Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
TAMU UNTUK ALKA


__ADS_3

Bukan hanya Aluna yang terkejut, Maura juga. "Ibu... Ayah. " Maura langsung berlari kearah keduanya. Maura memeluk secara bergantian kedua orangtuanya. Yang datang adalah Santi dan Bryan.


"Ayah sama ibu kok nggak bilang - bilang kalau mau kesini! " Maura melepaskan pelukannya. Sungguh kedua orangtuanya itu sama sekali tidak memberi tahu dirinya, kalau mereka juga akan datang ke Jakarta.


"Suprise dong sayang. " Santi mengelus lembut kepala anaknya. "Habisnya pas kamu nggak ada, rumah jadi sepi. Nggak ada lagi yang mengganggu ayah. " Bryan menambahi, ada candaan diakhir ucapannya. Sedangkan Maura hanya memayunkan bibirnya.


"Kalian kenapa nggak ngabarin kalau mau kesini. Kan bisa dijemput. " Aluna menghampiri ketiga orang yang sedang melepas rindu itu. Santi kemudian memeluk sahabatnya itu. "Kan suprise Lun. " Ucapnya sambil melepaskan pelukannya.


"Tamunya diajak masuk bun. " Arka yang hanya berdiri didepan pintu, berucap sambil mengangkat satu tangannya, tersenyum kearah Bryan. Laki - laki yang pernah menjadi saingannya itu. Aluna pun kemudian mengajak mereka kedalam rumah. Alka yang masih berdiri diposisinya tadi, terkejut melihat Maura kembali dan lebih terkejut melihat kedua orangtua Maura.


"Abang Al..." Santi memeluk Alka. Alka pun membalas pelukan itu. "Tante. " Ucapnya. "Kamu apa kabar? " Santi bertanya sambil memegang kedua tangan Alka. Sama halnya Aluna yang menganggap Maura seperti anaknya sendiri, Santi pun demikian menganggap Alka, Giska dan Ardian.


"Al kabarnya baik tante. " Jawab Alka. Kemudian menyodorkan tangannya, menjabat tangan Bryan. " Tante sama paman apa kabar? "


"Kita baik - baik aja. " Santi yang menjawab. Aluna dan Arka kemudian mengajak mereka keruang tamu, duduk disana. Alka juga ikut tentunya.


"Kenapa ibu dan ayah tidak bilang sama Maura kalau mau kesini. Kalau sedikit aja ibu dan ayah terlambat datang kerumah tante Luna, mungkin Maura udah ke bandara." Protes gadis itu.


" Yah ampun, benarkah? " Santi baru menyadari kalau tadi memang Arka menarik koper milik putrinya. Maura hanya bisa menunjuk kearah koper miliknya, meyakinkan lagi sang ibu dan ayahnya.

__ADS_1


Santi langsung merangkul putrinya itu, mendaratkan satu ciuman dipipi gadis itu. "Maaf yah sayang. " Maura mengangguk. Sementara Bryan, dia hanya mengelus pucuk kepala putrinya.


" Apa kalian hanya datang buat jemput Maura? " Tanya Aluna yang sedang membantu Asisten rumah tangga menata minuman dan juga beberapa kue untuk semua orang yang ada disitu.


"Sebenarnya aku ada kerjaan juga di Jakarta, jadi sekalian aja buat jemput Maura. " Bryan yang menjawab.


"Iya, jadi kita bisa semingguan disini. " Santi menambahkan.


"Benarkah? " Aluna senang jika sahabatnya itu bisa tinggal beberapa hari dirumah mereka. "Tapi kalian nginap disini kan? " Aluna memastikan.


" Kayaknya kita bahkal beli apartemen Lun. Soalnya beberapa rekan bisnis Bryan tinggal di Jakarta. Jadi kemungkinan besar, Bryan akan sering ke Jakarta. "


"Iya, benar kata Luna. Kenapa juga harus beli apartemen. kalian bisa datang dan tinggal disini. " Tambah Arka.


