Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
Jalan - jalan


__ADS_3

Baiklah Maura akan menggunakan kesempatan ini untuk bisa bersama Alka. Walaupun Alka menganggapnya seperti Giska, setidaknya Alka tidak lagi menghindarinya.


Meminta pertolongan Giska untuk membujuk Alka jalan - jalan, Maura ingin sekali keliling Jakarta bersama Alka. Maura masih terlalu takut untuk mengajak langsung Alka. Takut pria itu menolak ajakannya. Jadi untuk saat ini, hanya Giska yang bisa menolongnya.


" Please ka Giska, tolongin Maura. " Membuat wajah mimik sesedih mungkin.


"Ka Giska tahu kan, Maura itu suka sama Abang Al sejak dulu. " Memilin dress rumahan yang dipakainya, bertingkah seperti seorang bocah yang minta dikasihani.


" Baiklah, Kak Giska akan coba bujuk Abang Al. " Bersorak senang, Maura mencium pipi Giska.


"Makasih kak Giska. Kak Giska yang terbaik. " Beranjak dari ranjang. "Aku akan siap - siap sekarang. " Ucapnya kemudian mulai meninggalkan kamar milik Giska. Giska hanya bisa menggeleng. Belum juga dapat persetujuan Alka, Maura sudah akan bersiap - siap. Itu berarti mau tidak mau, Giska tetap harus mengajak Alka jalan - jalan. Kasihan Maura kalau sampai dia sudah siap - siap, terus tidak jadi pergi.


***


Disinilah mereka disalah satu tempat wisata yang terkenal dikota itu. Tentu saja bersama Alka. Awalnya Alka menolak karena dia ingin menghabiskan waktu untuk istirahat dirumah. Terpaksa adik perempuannya itu, harus menggunakan senjata terakhirnya. Menangis dan mengadu pada sang ayah dan bunda. Meminta bala bantuan tentunya. Mau tidak mau, Alka terpaksa menuruti keinginan Giska atas suruhan ayah dan bundanya.


Tempat itu terlihat sepi, hanya beberapa orang yang berpapasan dengan mereka, mungkin karena tadi sempat hujan deras, sebelum mereka sampai disitu.


Maura tentu sangat senang, karena akhirnya bisa jalan - jalan bersama Alka. Walaupun bertiga dengan Giska. Namun sesaat kemudian, senyum diwajahnya menghilang saat Alka menerima telpon dari seorang wanita.


"Aku nggak bisa kayaknya. " Bernafas lega, Maura bisa mendengar baru saja Alka menolak menemui wanita itu. Wanita yang bahkan Maura tidak tahu ada hubungan apa dengan Alka.


" Al, aku kecelakaan. Kamu cepat kesini. "


"Kamu kenapa? Dimana? Kamu bisa send lokasinya, aku kesana sekarang. " Tanpa pamitan Alka berlari tergesa - gesa meninggalkan Giska dan Maura. Dia terlihat panik dan kuatir.

__ADS_1


" Abang Al mau kemana? " Tanya Giska disaat Alka sudah beberapa meter darinya dan Maura.


"Vio katanya kecelakaan tidak jauh dari sini. Abang Al akan nyuruh Ardian buat jemput kalian. " Setelah mengatakan itu Alka benar - benar pergi meninggalkan mereka. Sementara Maura, gadis itu sedang berperang dengan pikirannya sendiri tentang siapa wanita yang bernama Vio itu.


"Kak Giska, Vio itu siapa? " Dari pada penasaran, Maura akhirnya memilih bertanya.Menimbang - nimbang, haruskah Giska mengatakan yang sejujurnya pada Maura bahwa Alka sudah punya kekasih?


"Maura, gimana kalau kita jalan - jalan kesana. " Menunjuk kearah bangunan yang diberi cat berwarna emas berbentuk keong.


