Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
TIBA TIBA INGAT


__ADS_3

Setelah membersihkan dirinya, Aluna duduk dipinggir ranjang dengan memeluk handuk yang sedikit basah karena mengeringkan tubuhnya. Tatapannya kosong seperti memikirkan sesuatu.


Santi yang baru saja pulang bekerja langsung masuk ke kamar menatap heran sahabatnya.


"Lun kamu lagi mikirin apa? Dari tadi aku panggil nggak dijawab - jawab." Santi menghampiri sahabatnya setelah meletakkan tas miliknya.


"Eh San kau sudah pulang. Maaf aku tidak dengar." Jawab Aluna yang baru menyadari keberadaan sahabatnya.


"Bagaimana kamu bisa dengar, kamu melamun kayak githu. Lun kalau kau ada masalah cerita sama aku. Siapa tahu aku bisa bantu." Santi meraih tangan Aluna dan menggenggamnya lembut.


"San aku akan menikah besok." Santi yang mendengar perkataan Aluna sangat kaget.


"Jangan bercanda Lun." Santi tertawa memukul pelan tangan Aluna.


"Apa aku kelihatan bercanda San?" Aluna menatap Santi. Sorot mata Aluna menggambarkan tidak ada kebohongan dan candaan disana.


"Jadi kamu serius mau menikah besok Lun?" Aluna hanya mengangguk mengiyakan. Santi menutup mulutnya seakan belum percaya. Karena setahunya Aluna belum lama di Jakarta.


"Apa Bryan menyusulmu kesini dan kalian hendak menikah diam - diam besok?" Santi mencoba menebak. Karena setahunya hanya Bryan pria yang pernah menjalin hubungan dengan Aluna. Sedangkan Aluna yang mendengar nama Bryan langsung mengingat laki - laki yang berusaha ia lupakan selama ini.


"San aku ke kamar mandi dulu. Sepertinya aku meninggalkan hpku disana." Aluna bergegas ke kamar mandi. Santi mulai merebahkan tubuhnya di kasur dan ada t


yang menganjal belakangnya dan ternyata hp milik Aluna.


"Lun hpmu ada disini." Teriak Santi. Namun Aluna pura - pura tidak mendengar teriakan Santi.

__ADS_1


Sampai dikamar mandi Aluna menangis. Masalah hp yang dia bilang tertinggal hanya alasannya saja. Karena dia tidak membawa hpnya ke kamar mandi saat dia mandi tadi.


"Bryan aku sangat merindukanmu. Tapi hatiku terlalu sakit. Kenapa kau lakukan semua ini padaku. Kenapa Bee? " Ucap Aluna ditengah tangisnya.


"Aku bahkan masih menyimpan kalung yang kau berikan. Aku tidak menyangkah takdir harus memisahkan kita dengan cara seperti ini." Aluna merasa dadanya terasa sesak.


"Apa sekarang kau sudah menikah dengan Fiona ?" Air mata Aluna semakin mengalir deras dipipinya. Bryan adalah laki - laki pertama yang dicintainya. Mengingat hubungan mereka yang terbilang lama membuat Aluna belum bisa melupakan Bryan.


Setelah mencuci wajahnya dengan air dan menata kembali perasaannya Aluna kembali ke kamar dengan tersenyum.


"Lun hpmu disini." Ucap Santi sambil menyerahkan hp milik Aluna.


"Oh ternyata disini. Pantas dari tadi aku cari dikamar mandi tidak ketemu. " Ucap Aluna sambil melebarkan senyumnya.


"Aku bukan menikah dengan Bryan San. " Ucap Aluna menatap sahabatnya yang semakin bingung.


"Lalu kau mau menikah dengan siapa Lun? Kamu kho ngga pernah cerita sama aku kalau kamu selama ini punya pacar." Santi memajukan bibirnya manyun. Karena sahabatnya tidak pernah membahas kedekatannya dengan pria.


"Aku akan menikah dengan seseorang karena dia mengancamku." Santi semakin bingung sekaligus kuatir.


"Emang dia mengancammu dengan apa?" Aluna lupa bahwa dia tidak pernah cerita kepada Santi perihal dirinya yang hampir dinodai dua orang pria.


"Dia mengancamku akan menyebarkan foto aku sementara ganti baju dicafe. " Aluna terpaksa berbohong.


"Maaf San aku harus berbohong." Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Kau bisa melaporkannya Lun. Itu tindakan kriminal" Ucap Santi dengan wajah kuatir.


"Dia orang kaya San. Dia bisa menyogok siapa saja dengan uangnya dan nantinya jadi aku yang dipermalukan dan disalahkan." Jawab Aluna.


"Apakah dia pria berumur?" Santi kembali bertanya.


"Mungkin." Jawab Aluna singkat. Karena baginya Arka seperti orangtua yang tidak bisa dibantah.


"Ya ampun Lun. Sabar yah." Ucap Santi memeluk Aluna.


"Iya San. Lagian ini hanya pernikahan kontrak selama setahun." Aluna melepaskan pelukan sahabatnya.


"Oh yah San, Maaf aku tidak bisa mengundangmu di pernikahan aku. Karena dia melarang aku untuk mengajak teman." Aluna ingat kata - kata yang mengatakan bahwa hanya ayah dan beberapa saksi yang hadir, itu artinya Arka tidak ingin pernikahan ini dipublikasikan.


"Ya ampun Lun. Masa aku sahabatmu juga nggak diundang. " Santi terlihat sedih.


"Lalu apa kau akan memberitahu tante Asmita ?" Santi kembali menatap sahabatnya.


"Tidak. Aku tidak ingin mama kuatir San. Lagian pernikahan ini hanya setahun. Jika mama tahu aku menikah, bisa - bisa mama akan kuatir dan tambah kepikiran jika mama tahu jika aku hanya menikah kontrak setahun dan akan bercerai. Tolong jangan bilang mama San. " Mohon Aluna kepada sahabatnya.


"Baiklah Lun. Aku akan mendukung setiap keputusanmu. Jika ada masalah jangan lupa kabari aku." Ucap Santi mengelus pipi sahabatnya.


"Iya San. Makasih yah sudah ngertiin aku." Aluna memeluk sahabatnya.


"Kasihan nasib kamu Lun. Semoga kamu bahagia Lun." Gumam Santi dalam hati sambil mengeratkan pelukannya

__ADS_1


__ADS_2