
Wajah bahagia kembali terpancar dari kedua pasangan yang masih dibawah selimut yang sama. Arka tidak berhenti mencium seluruh inti wajah istrinya. Bahkan dia sudah tidak merajuk lagi.
"Sayang ayo mandi. " Ajak Aluna, namun Arka sepertinya masih belum rela kebersamaan mereka harus berakhir. Lima tahun adalah waktu yang sangat lama untuk mereka berpisah. Jadi Arka ingin menghabiskan setiap detik waktunya dengan istrinya.
Mereka sudah berjam - jam didalam kamar itu. Beruntung Al dan Giska tidak mencari bundanya. Sebenarnya kedua anak itu sempat menanyakan bunda mereka sama opa Ardian dan oma Asmita, namun sepertinya kedua orangtua itu sangat mengerti bahwa Arka dan Aluna perlu menghabiskan waktu berdua. Itulah sebabnya mereka mengajak Al dan Giska untuk jalan jalan, ditemani Adam dan juga Frans.
"Sayang, Aku sudah lapar. Kita mandi sekarang yah! Kasihan juga Al sama Giska. Apa kamu tidak akan memberitahu Giska kalau kamu adalah daddynya? " Benar, hanya Giska yang belum tahu kalau Arka adalah ayah yang dirindukannya selama ini.
Karena ajakan sang istri akhirnya Arka mau juga meninggalkan ranjangnya.
Mandi bersama butuh waktu hampir sejam. Karena apa? Arka bahkan masih menggunakan kesempatan mandi bersama mereka, untuk menyatuhkan tubuhnya bersama sang istri. Dia masih takut bahwa semua ini hanya mimpi.
***
"Sayang, rumah kok terlihat sepi? " Aluna berucap sambil tangannya tetap digandeng oleh sang suami menuruni anak tangga. Setelah sepuluh menit lalu mereka menyelesaikan acara mandi bersama.
" Sebentar aku telpon ayah... " Meraih ponsel dikantong celananya, Arka menghubungi ayah Ardian.
"Ayah kemana? "
" Ayah sama ibu mertuamu mengajak Giska dan Al jalan - jalan keluar. Ayah ajak Adam dan juga Frans. "
"Habiskan waktumu dengan Luna, kau sudah menderita selama ini. Karena merindukannya kan? "
"Iya ayah. "
__ADS_1
"Buatkan ayah cucu lagi. Ayah tutup telponnya. " Pengertian banget sih ayahnya ini.
"Gimana sayang? " Tanya Aluna.
"Ayah sama mama Asmita mengajak Al dan Giska jalan - jalan. Kata ayah kita disuruh bikin adiknya Al dan Giska. " Sontak Aluna merona. Kenapa ayah mertuanya itu bisa berkata seperti itu. Tidak tahu saja kalau anaknya sudah membuatnya lelah dalam hitungan jam saja.
"Gimana? " Tanya Arka dengan mengangkat kedua alisnya.
"Gimana apanya? " Aluna melangkah kearah dapur.
"Saran ayah tadi? Bikin adiknya Al sama Giska. " Aluna memutar bola matanya.
"Sayang. Aku lapar yah. Jangan aneh - aneh. " Mulai duduk dimeja makan.
"Habis makan yah." Tawar suaminya itu. Bahkan Aluna merasa suaminya itu benar - benar haus kasih sayang.
***
Arka benar - benar menagi ucapan istrinya itu. Selesai makan, dia sudah mengajak istrinya itu ke kamar. Namun sayang, disaat dia dan Aluna menapaki anak tangga, terdengar teriakan dari balik pintu rumah mereka.
"Bunda... " Teriak Giska dan Al secara bersamaan. Aluna mendengar suara kedua buah hatinya langsung turun mendapati kedua anaknya yang berlari kearahnya. Sedangkan Arka turun secara perlahan mengikuti sang istri. Hancur sudah acara bikin adik untuk Al dan Giska. Kenapa ayahnya memberi harapan dan langsung mematahkannya secepat ini.
"Maaf. Mereka merengek minta pulang. " Bisik ayah Ardian melihat raut wajah anaknya. Bahkan ayah Ardian tersenyum mengatakan itu. Arka hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Daddy. " Kali ini abang Al menghampiri ayahnya. Arka meraih tubuh anak laki - lakinya itu. Membawanya kedalam pelukannya. Benar, dia juga seharusnya menghabiskan waktu bersama putra dan putrinya. Lebih mengakrabkan diri dengan mereka. Dia bahkan tidak tahu bagaimana mereka tumbuh selama ini. Apa yang mereka suka dan apa yang tidak mereka sukai, dia juga tidak tahu.
__ADS_1
"Abang Al, kok panggil paman, daddy? " Tanya Giska yang merasa heran. Tadi siang memang dia hanya melihat acara peluk - pelukan. Antara bundanya dengan opa Ardian dan juga oma Asmita. Tapi untuk penjelasan Arka adalah ayahnya, Giska memang belum diberitahu. Semua menatapnya tersenyum. Arka menurunkan putranya. Ia turunkan tubuhnya, mensejajarkannya dengan Giska.
"Apa Giska tahu dimana ayahnya Giska? " Tanya Arka menatap putrinya itu.
"Kata bunda, ayah pergi keluar negeri untuk mencari uang buat Giska dan abang Al. Bunda juga bilang suatu hari nanti ayah pasti pulang." Jawabnya sambil sesekali menatap bundanya yang berurai airmata.
"Apa Giska tahu kalau ayahnya Giska udah pulang dan udah jemput Giska, abang Al dan juga bunda? " Mungkin Giska tidak mengerti, dia hanya menggeleng. Lalu ia bertanya dengan wajah berbinar. "Apakah ayah benar sudah pulang dari luar negeri? " Arka mengangguk. "Benarkah bunda? " Aluna juga mengangguk. Giska terlihat sangat senang. Lalu wajahnya berubah sedih.
" Tapi kenapa ayah belum jemput Giska, abang Al sama bunda? Emang ayah lupa jalan kerumah Giska yah, bunda? " Kembali menatap Aluna.
"Giska sayang. Apa Giska ingat siapa yang bawah Giska kerumah ini? " Tanya Arka dan Giska tersenyum.
"Pamanlah. Giska masih ingat kok. " Ucapnya bangga.
"Apa Giska ingat siapa yang jemput abang Al dan juga bunda kesini? " Tanya Arka lagi.
"Paman. "
" Bukan paman yang jemput Giska, bunda dan juga abang Al kesini. Tapi ayahnya Giska.
" Anak itu ternyata belum mengerti juga. Sampai abang Al mendekati dan berbisik sesuatu ditelinga adik perempuannya itu.
"Benarkah abang Al? " Menatap abang Al dan abang Al mengangguk, mengiyakan.
"Jadi paman ini, ayahnya Giska? " Kali ini dia menatap Arka. Arka mengiyakan. Arka bahkan sudah menyiapkan diri jika nanti Giska akan bersikap seperti abang Al waktu tahu kalau Arka adalah ayahnya. Tapi sepertinya Arka bisa bernafas lega ketika gadis kecil itu datang memeluknya.
__ADS_1
" Kenapa ayah tidak bilang sama Giska waktu pertama kali ketemu Giska ditaman bermain? " Arka bahkan tidak tahu kalau istri dan anaknya masih hidup waktu itu.
"Maaf sayang. " Hanya itu yang bisa Arka katakan.