
"Paman itu rumah Giska. " Tunjuk Giska pada sebuah rumah minimalis yang ternyata tidak jauh dari taman bermain tadi.
Arka hanya tersenyum melihat ekspresi wajah menggemaskan dari anak gadis itu. Sambil tangan mungilnya menunjuk kearah rumahnya.
Arka menghentikan langkahnya setelah melihat sosok wanita dan pria yang baru saja keluar dari dalam rumah. Sosok wanita yang hampir membuatnya gila lima tahun terakhir. Sosok pria yang pernah sangat dibincinya waktu itu. Siapa lagi kalau bukan Aluna dan Bryan. Bryan terlihat menepuk pundak Aluna dengan tersenyum manis, dibalas oleh senyum yang manis juga dari Aluna. Arka beberapa kali mengucak matanya, memastikan bahwa dia tidak salah melihat.
Benarkah itu Aluna istrinya, yang meninggal lima tahun yang lalu? Ataukah dia hanya berhalusinasi seperti biasanya.
Sekali lagi dia yakin itu Aluna, dia tidak salah melihat. Apalagi disana juga ada Bryan mantan kekasih istrinya.
"Jadi selama ini mereka menipuku. "
"Apakah kematian itu dipalsukan keduanya, agar mereka bisa bersama seperti saat ini. " Arka berasumsi sampai disitu. Tangannya susah terkepal. Menahan emosi yang sudah naik keatas kepalanya.
" Aku akan membalas kalian."
"Paman ayo." Ajak Giska. Kemarahan Arka runtuh seketika melihat gadis manis yang menarik tangannya saat ini. Benar Giska adalah putrinya. Arka memeluk Giska dan berbalik kearah mobil miliknya.
"Paman mau bahwa Giska kemana? " Tanya Giska saat Arka masuk kedalam mobil.
"Frans antar aku pulang. " Ucapnya pada Frans yang memang dari tadi menunggunya didalam mobil.
"Tapi tuan anak kecil itu. " Frans menyadari jika Arka membawa gadis kecil itu bersamanya.
"Frans jangan membantah. " Frans pun menyalahkan mesin mobilnya, mulai melajukan mobilnya meninggalkan lokasi taman bermain tadi.
"Paman, paman mau bawa Giska kemana? Paman mau nyulik Giska yah? " Gadis itu menangis meraung minta diturunkan. Benar kata abang Al, jangan percaya dengan orang asing. Mereka hanya berpura - pura baik saja.
__ADS_1
"Anggap aja seperti itu. " Arka bergeming setelah itu. Membiarkan Giska memukulnya dan tetap merengek minta diturunkan setelah dia tahu dirinya telah diculik.
Sementara itu dirumah Aluna mulai menanyakan keberadaan Giska pada abang Al.
" Giska sepertinya bahkal datang sebentar lagi. Al liat kalau Giska san paman itu ngikutin Al kesini. " Abang Al walaupun meninggalkan Giska tadi, namun dia berjalan perlahan. Karena dia ingin memastikan kalau adiknya itu mengikutinya. Setelah hampir mendekati rumah, barulah abang Al pura - pura masuk cepat - cepat kedalam rumah.
"Paman? " Tanya bundanya menyelidik.
"Hhmm, Iya paman yang kemarin mommy. " Jawab abang Al takut - takut.
"Paman tukang eskrim yang Al bilang itu? " Sudahlah mengiyakan saja, dari pada bundanya memarahinya.
Namun yang ditunggu tidak muncul - muncul. Abang Al dan Aluna mulai kuatir dan menyusul Giska. Tapi nihil gadis kecil itu bahkan tidak terlihat dekat rumah mereka.
"Abang Al ditinggalin dimana adiknya? " Ucap Aluna yang mulai panik.
Mereka kemudian menyusul ketaman bermain namun nihil tidak ada Giska disana.
