
Setelah pembicaraan dengan ayahnya kemarin. Akhirnya hari ini Arka dan juga Aluna mengantar Ardian kerumahnya. Setelah mengobrol beberapa saat dengan ayahnya, Arka berpamitan dengan ayahnya begitu juga Aluna. Sedangkan sekertaris Frans seperti biasa hanya menunggu didepan bersama dengan Adam pengawal pribadi Ardian.
Ardian mengantar mereka sampai didepan rumahnya. Setelah mobil Arka sudah meninggalkan halaman rumah, barulah laki - laki dengan mengenakan kemeja kotak - kotak itu masuk kedalam rumahnya. Walaupun Ardian hanya tinggal dengan pelayan rumah dan Adam pengawal pribadinya. Namun Ardian tidak merasa kesepian. Karena menurutnya Kamila almarhum istrinya selalu menemaninya dirumah itu.
"Karena ayahku sudah kembali ke rumahnya, maka kamu juga bisa pulang ke tempatmu."
Ucap Arka dalam perjalanan pulang sehabis mengantar ayahnya.
Aluna yang mendengarnya merasa senang. Karena dia tidak harus serumah dan sekamar dengan pria dingin disampingnya.
"Ok. " Sahut Aluna yang terlihat senang.
"Bisakah hari ini aku pulang ke kontrakan aku?" Tanya Aluna menatap kearah Arka.
"Terserah kamu." Arka menjawab tanpa melihat kearah Aluna.
"Frans hentikan mobilnya." Ucap Arka lagi dan sekertaris Frans langsung menghentikan mobilnya.
"Loh kenapa tuan minta berhenti ditengah jalan. " sekertaris Frans.
"Turun." Ucap Arka kali ini menatap Aluna.
"Kenapa aku diturunin disini tuan?" Aluna bingung. Ini masih jauh dari kontrakkannya.
__ADS_1
"Sekarang aku tanya sama kamu, tadi kamu bertanya apa padaku?" Arka balik bertanya membuat Aluna sejenak mengingat apa yang dia katakan.
"Bisakah hari ini aku pulang ke kontrakan aku?" Akhirnya Aluna mengingat apa yang dia tanyakan dan mengerti kenapa Arka menyuruh sekertaris Frans menghentikan mobilnya.
" Dasar tidak punya perasaan. Kan aku bilang bisakah hari ini aku pulang ke kontrakan? bukan sekarang. Setidaknya minta sekertaris Frans mengantar aku sampai di depan kontrakan atau setidaknya biarkan aku pulang dulu kerumahmu untuk mengambil barang - barangku." Gumam Aluna yang sudah turun dari dalam mobil Arka.
"Aluna kamu itu bodoh yah, kamu kan tidak punya barang - barang dirumah itu. " Aluna menepuk jidatnya sambil menggerutu memandang mobil Arka yang sudah berjalan, menjauh dari posisinya saat ini. Bahkan Arka tidak mengatakan apapun setelah Aluna turun.
Aluna kemudian naik angkutan umum yang kebetulan jalurnya dekat dari kontrakan Aluna. Sesampainya dikontrakan Aluna mencari Santi, dia sudah merindukan sahabatnya itu walaupun hanya beberapa hari mereka berpisah.
"Aku lupa kalau Santi kerja di hotel. Jadi walaupun ini hari minggu tapi Santi pasti tetap kerja di hotel. " Gumam Aluna setelah dia tidak menemukan Santi di kontrakan. Aluna merebahkan tubuhnya diranjang. Rasanya dia begitu rindu dengan ranjang yang biasa dia tempati dengan Santi.
Aluna mengambil hp miliknya dan mengabarkan kepada Santi perihal dirinya sudah pulang ke kontrakan.
