
Setelah pulang kerumah semalam. Aluna tidak menjelaskan apa - apa kepada Mira. Dia hanya mengatakan bahwa dirinya kehujanan ketika dia hendak menemui Bryan. Mira yang tidak percaya dengan alasan Aluna mencoba mempercayai ucapan Aluna. Dia tahu sepupunya tidak akan melibatkan orang lain untuk masalah yang dia hadapi.
Pagi itu semua keluarga Mira berkumpul seperti biasanya di meja makan untuk menikmati sarapan pagi sebelum melakukan aktivitas disepanjang hari. Karena kata nenek Ami aktivitas seberat apapun hari ini akan terlewati dengan baik ketika kita memulainya dengan sarapan dan bersyukur.
Dapat terlihat keluarga itu belum menyentuh sarapan mereka. Mereka menunggu Aluna yang juga belum turun dari kamarnya.
Beberapa menit kemudian Aluna sudah terlihat menuruni setiap anak tangga dengan setelan Jeans panjang, kaos dan membawa koper kecil miliknya. Semua sontak mendekati Aluna yang sudah menuju meja makan dengan tersenyum seperti biasanya.
" Kamu mau kemana dengan koper itu? " tanya Tante Ira mendekati Aluna.
"Iya kak Luna mau ke mana? Susul Mira dan Nara.
"Luna mau pulang tante? Jawab Aluna yang membuat kaget semua yang mendengarnya.
"Kenapa? " tanya nenek Ami sembari mendekat mengelus pundak Aluna.
" Apa kau tidak nyaman disini? " Tanya nenek Ami kembali.
" Aluna nyaman disini nek, Aluna hanya rindu mama. " Ucap Aluna yang memang merindukan ibunya. Ibu merupakan tempat yang nyaman untuk berlindung dari kerasnya dunia ini.
"Baiklah jika itu sudah keputusanmu. Sering - seringlah ke sini. Ucap nenek Ami sambil mencium kedua pipi Aluna disusul tante Ira dan kedua sepupunya.
"Mira pasti rindu kak Luna? " Mira sudah mulai menangis yang langsung dihapus Aluna.
__ADS_1
"Kayak kak Luna mau kemana aja, pake acara nangis segala. " Goda Aluna yang membuat Mira menghentikan tangisannya berganti bibir yang dia majukan kedepan.
"Om Ben akan mengantarmu." Pinta om Ben yang mengambil koper ditangan Aluna.
" Makasih om. " Jawab Aluna.
Setelah berpamitan dengan keluarganya Aluna dan Om Ben langsung menuju pelabuhan menggunakan mobil om Ben. Didalam mobil Aluna hanya menatap jalanan yang biasa dia lewati bersama Bryan. Dia hanya tersenyum miris mengingat kejadian semalam di hotel Fiona.
Sementara itu Bryan sudah mulai terbangun dari tidurnya. Matanya membulat ketika melihat ruangan yang asing baginya.
"Ini bukan kamarku. " Gumam Bryan memijat kepalanya yang masih sedikit pusing.
Yang lebih kagetnya lagi dia melihat tubuhnya yang tanpa menggunakan busana dan ada Fiona yang juga tanpa busana tidur disampingnya. Bryan sontak berdiri meraih kemeja dan celana panjang yang berserahkan dilantai. Bryan dapat menduga apa yang terjadi semalam. Bryan kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu dan langkahnya terhenti mendengar panggilan Fiona.
"Kamu mau kemana? " Tanya Fiona yang sudah duduk mengenakan selimut menutupi tubuhnya.
"Apa kau lupa atau pura - pura lupa dengan kejadian semalam. " tanya Fiona yang semakin membuat Bryan frustasi.
"Kau telah meniduriku Bryan? Bahkan aku sudah berusaha menolakmu. Tapi kau tidak menghiraukannya. " Sahut Fiona dengan mimik yang dibuatnya sesedih mungkin.
"Apa? Aku menidurimu? " teriak Bryan keras kearah Fiona yang membuat Fiona terkejut dan takut melihat Bryan dengan mata yang hendak membunuhnya hidup - hidup.
"Iya. " Fiona menjawab pelan tanpa melihat kearah Bryan.
__ADS_1
"Itu mustahil Fiona. Aku hanya akan melakukan itu dengan gadis yang aku cintai dimalam pernikahan kami. " Sahut Bryan yang semakin geram membuat Fiona tidak melanjutkan kata - katanya.
Bryan kemudian meninggalkan Fiona yang tak lagi menghentikan langkahnya. Sesampainya di pintu hotel dia melihat Richo yang kelihatannya sedang menunggu Bryan. Richo kemudian menghampiri Bryan dan. . .
Buukk
Satu pukulan dari Richo menjatuhkan Bryan ke lantai. Bryan tidak mengerti mengapa Richo tiba - tiba memukulnya.
"Hei kenapa kau memukuliku? " Tanya Bryan mencoba berdiri sambil memegang sisi bibirnya yang mengeluarkan darah karena kerasnya pukulan Richo.
"Itu karena kau telah menyakiti Aluna. " Jawab Richo yang membuat Bryan meraih kerak baju Richo.
"Aku tidak menyakiti Aluna. " Jawab Bryan. Mendengar hal itu Richo menghempaskan kasar tangan Bryan.
" Ciih. Kau bahkan tidak tahu betapa hancurnya hati Aluna melihat kau tidur berdua dengan perempuan lain?" Seru Richo sambil berjalan meninggalkan Bryan yang mematung mendengar ucapan Richo.
Bryan memukul dinding hotel dengan keras, merutuki kebodohannya.
Bryan kemudian kembali ke kamar Fiona. Karena hanya Fiona yang bisa menjelaskan apa yang terjadi. Walaupun tadi Fiona sudah menjelaskan padanya.
Fiona sudah mengenakan kimono berwarna putih sambil merias dirinya didepan cermin.
" Fiona apa Aluna semalam kesini? " tanya Bryan dengan berusaha menahan amarahnya.
__ADS_1
"Iya. Aku tidak tahu dia datang darimana. Dia langsung menerobos masuk ke kamarku dan lari ketika melihat kau tidur dengan pulas." Jelas Fiona membuat Bryan semakin frustasi. Bryan kemudian mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan perempuan yang merias diri seolah tidak terjadi apa - apa semalam.
Bryan kemudian melajukan mobilnya menuju kediaman Mira.