"Ya Tuhan Giska dimana kamu nak. " Aluna kembali berlari ke stand eskrim, tidak ada juga disana. Mereka tetap mencari kesana kemari, menanyakan pada orang - orang yang mereka temui sambil memperlihatkan foto Giska didalam ponsel Aluna. Hampir semua mengatakan tidak melihat gadis kecil itu.
"Pak apakah bapak melihat anak kecil ini? " Bertanya pada tukang balon yang biasa mangkal di taman bermain itu.
"Oh anak ini, dia dibawah sama seorang pria masuk kedalam mobil, kira - kira setengah jam yang lalu. " Aluna berlutut lemas. Anaknya tidak mungkin menjadi korban penculikkan anak kan? airmata mulai membanjiri pipinya. Abang Al merasa bersalah. Tidak seharusnya dia meninggalkan adiknya.
Aluna menghubungi Bryan dan menceritakan semuanya. Bryan terkejut dan berjanji akan segera kembali kerumah Aluna.
***
__ADS_1
Mungkin karena kelelahan menangis, Giska tertidur didalam mobil. Sesampainya dihalaman rumah, Arka membawa tubuh gadis kecil itu kedalam rumah. Frans ingin bertanya namun menahan mulutnya.
Ayah Ardian dan juga ibu Asmita yang sementara duduk diruang keluarga terkejut mendapati Arka membawa seorang gadis kecil masuk kedalam rumah dan membawanya kedalam kamarnya.
"Frans siapa gadis kecil itu? " Memilih menanyakan hal itu pada Frans yang baru saja masuk kedalam rumah.
Frans kemudian menjelaskan bahwa Arka bertemu gadis itu ditaman bermain kemarin dan juga hari ini. Namun Frans tidak tahu alasan Arka membawa gadis itu.
"Ya Tuhan, bagaimana kalau orangtua gadis kecil itu mencari putri mereka. " Ayah Ardian berucap sambil menatap kearah kamar putranya. Ada apa dengan putranya itu. Ayah Ardian memilih menanyakkan hal itu pada putrannya. Dia menapaki anak tangga, masuk kedalam kamar anaknya setelah mendapat ijin dari putranya itu.
"Nak, siapa gadis kecil itu? " Tanya ayah Ardian dengan pelan. Karena tidak ingin membangunkan gadis kecil yang tengah tertidur dengan bekas airmata dipipi tembemnya.
"Dia anak Arka ayah. " Terkejut dengan jawaban Arka. Ayah Ardian bahkan merasa kalau anaknya ini sudah mulai kurang waras. Bukankah setahun terakhir ini, keadaan Arka sudah berangsur baik. Tapi kenapa sekarang anaknya mengaku kalau gadis kecil itu adalah putrinya. Apakah kehilangan Aluna dan calon anak mereka lima tahun lalu, masih menyisakkan luka yang cukup dalam bagi Arka? Ayah Ardian bahkan tidak tahu harus berkata apa. Ayah Ardian hanya menepuk pundak anaknya dengan wajah sedih.
" Ayah harap kau kuat nak. " Ucap ayah Ardian meninggalkan kamar itu. Ayah Ardian tidak tahu kalau apa yang dikatakan Arka tadi adalah benar adanya. Giska memang putrinya bersama Aluna.
***
" Lun kok bisa? " Tanya Santi sahabatnya. Dia juga datang kerumah Aluna setelah mendengar kabar kalau Giska diculik oleh seseorang.
Aluna masih menangis sedari tadi.
"Ini semua salah Al tante. " Abang Al yang menjawab dengan wajah sedihnya.
" Al yang ninggalin Giska sama paman itu. " Sudah mulai menangis. Abang Al selama ini tidak ingin melihat mommynya menangis. Tapi sekarang mommynya menangis karena kesalahannya.
"Lun, aku sudah lapor polisi. Sebentar lagi mereka kesini minta keterangan Alka. " Bryan berucap seraya mengusap punggung abang Al.
__ADS_1
"Al, ceritakan kepada pak polisi sejujur - jujurnya kejadian yang terjadi. " Abang Al mengangguk. "Iya paman. "