sedangkan Arka yang mendengarnya hanya diam saja tanpa meluruskan kesalapahaman sekertaris pribadinya itu.


"Frans bukankah hari ini aku ada meeting dengan Klien dari perusahaan Trijaya? " Tanyanya kepada Frans yang tengah fokus mengemudi.


"Iya tuan. " Jawab Frans yang tahu dan bahkan dia sendiri yang mengatur setiap jadwal tuan mudanya.


" Baiklah. Katakan pada mereka kalau meetingnya akan dilaksanakan diluar kantor. " Sekertaris Frans mengiyahkan dan sesampainya di kantor Frans menghubungi sekertaris perusahaan Trijaya mengabarkan bahwa pertemuan kedua pemimpin perusaahan itu, akan dilaksanakan diluar kantor sesuai dengan intruksi tuannya.


***


"Tuan Arka." Sapa pemimpin perusahaan Trijaya tak lain adalah Hendra ayah dari Fiona.


"Silakan duduk." Hendra mempersilakan Arka untuk duduk. Walapun usia mereka terpaut jauh namun sepertinya Hendra sangat menghormati pria dingin yang mengibaskan jasnya lalu duduk di kursi sofa sebuah cafe tersebut.

__ADS_1


Hendra ingin mengajak Arka untuk bekerja sama. Terlihat dia begitu gigih mempromosikan perusahaan Trijaya. Karena setiap perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Arxia grup yakni perusahaan nomor satu di negara ini, perusahaan dibawah pimpinan pria muda yang selalu memenangkan tender - tender besar, bisa dipastikan perusahaan yang bekerja sama akan mendapatkan untung berkali - kali lipat. Itulah sebabnya banyak perusahaan ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan Arka.


Disaat Hendra sedang serius meyakinkan Arka, terlihat seorang gadis dengan mengenakan seragam pelayan cafe datang mendekat membawakan minuman yang sudah dipesan Hendra sebelum Arka datang. Entah karena kaget atau gugup gadis itu tidak sengaja menumpahkan minuman itu diberkas yang dibawah Hendra sebagai surat kontrak kerjasama dengan Arka.


Sontak Pria itu berdiri langsung mengibaskan kertas yang sedikit basah karena tumpahan air jus yang dipesannya.


"Apa kau tidak punya mata? Kau lihat ini, ini berkas yang sangat penting." Hendra menunjuk berkas yang ada ditangannya.


"Maaf tuan saya tidak sengaja." Ucap gadis yang tertunduk dengan menggenggam jemarinya kuat. Bahkan karena kerasnya Hendra memarahinya, semua tamu dicafe itu dan juga pelayan serta pemilik cafe sontak memandang kearah meja dimana ada Hendra dan Arka disana. Arka memang sengaja tidak memesan ruangan privat di cafe itu. Selama dia meeting, dia juga ingin melihat seseorang disana.


Pemilik cafe datang mendekat dan meminta maaf atas nama karyawannya.


Tetapi maaf dari gadis pelayan dan pemilik cafe tidak membuat Hendra dengan mudahnya memaafkan kesalahan pelayan cafe, yang wajahnya sudah mengeluarkan keringat dingin dengan air mata yang dalam satu kedipan saja, air bening itu akan menumpah dari pelupuk matanya.


"Gampang sekali kau minta maaf. Kau pikir dengan kau meminta maaf, kertas ini akan kembali ke bentuk semula haa! Kau tidak tahu siapa aku? Apa kau tahu, dengan mudah aku bisa membuat cafe ini ditutup." Teriak Hendra membuat gadis itu semakin gemetar.


"Baiklah aku akan memaafkanmu." Tunjuk Hendra kepada gadis itu dengan tangan telunjuknya. Gadis itu merasa sedikit lega.


"Jika kau berlutut dan mencium kakiku aku akan memaafkanmu. " Tambah Hendra membuat gadis itu membulatkan matanya.


"Jika kau tidak mau melakukannya. Maka biarkan bosmu melakukannya. " Ucapnya lagi membuat gadis itu menatap sepintas kearah pemilik cafe tak lain bosnya sendiri.


"Maafkan aku tuan. Saya mohon jangan libatkan bos saya. Beliau tidak salah." Ucap gadis itu. Kemudian dia mulai menurunkan badannya, namun bosnya berusaha menahannya. Tetapi gadis itu hanya menggeleng pelan. Menurut sifatnya dia tidak akan tega melihat bosnya yang seumuran ayahnya itu berlutut karena kesalahannya.

