
Sementara didalam mobil Aluna sepertinya sangat senang. Lihat saja wajahnya bahkan senyum selalu menghiasi wajah cantiknya. mengapa tidak baru kali ini dia melihat Fiona sangat kesal.
"Astaga, Bagaimana aku harus mengganti uang tuan Arka?" Tiba - tiba wajahnya menjadi pias mengingat total belanjaan di toko tadi.
"Ini semua gara - gara kau tuan Frans." Aluna memukul lengan Frans. Membuat sekertaris yang tengah fokus mengemudi itu menjadi kaget.
"Nona saya sedang menyetir. Jangan membuat kita dalam bahaya nona." Ucap Frans tetap fokus pada jalanan.
"Maaf aku tidak sengaja melakukannya." Sesal Aluna menarik tangannya. Dia bahkan dengan berani memukul tangan sekertaris Frans.
*******
Sementara Arka yang berada diperusahaan membaca sekilas notifikasi yang masuk di ponselnya.
Setelah mengantar Aluna kerumah tuannya, sekertaris Frans kembali ke perusahaan setelah dirinya terlebih dulu mengantar semua barang belanjaan istri tuannya kedalam rumah.
"Tuan apakah anda akan pulang sekarang?" Tanya Frans ketika sudah sampai diperusahaan dan melihat tuannya sedang duduk santai di kursi panjang diruangannya.
"Apa dia senang hari ini? " Arka tidak menjawab pertanyaan Frans tetapi bertanya balik kepada Frans. Belum sempat Frans menjawabnya Arka kembali berkata " Tidak perlu menjawabnya, aku akan menanyakan langsung padanya. Kemudian Arka berdiri dari duduknya, dia berjalan meraih jas yang berada dikursi dekat meja kerjanya dan berjalan keluar disusul Frans yang siap mengantar tuannya untuk pulang kerumahnya.
__ADS_1
Beberapa saat akhirnya Frans dan juga Arka sudah sampai dirumah. Frans lebih memilih ke rumah belakang untuk mengatakan kepada pelayan menyiapkan makan malam untuk tuannya. Sedangkan Arka lebih memilih masuk ke kamarnya. Seperti biasa Arka tidak mengetuk kamar itu dan langsung menerobos masuk seperti kebiasaannya dahulu waktu dia masih sendiri dikamar itu.
"aaahhhh" Teriak Aluna menutup bagian dadanya dengan tangan. Dia bahkan lupa menutup bagian bawahnya yang hanya menggunakan dalaman pink. Sedangkan Arka melihatnya hanya mematung dan melihat kearah bawah Aluna. Aluna yang melihat Arka juga ikut melihat kebawah dan kembali ia berteriak. Arka kemudian membalikkan badannya sementara Aluna menyambar pakaian yang baru saja akan dipakainya dan berlari kearah kamar mandi.
Tadi sebelum Arka sampai dirumah dan menuju kamar, Aluna baru menyelesaikan ritual mandinya. Seperti kebiasaannya dia lupa membawa pakaiannya kedalam kamar mandi dan akhirnya dia memutuskan untuk berganti pakaian didalam kamar karena dia pikir Arka belum pulang dari bekerja. Setelah dia baru mengenakan baju dalam, Arka tiba - tiba sudah membuka pintu kamar dan terjadilah tragedi tadi.
Arka yang sudah keluar kamar sontak mengelus dadanya. Jantungnya tiba - tiba berpacu dengan begitu cepat, tanpa tahu apa penyebabnya. Arka kemudian menghempaskan tubuhnya ke kursi dekat pintu kamarnya.
"Dasar wanita bodoh. Kenapa dia seperti itu, Apa dia mencoba menggodaku." Gumam Arka mulai frustasi mengingat kejadian tadi.
"Tetapi dia memiliki bentuk tubuh yang bagus." Gumam Arka mengingat tubuh yang tadi sempat dilihatnya.
Suara Hendle pintu dibuka membuyarkan apa yang dipikirnya. Aluna sudah keluar dari dalam kamar dengan mengenakan kaos putih dan celana jeans selutut. Aluna merasa canggung harus berhadapan dengan Arka. Begitu juga dengan Arka yang menatap kearah Aluna.
