Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
Perjalanan menuju Puncak


__ADS_3

Alka masih fokus dengan jalanan didepannya. Maksudnya, biar dia nggak ketinggalan motor didepannya. Namun hal itu juga menjadi bomerang baginya. Pasalnya saat Rama menambah laju motornya, Maura tanpa sengaja memeluk bagian perut pria itu.


" Rama kenapa sih pake ngebut segala, Maura pasti ketakutan." Bukan masalah Maura ketakutan, tapi karena kecepatan kendaraan bermotor itu mengakibatkan Maura tanpa sengaja memeluk sang pengemudi.


" Maura nggak kelihatan takut tuh, mungkin dia pengen meluk aja." Giska yang duduk di kursi belakang merasa senang bisa memanasi sang Abang. Sedangkan Violin gadis itu belum tahu kalau Maura sebenarnya bukan sepupu Alka.


" Coba deh liat, itu tuh kak Rama yang megang tangan Maura. Mau ngapain dia?" Giska hebo sendiri. Saat Rama menurunkan laju kendaraannya, Maura melepaskan tangannya dibagian perut Rama karena merasa tidak enak. Maura memang hanya memeluk Rama disaat Rama melajukan kendaraannya saja, namun saat Rama menurunkan laju kendaraannya Maura melepaskan pelukan itu. Namun Rama menahan tangannya dan mengarahkan kebagian perutnya lagi.


"Kayaknya kak Rama suka sama Maura. " Giska memang tidak tahu kalau Rama memang pernah menyatakan suka sama Maura didepan Alka.


"Kalau mereka sampe jadian, aku dukung banget. Mereka itu terlihat cocok." Hanya Giska yang paling hebo di mobil itu.


"Kamu bisa diam tidak, Abang itu nggak bisa fokus karena dengar suara kamu." Kesal sendiri. Giska hanya bodoh amat. Karena dia tahu Abangnya itu sedang cemburu.


" Oh yah Vio, mantan pacar kamu yang seorang pengusaha, yang udah bangkrut itu gimana kabarnya? " Violin menelan salivanya. Pasalnya yang tahu dia punya mantan pacar hanya Alka. Karena Violin yang memberitahu Alka tentang pacarnya itu. Itupun dia pacaran dengan pria itu, saat dirinya belum menjadi model yang naik daun seperti saat ini. Hubungannya dengan pria itupun tidak pernah dipublikasikan.


" Apa kalian putus sebelum dia bangkrut atau sesudah dia bangkrut yah? " Giska sepertinya sudah mulai menyelidiki latar belakangnya.

__ADS_1


"Mereka putus sebelum perusahaan Rayen itu bangkrut. " Alka yang menjawab. Jadi mantan pacarnya Violin itu pemilik Rayen Star grup, salah satu saingan bisnis Alka. Ayah Rayen yang kalah itu dituduh melakukan penggelapan pajak, akhirnya harus berurusan dengan hukum. Para investor kemudian membatalkan kerja sama dan menuntut pengembalian saham dari perusahaan orangtua Rayen.


" Apa Abang dengar sendiri dari mantannya Vio? Atau Abang Al hanya dengar dari Vio saja? " Violin merasa Giska mulai memojokannya. Setahu Alka Violin memang putus dengan Rayen sebelum perusahaan Rayen dinyatakan bangkrut. Itupun Violin yang mengatakannya.


" Kenapa sih kamu masih ngungkit tentang mantan aku. Dia itu jahat, dia meminta aku buat one night dengan salah satu kliennya. Biar kliennya itu menyetujui kerja sama antar perusahaan mereka. " Violin berucap lirih. Bahkan dia berusaha menghapus airmata yang menganak diujung matanya.


" Giska udah." Alka berucap kesal.


"Iya, iya. Lagian aku hanya nanya aja." Membuka kaca jendela, Giska memilih menatap keluar jendela daripada harus melihat Abangnya berusaha menenangkan Violin.


"Kali aja mereka putus saat pacarnya udah bangkrut, terus dianya nggak mau karena nggak bisa minta ini, itu lagi." Giska bergumam yang masih bisa didengar Alka dan Violin.


***


Akhirnya mereka memasuki kawasan Villa. Sudah terlihat mobil ayahnya dan motor Rama juga baru aja sampai.


"Gimana tadi, serukan." Rama berucap dan membantu membukakan helm yang dikenakan Maura.

__ADS_1


" Iya seru. Awalnya aku takut, tapi lama - lama asyik juga. " Helm itu sudah terlepas, Maura sekarang membuka jaket yang dikenakannya.


"Nggak usah, udara disini dingin. Kamu bisa menyimpannya." Menahan tangan Maura yang hendak membuka jaket itu. Rama tahu jika Maura akan mengembalikan jaket itu padanya. Padahal jaket itu memang dibelinya khusus buat Maura, biar mereka kapelan.


" Kamu kenapa sih Ram, bawa motor ngebut kayak gitu. Kalau kalian sampe kanapa - Napa gimana?" Alka menghampiri keduanya, disusul Giska dan Violin.


" Sengaja Al, biar ada yang meluk. Aku hati - hati kok, aku nggak bahkal membuat bidadari jatuh dari atas langit." Ucapnya setengah bercanda. "Eh maksud aku jatuh dari motor." Rama tidak tahu saja kalau Alka sedang tidak bercanda.


" Lagian tadi itu seru kata Maura, iya kan Ra." Rama berucap sambil tersenyum pada Maura. Sebenarnya dia meminta bantuan Maura untuk membelanya didepan Alka. Agar dia terhindar dari amukan kakak sepupu nya Maura. Yah sama halnya dengan Violin, yang Rama tahu Maura adalah sepupunya Alka.


"Iya seru. Kalau pulang nanti, aku naik motor lagi sama kak Rama." Ucap Maura senang.


" Nggak, pulang kamu naik mobil." Setelah mengatakan itu, Alka berlalu meninggalkan Rama, Maura, Giska dan Violin.


"Kenapa sih dia?" Rama bertanya pada Giska.


"Mana kutahu." Giska menjawab cuek.

__ADS_1


"Ayo Vi, kita masuk. Ram, ayo." Maura mengajak Violin dan Rama masuk kedalam Villa, menyusul Alka dan Giska juga keluarganya yang lain.


__ADS_2