__ADS_1


Hendra yang melihat gadis yang tak berdaya itu mulai berlutut, tersenyum bangga. Dia bisa menunjukkan dengan bangga kepada Arka bahwa dia seorang pengusaha yang mampu membuat orang berlutut kepadanya. Hendra sering mendengar bahwa Arka tipekal orang yang menyukai seseorang yang tegas dan berwibawa seperti yang dilakukan Hendra saat ini.


Belum sampai gadis itu berlutut, tiba - tiba Arka berdiri dari duduknya. Dia menarik kasar tangan gadis itu dan membawanya keluar menuju mobil miliknya. Sesampainya dimobil dia membuka mobil dan memasukkan paksa gadis itu bahkan Arka tidak menunggu sekertaris Frans yang duduk dikursi depan cafe menunggu tuannya yang seharusnya selesai meeting setengah jam lagi.


Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh sehingga tidak menunggu waktu lama mereka sampai dirumah Arka. Sesampai dirumah Arka kembali menarik kasar tangan gadis itu, membawanya kedalam rumah dan menghempaskannya ke sofa ruang tamu rumahnya.


"Apa kau sebodoh itu. " Teriak Arka dengan menggenggam kuat jemarinya.


"Aku bahkan menyesal menyetujui permintaan ayahku, untuk menikahi gadis yang dengan mudahnya berlutut didepan seseorang. Apa kau tidak punya harga diri ha? " Arka meraih bantal sofa dan melemparnya ke sembarang arah. Namun tepat mengenai gadis itu.


"Aku bahkan baru kali ini meeting diruangan terbuka, karena aku ingin melihat bagaimana kau bekerja. Tetapi apa tadi yang kau lakukan? Berlutut haa. " Teriaknya lagi membuat Aluna semakin takut.


"Pertama kali aku bertemu denganmu di cafe itu, kau hampir dinodai kedua orang pria. Sekarang kau berlutut dihadapan seorang pria Apa kau senang melakukan semua hal yang menjijikan seperti itu? Apa mungkin jika pria menyuruhmu melayani tubuh mereka kau juga akan menurutinya haa, menjijikan." Arka bahkan tidak bisa mengontrol kemarahannya.


Deg Aluna seperti ditampar keras dengan kata - kata yang dilontarkan Arka padanya.


Aluna menahan sesak didadanya karena sakit hati dengan ucapan Arka.


" Apa aku punya kekuatan untuk menolak permintaan pria tadi? Apa aku akan membiarkan cafe yang sudah susah payah dibangun dengan keringat darah oleh pemiliknya hancur, hanya karena kesalahanku. Apa aku akan membiarkan pemilik cafe yang sudah setua ayahmu itu berlutut menggantikan aku.


Apa aku semenjijikan itu dimatamu karena aku berlutut mendapatkan maaf karena kesalahanku. Kalian orang kaya tidak akan tahu bagaimana rasanya menjadi orang kecil seperti kami, yang berusaha mempertahankan apa yang sudah susah payah kami dapatkan. Jika kau telah menyesal menikahiku, aku yang lebih menyesal karena harus bertemu denganmu. Jika waktu bisa diputar aku tidak akan menolong ayahmu agar aku tidak bisa terjebak dengan semua sandiwara ini. Kalian orang kaya bisa berbuat seenaknya, dengan uang kalian bisa menghancurkan kebahagiaan orang lain." Aluna sudah tidak mampu menahan mulutnya untuk tetap bicara. Bahkan kenyataan ayah Bryan yang tidak pernah menerimanya karena status sosial membuat Aluna membenci orang kaya.


Arka yang mendengar Aluna bicara panjang lebar dengan airmata yang terus mengalir hanya mendengarnya tanpa membantah ataupun memarahinya lagi.

__ADS_1


"Apa kau sudah selesai bicara?" Tanya Arka ketika Aluna sudah tidak bicara lagi. Arka merasa bersalah karena dia sudah keterlaluan membentak gadis yang menangis sesegukan itu.


"Jika kau menyesal menikah denganku. Lebih baik kita berpisah. Kau bisa mengatakan kepada ayah Ardian kalau kau telah melihat aku berselingku. Dengan begitu ayahmu akan setuju jika kita berpisah. " Ucap Aluna mulai melangkah meninggalkan Arka diruang tamu.


__ADS_2