
"Frans, hari ini pergilah kerumah yang ditempati Aluna. Ambil barang yang penting saja, sisanya kau tinggalkan saja. " Perintah apa sih yang tidak bahkal dituruti oleh Frans. Setelah menyetujui permintaan Arka, Frans mulai memasuki mobil, hendak menuju ke rumah yang ditempati Aluna.
"Frans..." Frans menghentikan langkahnya setelah Arka kembali memanggilnya.
"Aku ikut saja. "Entah mengapa dia berubah pikiran.
"Ayah, katakan pada istriku aku pergi sebentar. " Setelah mengatakan hal itu pada ayah Ardian yang sementara membaca koran di taman samping rumah, Arka pun masuk kedalam mobil.
Sesampainya di halaman rumah yang ditempati Aluna, pandangan Arka langsung tertuju di pintu berwarna hijau milik tetangga Aluna. Rupanya suami Aluna itu, ingin melihat wajah pria yang dari kemarin membuatnya cemburu. Pria yang selalu menjaga abang Al dan Giska disaat Aluna pergi. Pria yang selalu mengantar makanan untuk Aluna.
"Setampan apa sih dia? " Bergumam sambil matanya tidak pernah absen dari pintu berwarna hijau itu.
"Enak aja, mau jadi ayah baru Al dan Giska. " Frans yang baru saja keluar dengan membawa surat - surat penting milik Aluna, merasa heran dengan tuannya itu.
"Tuan, hanya ini surat berharga milik nona Aluna. " Frans memperlihatkan dua buah akte kelahiran milik Al dan Giska dan beberapa surat lainnya. Karena Arka hanya menyuruh mengambil itu saja, untuk pakaian dia akan menyuruh Frans mengurusnya atau dia sendiri yang akan mengajak istri dan kedua anaknya untuk berbelanja kebutuhan mereka.
Masih enggan masuk kedalam mobil sebelum dia bertemu pria itu.
"Frans, tunggu sebentar. " Mau kemana lagi tuan mudanya ini. Frans hanya bisa mengamati saja, ketika Arka mulai melangkahkan kakinya ke arah rumah yang ada disamping rumah Aluna.
Mengetuk pintu beberapa kali, namun belum juga ada yang membukakan pintu. Arka yang ingin memberitahu pria itu soal dirinya adalah suami Aluna, tidak menyerah ketika pintu itu tak kunjung dibukakan. Menggedor pintu itu sedikit lebih keras. Berhasil ketika ada sahutan dari dalam rumah.
Seorang pria paruh baya sambil menurunkan kacamatanya, menatap Arka bingung.
"Cari siapa nak? " Tanyanya.
"Aku ingin bertemu pria itu. " Pria paruh baya itu sedikit bingung dengan orang yang dicari Arka.
"Siapa sayang. " Muncul lagi seorang wanita yang sama tuanya dengan pria paruh baya tadi. Sepertinya itu istrinya.
__ADS_1
"Seorang anak muda. Katanya mencari seorang pria. " Jelas pria itu pada sang istri.
"Kamu mencari pria mana nak? " Kali ini sang istri yang bertanya. Arka bingung harus bagaimana menjelaskan. Secara dia juga tidak tahu nama pria yang diceritakan istrinya itu.
"Pria yang ada dirumah ini. " Hanya itu yang bisa dia katakan.
"Nak, kami tinggal berdua. Tidak ada pria selain suamiku. " Jelas sang wanita. Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu pria yang dimaksud istrinya itu?
" Apa kalian mengenal pemilik rumah itu? " Arka menunjuk rumah dimana istrinya itu tinggal.
"Kenal. Itu rumah nak Luna sama anak - anaknya. Kalau nak Luna pergi bekerja, kedua anaknya sering dititipin disini. " Fix, pria yang dikatakan istrinya itu tidak ada.