"Aku tidak hanya menginap tapi aku akan tinggal lagi bersamamu." Santi membaca balasan pesan dari Aluna. Santi sangat senang itu artinya Aluna akan selalu bersamanya dikontrakan. Namun disisi lain Santi mengingat bahwa Aluna sudah menikah dan setahunya walaupun Aluna menikah kontrak tapi kontrak pernikahan mereka selama setahun. Namun yang menjadi pertanyaan Santi, kenapa Aluna sudah pulang beberapa hari dari pernikahannya? Rasa penasaran tidak membuat Santi menanyakan hal itu lewat pesan, dia akan menanyakan hal itu nanti dirumah, pikirnya.
Setelah malam menjelang, akhirnya Santi pulang ke kontrakan. Aluna sudah memasak makan malam untuk mereka makan bersama. Walaupun sebenarnya Santi sudah mendapat jatah makan di hotel. Namun Santi tetap makan masakan yang sudah Aluna masak. Mendapat panggilan telpon dari teman sekerjanya Santi memilih bicara diteras kontrakan. Sedangkan Aluna lebih memilih menunggu sahabatnya itu didalam kamar.Aluna yang sudah tertidur dan Santi ikut tidur disamping Aluna.
Sementara dirumah Arka, Arka juga sementara tidur dikamarnya. Arka terpaksa bangun ketika ada panggilan video masuk di handponnya.
"Hai ayah." Sapanya sembari melambaikan tangan kepada pria yang sementara tiduran sambil menelpon dirinya.
"Ada apa ayah menelepon Arka malam - malam? apa ayah sakit?" Tanya Arka dengan mimik kuatir.
__ADS_1
"Tidak. Ayah hanya sekedar menelpon saja." Ucap Ardian menatap layar handponnya.
"Oh. Syukurlah." Seru Arka sedangkan Ardian seperti mengamati Arka dan sekitarnya.
"Luna mana? " Tanya Ardian membuat Arka kaget. Arka sebenarnya sudah mempredisikan hal ini. Tapi karena Aluna meminta pulang. Jadi Arka mengiyakan saja karena tidak ada alasan untuk Arka menahannya. Arka tidak ingin Aluna berfikir bahwa Arka menahannya jika Arka tidak menginjinkannya pulang.
"Luna tadi ijin ke Arka untuk pulang ke kontrakan. " Jawab Arka dan Ardian terlihat berfikir.
"Apa jangan - jangan kau mengusirnya setelah ayah pulang?" Tanya Ardian yang membuat Arka mencoba mencari jawaban yang bisa diterima ayahnya agar ayahnya tidak kepikiran.
"Arka tidak mengusirnya Ayah.Besok dia akan kembali ke sini. Dia hanya mengambil beberapa barang pentingnya. Bahkan baju - bajunya masih ada disini." Arka mengambil baju yang sempat dipakai Aluna waktu hari pertama dia datang dirumah Arka. Syukur Arka belum membuangnya.
"Oh. Ayah pikir kamu mengusir Aluna. Syukurlah kalau begitu ayah lega. " Ucap Ardian dengan tersenyum dan Arka juga tersenyum.
"Kalau begitu ayah tutup telponnya. Nanti ayah telpon lagi besok pagi." Seru Ardian dan keduanya sama - sama mengakhiri sambungan telpon mereka.
"Aku harus menyuruh perempuan itu kembali kesini. Ayah pasti akan kembali menelpon atau bisa jadi ayah akan datang kesini. Aku tidak mungkin memberikan alasan yang sama setiap ayah menanyakan perempuan itu." Gumam Arka dan meraih ponselnya dan hendak menghubungi seseorang.
"Halo tuan. " Sapa seorang pria yang sudah mengangkat telpon dari Arka.
"Frans besok kau jemput Aluna dan bawah kesini." Seru Arka dan ternyata yang ditelponnya adalah sekertaris Frans.
"Baiklah tuan." Jawab sekertaris Frans dan setelah mendapat jawaban dari sekertaris Frans, Arka menutup sambungan telponnya, kemudian dia kembali tidur.
__ADS_1