" Vio itu pacarnya Abang Al yah, kak Giska. " Giska yang sudah mulai melangkah menuju kearah yang ditunjuk tadi, langsung menghentikan langkahnya. Sia - sia dirinya, mengalihkan pembicaraan. Toh, akhirnya Maura bisa menyimpulkan sendiri, kalau Vio itu memang pacarnya Alka. Mengangguk, Giska tidak ingin membohongi Maura. Giska bahkan bisa melihat raut wajah kecewa dari gadis yang bahkan belum pernah menerima pria lain untuk menjadi pacarnya. Hanya karena janji seorang pria yang akan menjemputnya disaat dia beranjak dewasa. Janji yang tidak pernah ditepati.


"Maura kamu nggak apa - apa kan? " Maura tersenyum dan mengangguk.


" Aku baik - baik saja kak. Kalau kak Giska mau kesana, ayo kita kesana. " Menarik tangan Giska menuju tempat yang ditunjuk Giska tadi. Namun tanpa sengaja keduanya menabrak dua orang pria. Giska yang kalah itu memakai topi sebagai penyamaran agar tidak dikejar wartawan ataupun fansnya, langsung dikenali salah satu pria tadi.


" Men, Giska. " Kata pria yang mengenal Giska. Giska dan Maura menunduk meminta maaf dan hendak pergi namun dicega dua pria itu.


"Itu lho, Giska Saputri Wiguna. Model terkenal itu, masa kamu nggak tahu. " Mulai merasa sesuatu akan terjadi, Maura lantas memegang pergelangan tangan Giska.


"Dalam hitungan ketiga kita lari. " Bisik Maura pada Giska, disaat kedua pria itu sedang fokus saling menjelaskan. Giska pun mulai menghitung. " 1, 3 lari. " Kedua gadis itu sekuat tenaga lari dari hadapan kedua pria tadi. Menyadari kedua gadis itu lari, maka kedua pria itu pun mengejar mereka.


" Woi, jangan kabur kalian. " Masih mengejar.


"Maura, aku cape. " Ucap Giska yang sudah memelankan langkahnya.


"Ayo kak. Mereka sudah dekat. " Giska mengikuti langkah kaki Maura yang berlari didepannya.

__ADS_1


"Aku sudah nggak kuat. " Giska menahan pergelangan tangan Maura. Sungguh kakinya sangat sakit.


"Begini saja, Kak Giska keluar cari pertolongan, biar Maura yang hadang mereka. " Giska membulatkan matanya. Terkejut mendengar ucapan Maura.


"Nggak. Kak Giska nggak mungkin ninggalin kamu disini. Nggak. " Giska menggeleng.


" Kak, pergilah mereka semakin dekat. Bisa jadi itu fans yang terobsesi sama kak Giska. " Lagi - lagi Giska menggeleng. Dia tidak ingin meninggalkan Maura sendiri.


" Kak, pergilah. Aku akan menahan mereka. " Bentak Maura dan akhirnya Giska mengikuti kata - kata Maura. Ia berjalan tertatih mencari siapa saja yang lewat disitu. Meminta pertolongan tentunya.


***


Alka mengendarkan pandangannya ke segala arah ketika tiba dilokasi dimana Violin katanya kecelakaan.


"Sayang sini. " Terlihat Violin sedang duduk dengan teman - temannya disalah satu cafe. Bahkan gadis itu terlihat baik - baik saja. Alka mendekatinya.


"Kamu baik - baik saja? " Mengamati kaki hingga ujung kepala Violin. Sedangkan teman - temannya hanya tersenyum melihat Alka yang begitu perhatian pada Violin.


"Katanya kamu kecelakaan, kok nggak apa - apa. " Alka menatap Violin dengan penuh selidik.


"Aku nggak kecelakaan kok. Aku hanya bercanda. Habisnya kamu nolak ketemu tadi, jadi aku pake alasan itu. " Tertawa bahagia karena Alka kuatir padanya. Sedangkan Alka, pria itu sungguh ingin marah pada Violin. Namun karena ada teman - temannya, Alka menahannya. Tidak ingin mempermalukan Violin didepan teman - temannya.


" Benar yah kata kamu Vio, pacar kamu itu udah mapan, tampan dan baik juga. "Ucap salah satu teman Violin. " Ialah siapa dulu, Vio. " Ucapnya sombong. Mwngajak Alka untuk duduk bersamanya, namun belum juga Alka duduk, ponselnya berdering tertera nama adiknya disana.


"Abang..."

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2