"Tapi dari kemarin kami tidak melihat mereka. Nak Luna berjuang sendiri membesarkan kedua anaknya. Katanya suaminya pergi bekerja tapi sudah hampir lima tahun kami tinggal disini dan tidak pernah melihat kalau suaminya itu kembali.
Apa suaminya itu sudah punya istri, yah sayang diluar sana?" Ada sebagian hatinya yang tergores. Arka tidak tahu kalau istrinya masih hidup. Kalau dia tahu, sudah dari dulu dia kembali dan menjemput mereka.
" Terima kasih karena telah menjaga mereka selama ini. " Ucap Arka lirih.
Menarik nafas kasar, Arka menyodorkan tangannya. "Saya Arka. Suami Aluna dan ayah dari kedua anaknya. " Kedua orangtua itu saling menatap. Mungkin mereka memakinya dalam hati, tapi biarlah. Arka pantas mendapatkannya.
"Ya ampun nak, kemana saja kamu selama ini? Mereka pasti senang kalau tahu kamu telah kembali. " Ternyata mereka orang baik. Arka bersyukur istri dan anaknya mengenal mereka.
"Mereka sangat senang. Aku sudah bertemu mereka kemarin. Bahkan aku sudah mengajak mereka pulang kerumahku. " Terlihat kedua orangtua itu ikut bahagia, membayangkan kebahagiaan Aluna, Alka dan Giska.
"Jangan lupa, titipkan salam kami untuk Aluna dan kedua anaknya." Teriak wanita paruh baya itu kepada Arka yang sudah duduk didalam mobil. Dengan jendela mobil yang sengaja diturunkannya. Arka hanya tersenyum mengiyakan.
***
Aluna yang sementara berdiri di balkon kamar sambil menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, merasa terkejut ketika dia merasa ada yang memeluknya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan suaminya.
__ADS_1
"Dari mana? " Tanya Aluna sambil menaruh tangannya, diatas tangan pria yang melingkar diperutnya.
" Rumah kamu. " Menjawab tapi bibirnya mulai memberikan kecupan - kecupan kecil disekitaran leher istrinya.
" Ngapain? " Tanya Aluna.
"Mencari tahu, siapa pria yang berani menjadi calon ayah baru untuk Al dan Giska." Aluna sontak memutar tubuhnya. membuat jarak diantara mereka semakin mendekat. Bahkan hembusan nafas suaminya, bisa ia rasakan menerpa wajahnya.
"Trus ketemu? " Tanyannya lagi.
"Udah. " Aluna bertanya - tanya dalam hati, pria mana yang sudah ditemui suaminya ini. Yang dia ceritakan kemarin, semata - mata hanya menggoda suaminya itu.
"Aku bahkan sudah memberinya pelajaran dan mengancamnya agar dia tidak berani mendekati istriku yang cantik ini. " Satu ciuman dibibir Aluna. Aluna bingung, pria mana yang sudah dihajar suaminya itu.
"Sayang..." Aluna mengikuti Arka yang sudah meninggalkannya setelah menciumnya tadi.
Aluna butuh penjelasan, siapa pria yang dihajar suaminya itu.
"Aku mau mandi. Kau mau ikut? " Arka yang sudah berdiri di pintu kamar mandi, berusaha menggoda istrinya.
"Jawab dulu, siapa yang kau hajar. " Aluna rupanya belum tenang.
"Aku akan mengatakannya, disaat kita mandi bersama. " Aluna yakin, ini bukan hanya acara mandi bersama. Tapi ada rencana licik suaminya.
"Hanya mandi bersama, nggak lebih. " Bujuk Arka. Dia tahu apa yang dipikirkan istrinya saat ini.
"Beneran? " Tanya Aluna memastikan.
"Iya sayang. Jangan - jangan kamu yang pengen macam - macam didalam. " Aluna mencibir. Yah sudah, hanya mandi saja,pikirnya. Aluna pun menyetujui mandi bersama. Tapi bukan Arka namanya jika tidak mengambil kesempatan itu.
__ADS_1
" Sayang.... " Teriak Aluna.