Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
KEBIASAAN ALUNA


__ADS_3

" Yah ampun nak, bagaimana kandungan kamu? " Mama Asmita mengelus perut putrinya. Sedangkan sang putri masih dengan manjanya melingkarkan tangannya dilengan wanita yang dirindukannya itu.


"Kandungan Luna baik ma. Soalnya Luna dirawat baik oleh suami Luna. " Melirik kearah suaminya yang duduk di kursi sofa satunya. Arka hanya tersenyum, sesuatu yang paling membahagiakan jika pasangan kita membanggakan kita didepan orangtua kita. Itulah yang dirasakan Arka saat ini. Bahagia.


" Terima kasih yah nak, sudah merawat dan menjaga Luna selama ini. " Mama Asmita berujar tulus kepada menantunya. Mama Asmita sepertinya juga sudah tidak secanggung dulu kepada menantunya ini. Dulu dia sering memanggil Arka dengan sebutan tuan, tapi sekarang mama Asmita sudah memanggilnya dengan sebutan nak.


"Mama tidak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab Arka sebagai suami Luna. " Sepertinya Arka juga sudah tidak secanggung dulu. Dia juga sudah memanggil mama pada ibu Aluna.


" Luna, kamu ngidam apa nak? Nggak aneh - anehkan? " Tanya mama Asmita lagi. Lagi - lagi Aluna melirik suaminya dan tersenyum malu.


"Nggak ngidam yang aneh - aneh kok ma. Iya kan sayang? " Arka jadi bingung mau jawab apa.


"Iya ma. Nggak aneh - aneh kok. Hanya minta dimasakin nasi goreng, Suka ngendus - ngendus leher Arka dan terakhir minta ketemuan sama mama. Jadi Arka kabulin. " Yah ampun, suaminya ini kenapa juga dijelasin kayak gitu. Masa ngendus - ngendus leher juga dikasih tahu. Bikin malu Aluna saja. Arka tentu tidak bilang kepada mertuanya ini, kalau dia juga pernah mencuri mangga karena ngidamnya yang istri. Bisa hancur reputasinya.


Mama Asmita tersenyum, sambil menepuk pundak anak gadisnya.


" Jangan terlalu sering berhubungan badan dulu, kalau bisa ditahan dulu sampai kandungan Luna kuat. " Bukan hanya Arka yang malu mendengar ucapan mama Asmita tapi Aluna juga. Namun entah sadar atau sengaja Aluna mengatakan hal yang membuat Arka benar - benar malu.


"Mama terlambat ngomongnya, tadi udah. Suami Luna bilang buat nambah hidungnya biar mancung kayak daddynya. " Arka melirik Aluna, agar istrinya itu tidak sejujur itu. Aluna rasanya ingin tertawa melihat wajah suaminya yang sudah memerah karena malu.


***


Mama Asmita sudah istirahat dikamarnya, sedangkan Arka mengajak istrinya itu ke kamar mereka.


" Sayang kamu kho frontal banget ngomongnya. Malu tau. " Bisa malu juga ternyata suaminya ini. Aluna hanya terkekeh kecil diperpotongan leher suaminya.

__ADS_1


"Sayang malam ini aku... " Cepat - cepat Arka menyela ucapan istrinya.


"Nggak boleh. "


" Emang Daddy tahu bunda mau ngomong apa? " Tanya Aluna mulai menatap suaminya.


" Mau tidur sama mama Asmita kan? "


" Bukan itu. Malam ini bunda mau minta jatah tapi karena nggak dibolehin yah udah. "


"Boleh... boleh kok. " Cepat - cepat Arka mengganti jawabannya. Sedangkan Aluna sudah tergelak.


" Dasar suamiku, kalau bahas jatah aja nomor satu. " Aluna masih terkekeh.


" Wajarlah sayang. Pedang nggak diasah juga bakalan tumpul. " Aluna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya dia tidak mengerti dengan ucapan suaminya.


" Udah mau jadi seorang mommy masih aja polos. " Arka mengelus pucuk kepala Aluna.


"Kenapa sih sayang? " Tanya Aluna.


"Nggak apa - apa. " Tidak apa - apa tapi suaminya itu masih tergelak kecil.


***


Malam ini sepertinya Aluna benar - benar menduakan Arka. Lebih memilih tidur dengan mama Asmita, dibandingkan suaminya. Alasannya tetap sama, masih merindukan ibunya.

__ADS_1


"Daddy doakan bunda tidak bisa tidur, karena ingin mengendus bau daddy. " Ucap Arka disaat berbaring diranjangnya. Arka bersyukur Aluna sudah jarang mual apalagi muntah. Jika Aluna merasa mual, hanya satu obatnya, mengendus bau tubuh suaminya. Itulah sebabnya Aluna selalu menyusup ke perpotongan leher Arka, mengendus bau suaminya seperti obat baginya.


Belum juga stengah jam Arka berdoa, istrinya itu sudah terlihat membuka pintu. Arka berpura - pura tidur dengan posisi tengkurap, ketika istrinya masuk kedalam kamar, mengambil posisi tidur disampingnya.


"Dad, kok tidurnya kayak gitu? " Arka tidak bergerak dari posisinya. Dia tahu kebiasaan istrinya saat tidur, memeluk dan menaruh kepalanya disamping leher Arka. Itulah sebabnya Arka pura - pura tidur dengan posisi tengkurap.


"Suamiku... " Arka tetap diam, pura - pura tidur tepatnya.


"Aduh perutku. " Aluna merintih, Arka langsung bangun dengan tergesa - gesa.


"Mana yang sakit? " Tanya Arka dengan wajah cemasnya. Sedangkan yang ditanya sudah tidak bisa menahan tawanya dan akhirnya tergelak.


"Ih nggak lucu yah bun. " Arka sadar dia telah dikerjai istrinya.


" Habisnya dari tadi nggak bangun - bangun. " Ucap Aluna tanpa dosa.


"Katanya mau tidur sama mama. " Ucap Arka, mengambil posisi tiduran menghadap istrinya.


"Nggak bisa tidur. " Ucap Aluna jujur.


"Ya udah sini." Arka meraih kepala istrinya. Tangannya dijadikan bantalan untuk kepala Aluna dan benar saja istrinya mulai mendekatkan hidungnya diperpotongan leher suaminya.


"Aku suka bau kamu. " Ucapnya, masih mengendus sambil sesekali mengecup leher suaminya. "Jangan membangunkan singa yang sedang tidur sayang. " Aluna tersenyum. Kali ini otaknya berfungsi dengan baik. Dia tahu maksud ucapan suaminya. Makanya Aluna menghentikan kecupannya dileher Arka. Namun untuk mengendus dia masih tetap melakukannya.


Sebelum mereka terlelap, banyak sekali yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Seperti memberi nama Giska untuk anak perempuan mereka nantinya. Alka untuk nama anak laki - laki mereka.


Bersambung dulu yah.


__ADS_2