Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
BRYAN


__ADS_3

Seorang wanita memasuki rumahnya dengan wajah kesal dan amarah yang sedari tadi dirasakannya. Dia membanting tasnya diatas sofa ruang tamu rumahnya. Wanita itu tak lain adalah Fiona. Setelah kejadian tadi di toko dia langsung pulang kerumahnya dengan sangat kesal.


"Ada apa nak?" Hendra yang sedari tadi duduk diruang tamu sambil membaca koran melihat perubahan suasana hati anak perempuannya. Karena sewaktu pergi dengan teman - temannya Fiona terlihat senang. Tetapi sekarang apa yang membuat anak perempuannya dengan suasana hati yang buruk.


"Ayah aku ingin segera menikah dengan Bryan." Seru Fiona masih dengan wajah kesalnya.


"Kenapa tiba - tiba kau ingin segera menikah dengan Bryan? Bukankah kalian belum lama bertunangan? " Hendra masih bingung, mengapa anaknya meminta segera menikah.


"Ayah aku sedang hamil anaknya Bryan sekarang. Jika aku tidak segera menikah dengan Bryan perutku akan membesar dan aku tidak ingin menjadi bahan cemohan orang - orang karena aku hamil diluar pernikahan. " Jelas Fiona panjang lebar.


"Apa? Hamil?" Hendra menatap tajam kearah Fiona.


" Iya ayah aku hamil. Aku dan Bryan melakukannya atas dasar suka sama suka." Fiona berusaha meyakinkan ayahnya.


"Ayah sayangkan sama Fiona? untuk itu tolong segera hubungi orangtua Bryan untuk segera membicarakan pernikahan Fiona sama Bryan. Kalau tidak Fiona akan bunuh diri." Setelah mengatakan hal itu Fiona berlalu meninggalkan ayahnya yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan anaknya.


Beberapa saat kemudian Hendra menghubungi Indra Wijaya rekan bisnisnya yang berada di kota XX menyampaikan perihal tentang pernikahan Bryan dan juga Fiona terkait dengan kondisi Fiona yang sedang mengandung anak Bryan.


Indra Wijaya yang memang sangat menginginkan pernikahan ini langsung menyetujui perihal pernikahan yang akan dilaksanakan minggu depan.


*******

__ADS_1


" Ma tolong panggilkan Bryan dikamarnya. " Indra Wijaya yang baru menutup sambungan telponnya dengan Hendra menyuruh Ningsi istrinya yang sedari tadi mencoba bertanya apa yang terjadi.


"Memang ada apa pa? Kenapa papa sepertinya sedang bahagia.


"Nanti papa jelaskan. Sekarang mama panggil Bryan kesini. Mama akan tahu nanti jika Bryan sudah disini." Seru Indra Wijaya dan akhirnya Ningsi berlalu meninggalkan Indra Wijaya menuju kamar Bryan.


"Bryan ... " Ningsi beberapa kali mengetuk pintu kamar Bryan dan akhirnya Bryan membuka pintu kamarnya. Setelah kepergian Aluna Bryan lebih sering menghabiskan waktunya di luar, mabuk - mabukan dan jika dirumah dia lebih memilih mengurung diri dikamarnya. Bahkan bulu - bulu tipis dibiarkannya tumbuh diatas bibir dan dagunya.


"Ada apa?" Tanya Bryan menatap ibunya.


"Papa ingin bicara denganmu nak. " Ningsi meraih dengan lembut tangan putranya tersebut. Bryan hanya mengikuti jejak kaki kemana ibunya membawa.


Bryan kemudian duduk disamping ibunya yang sudah duduk terlebih dulu di sofa merah maron dengan meja kaca yang menjadi pembatas dengan ayahnya.


"Menikah? " Bryan tersenyum sinis dan kembali melanjutkan kata - katanya "Aku akan menikah hanya dengan... "


"Kau harus menikah hanya dengan Fiona." Indra Wijaya memotong kalimat terakhir Bryan.


"Kenapa papa masih memaksakan kehendak papa? Tidakkah papa mencoba membuka mata dan hati papa selama ini? apakah papa tidak melihat penderitaan anak papa sendiri?" Ningsi akhirnya angkat suara. Selama ini dia sudah menahan kepedihan karena harus melihat anak semata wayangnya menderita karena kehilangan semangat hidup akibat keegoisan seorang ayah. Ningsi begitu tahu betapa Bryan sangat terluka kehilangan gadis yang sangat dicintainya.


" Papa tahu apa yang papa lakukan. Mama seharusnya mendukung keputusan papa." Seru Indra Wijaya menatap tajam kearah istrinya yang sudah menguraikan air mata sambil tangannya menggenggam tangan anaknya.

__ADS_1


"Mama akan mendukung keputusan papa jika itu yang terbaik untuk anak kita. Tapi kali ini mama tidak setuju dengan keputusan papa." Bryan hanya mencintai Aluna pa." Ningsi kali ini berani menyebutkan hal itu karena memang itu kenyataannya. Bagaimana dia setiap hari harus menyaksikan putranya memeluk bingkai foto sambil berbicara kepada gadis didalam foto tersebut. Jadi kali ini dia tidak akan setuju dengan keputusan suaminya.


"Bryan akan tetap menikahi Fiona dengan atau tanpa restu mama. " Pungkas Indra Wijaya tetap pada pendiriannya.


Sedangkan Ningsi menatap Indra Wijaya dengan tatapan kesal.


"Bryan tidak akan menikahi wanita licik itu." Kembali Bryan berucap tanpa melihat kearah ayahnya.


"Kau harus menikah minggu depan dengan Fiona. Fiona ingin pernikahannya dipercepat dan papa sudah menyetujuinya dengan Hendra." Bryan dan Ningsi sama - sama kaget dengan apa yang dikatakan Indra Wijaya.


" Apa papa sudah bertanya kalau Bryan setuju atau tidak dengan pernikahan itu?" Tanya Ningsi kepada suaminya.


"Bryan harus setuju karena dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap Fiona." Seru Indra Wijaya dengan suara lantangnya.


"Apa maksud papa?" Ningsi bingung dengan apa yang barusan dikatakan suaminya.


"Fiona sedang mengandung anak Bryan."


Jelas Indra Wijaya


"Apa?" Ningsi dan Bryan sama - sama kaget dengan pernyataan Indra Wijaya.

__ADS_1


"Jadi bersiap - siaplah Bryan tiga hari lagi kita akan terbang ke Jakarta. Karena pernikahannya akan dilangsungkan disana dan kau ma, bantulah Bryan menyiapkan segala dokumen yang diperlukan dalam pengurusan pernikahan." Kemudian Indra Wijaya berlalu meninggalkan anak dan istrinya itu. Sedangkan Bryan seperti menarim rambutnya seakan tidak percaya dengan semua yang terjadi.


__ADS_2