
Keesokan harinya Aluna lebih dulu bangun. Dia berusaha menyingkirkan dengan pelan tangan Arka yang masih melingkar dibagian pinggangnya. Tetapi karena gerakannya Arka akhirnya terbangun.
"Ada apa?" Tanya Arka ketika mulai membuka matanya.
" Aku ingin bangun tuan? " Sahut Aluna tanpa memandang Arka. Aluna masih merasa canggung harus bertatapan dengan Arka, apalagi sekarang tidak ada penghalang diantara keduanya dan posisi mereka yang masih berada diranjang yang sama. Arka yang menyadari tangannya masih melingkar dibagian pinggang Aluna langsung menarik cepat tangannya.
Setelah itu Aluna bangun dari ranjang dan cepat - cepat masuk kedalam kamar mandi
"Apa dari semalam aku memeluknya seperti itu?" Gumam Arka dengan tersenyum.
Setelah beberapa saat Aluna sudah keluar dari dalam kamar mandi. Aluna seperti sudah siap dengan baju kerjanya.
Arka menatap jam pada ponsel miliknya yang ia raih pada nakas dekat ranjangnya.
"Apa kau pergi bekerja?" Tanya Arka menatap Aluna yang sudah mulai menyisir rambutnya.
"Iya tuan. " Jawab Aluna seadanya.
"Bukankah cutimu selama dua hari?" Arka kembali bertanya sambil mulai duduk ditepi ranjang.
__ADS_1
" Aku telah membatalkannya." Aluna kemudian meraih tas ransel kecil miliknya dan memakai jaket merah dengan garis putih. Belum juga Arka bertanya Aluna sudah berlalu meninggalkan kamar Arka.
"Dasar gadis bodoh, aku bahkan belum selesai bicara." Arka menatap kesal kearah pintu kamar yang sudah Aluna tarik handlenya dari luar.
Aluna sebenarnya tidak membatalkan cutinya, hanya saja Aluna ingin menghindar dari Arka. Jadi dia lebih memilih pergi ke cafe.
Sementara itu Arka juga sudah bersiap - siap pergi ke perusahaan.
******
Setelah siang hari Fiona mengajak kedua temannya untuk makan siang diluar dan sekalian memberikan undangan pernikahannya dengan Bryan. Mendengar bahwa dari pihak Bryan setuju dengan pernikahan yang akan diadakan hari minggu itu, membuat Fiona sudah menghubungi pihak wedding organizer untuk menyiapkan segala sesuatu mengenai pernikahannya. Salah satu temannya menyarankan untuk mereka makan di cafe dekat dari kantornya bekerja karena setelah makan siang dia harus segera kembali ke kantor karena ada meeting penting dengan atasannya. Akhirnya Fiona dan teman yang satunya mengiyakan.
Setelah beberapa saat ketiganya sudah sampai di cafe yang direkomendasikan temannya. Mereka masuk dan memesan sebuah tempat yang paling pojok di cafe itu. Mereka kemudian memesan sesuai selera masing - masing dengan menunjuk beberapa jenis makanan yang tertera di buku menu yang diberikan oleh pelayan cafe.
"Fi, bukankah itu perempuan yang ada di toko?" Salah satu teman Fiona melihat Aluna yang berdiri didepan kasir cafe.
"Oh, ternyata perempuan itu kerja disini? " Kemudian Fiona meletakkan sendok makannya dan mengambil sesuatu didalam tasnya kemudian beranjak kearah Aluna.
"Oh jadi kau bekerja disini? " Fiona tersenyum tipis kepada Aluna. Sedangkan Aluna walaupun dia kaget dengan kehadiran Fiona di cafe itu namun dia bersikap profesional.
__ADS_1
"Cocok sih memang pekerjaan kayak gini sama kamu. Jadi seorang pelayan. " Bahkan suara dan kata - kata Fiona terdengar mengejek. Aluna yang mendengarnya hanya diam saja dan tetap melayani setiap pelanggan cafe yang hendak membayar kepadanya.
" Bagaimana reaksi Bryan yah jika dia tahu kau jadi seorang pelayan?" Kali ini Aluna menghentikan aktivitasnya. Aluna menatap Fiona seakan menerawang bahwa mungkinkah Bryan juga berada di Jakarta.
" Kenapa sih kau selalu mengganggu hidupku?" Ucap Aluna menahan kekesalannya.
" Karena aku suka. Aku suka melihatmu menderita dan dipermalukan." Fiona bahkan tersenyum mengatakannya.
"Terserah kau saja." Pungkas Aluna. Tidak ada untungnya berdebat dengan Fiona pikirnya. Kemudian Aluna menyuruh Sita salah satu pelayan yang sudah menjadi temannya untuk menggantikan dirinya dimeja kasir. Sebelum Aluna beranjak pergi, Fiona kemudian berbicara lagi " Apa kau tidak akan memberikan aku selamat? " Namun lagi - lagi Aluna tidak mendengarkan ucapan Fiona. "Seharusnya kau memberikan aku selamat karena sebentar lagi aku dan Bryan akan segera menikah karena saat ini aku sedang mengandung buah cinta kami."
Kali ini Aluna mematung ditempatnya, apa yang barusan ia dengar seperti petir yang menyambarnya. Aluna kemudian menguatkan hatinya dan mencoba tidak perduli dengan ucapan Fiona. Walaupun hatinya masih terasa sakit mendengar Bryan telah menghamili Fiona dan segera menikah.
"Selamat yah. Semoga kalian bahagia." Ucap Aluna sambil tersenyum.
"Sepertinya ucapan selamatmu tidak tulus nona Cinderela? Sepertinya kau masih berharap untuk calon suamiku kembali padamu." Seru Fiona menatap Aluna.
" Aku sudah menikah jadi untuk apa aku mengharapkan calon suamimu?" Aluna berusaha menutupi rasa sakitnya dengan mengatakan hal itu. Fiona yang mendengarnya hanya tertawa mengejek.
" Seharusnya kau mencari alasan yang lebih masuk akal nona Cinderela. Menikah? Hahaha. Aku akan percaya jika kau menikah dengan pria tua kaya yang memberikan kartu gold itu padamu." Fiona bahkan mengingat bagaimana Aluna memiliki kartu yang bahkan hanya ada lima seperti itu di negara ini. Kalau bukan menjadi wanita simpanan orang kaya atau peliharaan pria tua kaya raya.
__ADS_1
"Ok nona Cinderela jika kau benar - benar sudah tidak menginginkan calon suamiku, datanglah ke pesta pernikahan kami dan bahwalah suami hayalmu itu." Seru Fiona sambil memberikan undangan pernikahannya kepada Aluna. Aluna bahkan gemetar mengambil undangan dari tangan Fiona. Setelah merasa urusannya dengan Aluna selesai maka Fiona kembali ke tempatnya.
"Aku harap kau datang dan aku akan membuatmu dipermalukan dipesta pernikahanku nanti Aluna." Gumam Fiona menatap kearah Aluna.