Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
MENCARI GADIS BERNAMA ALUNA


__ADS_3

" Frans apa sudah ada kabar tentang ayahku?"


Tanya seorang pria muda yang sebelah tangannya dimasukkan kedalam kantong celana. Dapat terlihat kecemasan di wajah tampannya.


"Sudah Tuan muda. Sekarang Tuan besar ada di rumahnya." Ucap Frans mantap. Sebelumnya orang suruhannya telah memberi kabar bahwa tuan besar mereka sudah kembali.


"Benarkah? kalau begitu antarkan aku ke rumah ayah sekarang." Seru pria itu kepada sekertaris yang sudah 10 tahun ini mengikutinya. Sekertaris Frans hanya menuruti keinginan tuan mudanya karena itu sudah menjadi tugasnya 10 tahun ini tanpa sedikitpun ia membantahnya. Baginya perintah tuan mudanya adalah titah yang harus dipatuhi.


Frans melajukan mobilnya membela jalanan yang sangat ramai. Sementara tuan mudanya hanya sibuk mengurus bisnis dengan membalas email dari klien melalui benda kecil berbentuk kotak persegi itu.


"Kenapa berhenti?" Tanya Tuan muda itu kepada Frans yang sudah turun dari mobilnya membuka pintu untuk Tuannya.


"Kita sudah sampai tuan." Sahut Frans. Karena sibuk membalas email dan menghandle pekerjaan dari tablet miliknya sepertinya tuan muda itu tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di rumah orangtuanya.


Terlihat dari jauh sosok laki - laki memakai kaos dan juga celana pendek duduk sambil sesekali tangannya menggenggam benda seperti butiran butiran kecil melemparnya ke tengah kolam ikan didepannya. Terlihat beberapa ikan mas itu bersorak gembira seakan berebut makanan yang diberikan pemiliknya.


"Ayah... " Seru pria muda itu dengan sedikit ketus kepada ayahnya karena pergi tanpa memberitahunya, tanpa menggunakan tranportasi pribadinya dan tanpa pengawalan. Tetapi gayanya tetap saja so cool dengan melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Arka anakku." Seru Ardian menghampiri putranya yang masih protes tentang sikap ayahnya yang main pergi saja menurutnya.


Ardian memeluk anaknya tanpa menghiraukan wajah datar anaknya yang masih marah kepadanya.


"Kalau kau masih marah, ayah akan pergi lagi." Ucap Ardian berharap anaknya akan luluh.


"Pergi saja jika ayah ingin pergi. Jika ayah pergi satu hari Arka akan membunuh satu anak buah ayah. Jika ayah pergi dua hari, Arka akan membunuh dua orang pelayan ayah. Jika....?" Arka menghentikan ucapannya karena sudan dipotong oleh ayahnya.


"Ayah tidak akan pergi." Ardian tahu sifat anaknya yang serius dalam mewujudkan kata - katanya. Jadi untuk mengelabuinya berpikirlah dulu.


"Ayah hanya pergi ke kota XX. Ayah merindukan mendiang ibumu. Jadi ayah pergi ke kota itu karena kota itu tempat pertama kali ayah dan ibu bertemu dan menghabiskan waktu bersama di kota itu." Ardian menjelaskan perihal seminggu ini dia meninggalkan rumah tanpa memberitahu anaknya.


"Kenapa ayah tidak memberitahu Arka. Arka bisa menemani ayah. " Ucap Arka sambil menggenggam tangan pria yang sudah membuatnya cemas seminggu ini.


"kenapa ayah tidak menggunakan fasilitas yang Arka berikan. Ayah bisa saja meminta salah satu pilot untuk mengantar ayah kemanapun ayah mau." Seru Arka kembali membuat ayahnya hanya tersenyum dengan kepedulian anaknya.


"Ayah lebih senang berpergian tanpa ada yang mengenal ayah. Ayah bisa naik transportasi umum yang sudah negara kita sediakan. " Ardian memang tipikal orang yang berpikiran luas, sederhana walaupun dia dulunya pemilik perusahaan Arxia Group. Perusahaan yang sangat sukses didalam maupun diluar negeri. Perusahaan nomor satu di negara ini. Perusahaan yang hampir memiliki ranting di tiap kota besar di negara ini. Bahkan perusahaan ini sangat membantu pemerintah dalam mengurangi jumlah ribuan pengangguran karena setiap tahun perusahaan ini selalu memperkerjakan karyawan baru melalui beberapa tahap seleksi yang sangat ketat dalam setiap bidangnya dan perusahaan ini sudah Ardian serahkan kepada anak tunggalnya Arka Arya Wiguna yang membuat perusahaan ini tambah maju dan berkembang pesat di kancah Internasional.

__ADS_1


Arka menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Arka hanya kuatir dengan ayahnya. Karena hanya ayahnya yang dia punya selain Frans sekertaris yang sudah sepuluh tahun menemaninya.


"Baiklah lakukan apa yang ayah suka. Selagi itu membuat ayah bahagia. Tetapi Arka minta kemana pun ayah pergi beritahu Arka atau sekertaris Frans dan setidaknya bawalah Adam bodyguard yang sudah Arka bayar untuk melindungi ayah." Arka berdiri dari duduknya, hendak pergi.


"Arka apa ayah boleh minta tolong?" Ardian menahan pergelangan tangan anaknya yang hendak pergi.


"Katakan." Jawab Arka singkat dan berbalik kearah ayahnya.


"Tolong cari seorang gadis yang bernama Aluna. Dia menolong ayah waktu ayah sakit di pesawat." Ardian ingat betapa baiknya gadis itu. Menolongnya tanpa meminta imbalan, padahal Ardian baru dia kenal di dalam pesawat.


Sedangkan Arka kaget bukan karena ayahnya memintanya mencari seorang gadis tapi karena ayahnya sakit di pesawat tanpa ada orang terdekatnya disampingnya. pikirnya bagaimana kalau ayahnya sakit parah dan tidak ada satu pun yang perduli karena mereka tidak mengenal ayahnya.


"Apa? Ayah sakit apa? Ayo kita ke dokter sekarang" Arka meraih tangan ayahnya seperti seorang ibu yang mengajak anaknya ke dokter. Arka memang lebih sensitif mengenai kesehatan ayahnya karena dia tidak ingin kehilangan satu - satunya orangtuanya yang tersisa.


"Ayah sudah tidak apa - apa berkat gadis itu. Jadi tolong carilah dia. Ayah belum berterima kasih dengan benar kepadanya." ucap Ardian mengingat dia memang belum berterima kasih dengan benar menurut versinya kepada Aluna. Dia tahu kemampuan anaknya dengan membunyikan jari kepada sekertaris handalnya semua informasi siapa saja sangat mudah didapatkannya.


"Baiklah, Arka akan berusaha mencari gadis itu. Sekarang istirahatlah. Arka akan kembali nanti setelah meeting terakhir. " Arka meninggalkan ayahnya diikuti Frans yang duduk menunggunya di teras rumah ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2