"Apa kau ingin menggodaku?" Ucap Arka mencoba mencairkan suasana canggung diantara keduanya dan mulai berdiri dari duduknya menghampiri Aluna dan mulai masuk kedalam kamarnya. Sementara Aluna juga ikut masuk kedalam kamar dan lebih memilih duduk disofa. Tujuan Aluna mengikuti Arka ialah ingin meminta maaf karena telah menggunakan uang Arka.
Arka menarik nafasnya dan menghembuskan kasar. "Apa kau lupa bahwa kau tinggal dengan seorang pria? " Ucapnya lagi. Sedangkan Aluna yang mendengarnya hanya tertunduk. Aluna sadar bahwa dalam hal ini bukan hanya Arka yang salah tapi dirinya.
"Maaf tuan tadi saya lupa membawa pakaian saya kedalam kamar mandi. Karena saya pikir tuan tidak ada dirumah, jadi saya mengganti pakaian saya didalam kamar. Saya tidak ada niat untuk menggoda tuan." Jawab Aluna jujur tanpa menatap Arka yang terus memandangnya dari ranjang.
__ADS_1
"Apa kau memang ceroboh seperti itu. Jadi kau pikir disaat aku tidak berada dirumah, kau bisa seenaknya menggunakan sembarang tempat untuk ganti baju." Seru Arka dengan suara yang mulai meninggi.
"Apa kau tidak tahu dirumah ini ada dua belas pasang mata yang menjaga keamanan rumah ini?" Aluna tidak tahu bahwa ada 12 penjaga yang ditempati Arka disetiap sudut rumahnya. Mereka bekerja tanpa bisa dilihat oleh siapa saja yang baru menginjakkan kakinya dirumah Arka. Arka mengatakan hal itu kepada Aluna agar Aluna lebih waspada terhadap apa yang dilakukannya. Aluna yang mendengarnya hanya menggeleng kepalanya. Bahkan setiap sudut rumah Arka saja dia tidak tahu.
" Pergilah kedapur dan lihatlah apakah pelayan sudah menyiapkan makan malam untukku?" Ucap Arka memgakhiri pembicaraannya dengan Aluna.
"Apa dirumah ini ada pelayan?" Tanya Aluna bingung. Sedangkan Arka yang mendengarnya juga semakin bingung. "Apakah selama ini dia tidak berpapasan dengan satupun pelayan?" Gumam Arka dalam hati.
"Jika besok kau tidak bekerja, minta Frans untuk memperkenalkan semua pelayan yang ada dirumah belakang." Jawab Arka sambil membuka dasinya.
"Rumah belakang? Maksudmu rumah tetangga itu?" Tanya Aluna membuat Arka sudah sedikit kesal.
"Itu bukan rumah tetangga. Itu juga bagian dari rumahku. Para pelayan dan juga pengawalku tinggal disana. Sepertinya kau hanya mrnghabiskan waktumu dikamar selama tinggal disini. Bahkan kau tidak tahu kalau aku punya pelayan." Arka bahkan menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Pergilah sekarang. Jika kau kembali bertanya maka aku akan berfikir kau mulai tertarik dengan duniaku." Mendengar hal itu membuat Aluna membungkam mulutnya, dia cepat - cepat keluar dari kamar itu dan benar saja ada empat orang pelayan yang sementara menyajikan makanan di meja makan.
"Selamat malam nyonya." Sapa mereka dengan membungkukan setengah badan mereka.
"Selamat malam. Jangan panggil aku nyonya. Sepertinya usia kita tidak terpaut jauh. Kalian panggil aku Aluna saja." Ucap Aluna menyodorkan tangannya untuk berkenalan. Namun empat orang pelayan itu seperti enggan untuk menjabat tangan Aluna. Aluna kemudian berinisiatif menjabat tangan keempat pelayan itu secara bergantian. Setelah itu mereka menyebutkan nama mereka. Setelah selesai menyajikan makanan mereka undur diri dari hadapan Aluna sebelum tuan mereka datang.
__ADS_1