"Nggak apa - apa Ar, Lun. Biar nanti kalau Maura main kesini lagi, dia bisa tinggal di apartemen. Hitung - hitung biar dia bisa belajar mandiri. Apalagi dia nggak bisa bangun pagi." Itulah kenapa selama ini, dia selalu datang belakangan saat sarapan. Tetapi jika ada hal penting yang akan dilakukannya dipagi hari, Maura pasti bisa bangun pagi. Itupun bantuan suara alarm di ponselnya.


Maura tersipu malu saat ibunya mengatakan kalau dirinya tidak bisa bangun pagi. Sesaat dia menatap Alka yang mencoba menahan senyum diujung bibirnya. Entah apa yang membuat laki - laki itu tersenyum.


***

__ADS_1


Malam hari mereka makan malam seperti biasa. Kali ini harus ada penambahan kursi dimeja panjang itu. Pasalnya Aluna meminta Santi dan Bryan untuk menginap dua malam dirumah mereka, sebelum mereka akan tinggal di apartemen yang sudah mereka datangi tadi siang. Malam ini karena permintaan Aluna, akhirnya Giska dan juga Ardian ikut makan malam bersama mereka.


Disaat dua keluarga itu sedang makan malam, terdengar suara bel yang menandakan ada tamu didepan pintu rumah mereka. Salah satu asisten rumah tangga membukakan pintu tersebut dan mengajak tamu itu keruang tengah rumah majikannya.


"Den Alka, diruang tamu ada pacarnya den Alka. " Yang datang malam itu ialah Violin. Bukan Alka yang mengundangnya tapi Violin sendiri yang berinisiatif datang.


Saat kata pacar didengar Santi, dia langsung menatap sang anak yang sesaat menatapnya kemudian tertunduk. Kini Santi tahu, jika selama ini Alka sudah punya pacar. Lalu apakah Mauranya tahu jika Alka sudah punya pacar? Dari cara Maura tadi menatap sang ibu, Santi selaku sang ibu bisa melihat bahwa Maura audah tahu kalau Alka sudah punya pacar. Lalu kenapa gadis itu masih bertahan?


"Bi, katakan padanya untuk menunggu sebentar. Alka sedang makan malam sekarang. " Sang ayah yang berbicara. Sedangkan sang bunda, dia menatap Alka sebentar. Seolah dia ingin berkata kepada Alka, kenapa harus mengundang Violin disaat ada Santi dan Bryan. Aluna bukan ingin menutupi pacarnya Alka dari Santi. Namun bisakah Alka setidaknya menjaga perasaan Maura dan keluarganya.


"Ajak makan malam aja pacarnya Al. " Santi tahu apa yang dipikirkan Aluna saat ini. Itulah sebabnya Santi berpura - pura seolah - olah dia tidak tahu kalau putrinya Maura mencintai Alka. "Biar bisa dikenalkan sama paman dan tante. Iyakan sayang? " Santi bertanya pada Bryan dan diiyakan Bryan. Bryan memang tidak tahu menau tentang siapa yang dicintai putrinya. Karena masalah pria, Maura lebih cenderung bicara dengan sang ibu, ketimbang sang ayah. Bryan hanya tahu jika putrinya itu belum kepikiran punya pacar, karena selama ini Maura tidak memiliki teman dekat pria. Kecuali semenjak kecil hingga dia beranjak remaja, teman pria yang biasa dia hubungi hanya Alka.


"Vio udah disini kok tante. " Karena menunggu Alka yang tidak kunjung datang akhirnya Violin menyusul Alka yang ada dimeja makan.


______________


Sebelumnya maaf yah, saya sudah marah - marah beberapa hari yang lalu. Mungkin karena saya lelah, jadi bawaannya jadi marah - marah. Apalagi pas baca komentar yang nggak enak buat dibaca. Kalian bisa kasih saran atau masukan. Tapi kalian tahukan mana masukan dan mana kalimat yang hanya mengatas namakan masukan atau saran.


Kalian tidak usah kuatir, sesibuk apapun saya, saya tetap akan menyelesaikan karya saya hingga akhir. Kalau pun memang kalian bosan menunggu lama, kalian bisa nunda dulu bacanya dan bisa kalian baca lagi jika karyanya memang sudah sampai pada bab akhir.

__ADS_1


Sekali lagi maaf. Karena saya tahu, seburuk apapun komentar kalian. Kalian tetap readers yang sudah baca karya ini dari awal.


__ADS_2