
Sementara di sebuah club malam, nampak seorang pria sedang duduk menatap dengan tatapan kosong sambil sesekali meneguk bir yang sudah beberapa botol dipesannya. Pria itu ialah Bryan. Setelah kepergian Aluna Bryan lebih banyak menghabiskan waktu ditempat ini. Pekerjaannya berantakan dan hampir tiap malam dia pulang dalam keadaan mabuk. Setelah dia menghabiskan minuman yang dipesannya, dia kembali ke rumah dengan mengendarai mobil miliknya.
Setibanya di rumah belum sampai Bryan membuka pintu, pintu rumahnya telah dibuka terlebih dulu oleh ayahnya Indra Wijaya. Karena mendengar suara mobil Bryan yang sudah memasuki halaman parkir rumahnya.
"Hai pa?" Sapa Bryan dengan tersenyum layaknya orang mabuk.
"Bryan kenapa setiap malam kau pulang dalam keadaan mabuk? Kau benar - benar bau Alkohol." Seru Indra Wijaya sambil mengendus pakaian yang dipakai Bryan. Sementara itu Ibu Bryan juga menghampiri putranya sambil menatap sedih keadaan putranya.
"Nak kenapa kau jadi seperti ini? Kamu sebelumnya tidak pernah minum tapi kenapa sekarang hampir setiap malam kau pulang dalam keadaan mabuk? Ibu Ningsih mengelus pundak anaknya dengan lembut.
__ADS_1
"ha ha ha kenapa aku jadi seperti ini ma? Papa tahu jawabannya. " Sahut Bryan tertawa menatap ibunya.
"Bryan jangan keterlaluan kamu? Kenapa papa yang menyebabkan kamu seperti ini?" Ucap Indra Wijaya sambil menggoncangkan tubuh Bryan.
"Sudah pa, Bryan sedang mabuk. Jadi dia asal bicara. Biarkan dia istirahat." Bujuk istrinya sambil menarik tangan suaminya.
"Hahaha" Lagi - lagi Bryan tertawa dan berusaha menyanggah tubuhnya disamping pintu.
"Kamu mengatur perjodohanku dengan wanita yang sama sekali tidak aku cintai. Mengatur pertunanganku dengan mengancam ku. Kamu menghancurkan hubungan yang sudah ku jalin selama kurang lebih enam tahun. Kamu bahkan tidak memikirkan perasaan anakmu sendiri. Papa yang membuat Bryan hancur seperti ini. Kembalikan Aluna pa.." Bryan menggoyangkan tubuh ayahnya dan Bryan tidak mampu membendung air matanya dan akhirnya ia menangis seperti seorang anak kecil yang ditinggalkan ibunya. Sementara Indra Wijaya hanya diam mendengar semua penuturan Bryan. Memang benar kata kiasan kadang orang mabuk lebih jujur dengan apa yang mereka katakan.
__ADS_1
"Nak, ayo mama antarkan ke kamarmu." Seru Ibu Ningsih dengan meraih tangan anaknya. Sedangkan Indra Wijaya hanya mematung mendengar semua perkataan anaknya.
"Bryan bisa sendiri ma." Ucap Bryan melepaskan tangan ibunya dan berjalan sempoyongan kedalam kamarnya.
"Papa bahagia sekarang melihat anak papa seperti itu? Apa susahnya sih papa menahan ego papa? Mama selama ini hanya diam dan tidak bisa berbuat apa - apa, karena mama menghormati setiap keputusan papa karena papa kepala keluarga. Jadi mama mohon pa, pikirkan lagi tentang rencana pernikahan Bryan dan Fiona. " Seru ibu Ningsih berharap suaminya mengerti dan membatalkan rencana pernikahan Bryan dan Fiona.
"Papa tetap akan menikahkan Bryan dengan Fiona. Semua ini demi masa depan Bryan." Jawab Indra Wijaya. Sedangkan Ibu Ningsih yang mendengarnya menjadi geram karena sikap egois suaminya. Kemudian ibu Ningsih berlalu meninggalkan suaminya.
Ibu Ningsih membuka pelan pintu kamar anaknya, berharap anaknya sudah terlelap tidur. Namun hati ibu Ningsih seakan teriris - iris melihat putranya yang lagi - lagi mengajak bicara gadis dalam foto.
__ADS_1
"Luna kamu dimana? Apa sebegitu bencinya kamu padaku? sampai - sampai kamu tidak pernah menghubungiku? Aku memang bodoh." Bryan tertawa getir sambil sesekali mengusap air mata yang sesekali mengalir di pipinya.
Ibu Ningsih kembali menutup pintu kamar anaknya. Dia tidak lagi mampu melihat keadaan anaknya. Ibu Ningsih lari ke kamar melewati suaminya. Sesampainya dikamar ibu Ningsih menangis sejadi - jadinya. Sedangkan Indra Wijaya tetap pada pendiriannya. Dalam benaknya apa yang dilakukannya adalah yang terbaik untuk keluarganya terlebih terbaik untuk Bryan.