
Dapat terlihat sekali raut wajah tidak suka Alka ketika melihat kedekatan Rama dan Maura. Pasalnya sahabatnya itu, menempel terus pada Maura. Bahkan bersama orangtua Maura, Rama bisa beradaptasi dengan baik.
" Kamu kenapa sih liatin mereka segitunya?" Tanya Violin pada Alka. Bukan hanya sekali Violin melihat Alka yang seperti ini tapi sudah beberapa kali. Alka seperti tidak suka melihat Maura dekat dengan Rama.
"Nggak apa - apa." Pembicaraan mereka lagi - lagi tidak berlanjut ketika Aluna memanggil semuanya untuk kumpul diruang keluarga.
"Malam ini kita bagi kamar. Giska bareng sama Maura, Vio bisa tidur sendiri atau bisa juga gabung sama Giska dan Maura. Kalau Abang Al sama Ardian. Nak Rama bisa pakai kamar yang ada dilantai atas dekat kamarnya Abang Al dan Ardian."
"Bunda, aku tidur sama Vio saja. Maura biar tidur sendiri. Tidak apa - apa kan Ra. Hitung - hitung aku ingin dekat dengan calon kakak ipar ku." Walaupun ucapnnya terlihat meyakinkan, namun ada senyum tipis yang terukir dibibir gadis itu.
"Gimana Vio, kamu mau tidur sekamar dengan Giska?" Tanya Aluna.
"Emmm" Vio menimbang - nimbang. Pasalnya dia tahu Giska tidak menyukainya. Violin melihat kearah Alka yang ada disampingnya, seperti meminta untuk Alka menyelamatkannya. Namun Alka terlihat setuju - setuju saja.
"Vio pasti mau Bun. Iyakan Vio?" Menatap Violin dengan tersenyum, mau tidak mau Violin mengiyakan.
"Kalau kamu Ra, kamu tidak keberatan kalau tidur sendiri?" Maura mengangguk.
"Kalau Maura mau, Maura bisa tidur bareng ibu dan ayah. " Santi menawarkan.
"Gak mau, Maura tidak mau jadi obat nyamuk." Ucapannya sontak membuat beberapa orang disitu tertawa.
"Aku tidur sama Rama aja Bun, biar Ardian tidur sendiri. " Alka tidak akan membiarkan Rama tidur sendiri, sedangkan Maura juga tidur sendiri.
"Yes." Ardian bersorak senang. Pasalnya kalau bersama sang Abang, dia tidak bisa bergerak bebas. Tidak bisa teleponan dengan bebas bersama pacar - pacarnya.
__ADS_1
Jadi urusan kamar sudah selesai. Sekarang mereka membahas rencana yang akan mereka lakukan selama dipuncak.
***
Ketika Maura pergi ke dapur mengambil air, Alka lagi - lagi mengikuti gadis itu.
"Kenapa sih kamu harus ngajak Rama kesini Ra? "
Maura mengernyitkan dahinya, bingung. apa alasan Alka tidak menyukai kehadiran Rama? Padahal Rama adalah sahabatnya.
"Lho emang nggak boleh? " Maura tidak menjawab. Bukan, Maura memilih belum menjawab, sebelum dia tahu apa alasan Alka tidak suka dengan adanya Rama dalam liburan mereka.
"Bukannya nggak boleh. Inikan liburan keluarga kita. Kenapa harus ngajak orang lain. " Sudah mulai kelihatan raut kesal diwajah Maura.
"Lalu bagaimana dengan Vio? " Alka tidak berpikir sampai disitu. Dia hanya fokus dengan kehadiran Rama bukan Violin.
"Karena dia pacar aku. " Karena merasa terdesak, kalimat itu keluar begitu saja dari bibir pria yang seperti menyesali ucapannya barusan. Maura yang mendengar itu, hanya bisa tersenyum kaku.
"Aku tahu dia pacar kamu. Jadi dia berhak datang diacara keluarga Wiguna. Kamu tidak perlu kuatir. Rama tidak akan menjadi orang lain setelah ini. " Maura meninggalkan Alka yang berusaha mencerna ucapan Maura.
Rama tidak akan menjadi orang lain setelah ini? Apa maksud Maura. Alka mengejar Maura, meminta Maura menjelaskan ucapannya barusan.
Maura kembali berkumpul dengan anggota keluarga yang lain. Terpaksa Alka menahan dulu apa yang akan ditanyakan nya pada Maura terkait ucapan gadis itu.
"Kamu kemana aja sih Al? " Sepertinya Violin sudah mulai merasa ada sesuatu antara Maura dan Alka. Pasalnya mereka muncul dari arah yang sama. Ekspresi wajah keduanya juga sama. Sama - sama terlihat menahan kesal.
__ADS_1
Apa mereka marahan? Apa Alka melarang Maura pacaran dengan Rama? Tapi kenapa ?
"Oh yah semuanya, ada yang Maura ingin sampaikan. " Semuanya beralih menatap Maura. Dari wajahnya terlihat gadis itu ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Ada apa sih sayang. " Santi bertanya penasaran. Sama halnya dengan semua orang yang ada disitu. Termasuk Alka.
"Bu, ayah, Maura hanya mau bilang kalau Maura udah punya pacar. " Semuanya terkejut mendengar ucapan Maura. Giska menduga bahwa Abangnya sudah mengakui perasaannya pada Maura. Aluna juga berpikir bahwa Maura sudah pacaran dengan putranya. Namun jika mereka pacaran, bagaimana dengan Vio? Aluna tidak ingin putranya itu menjalin hubungan dengan Maura, jika masih memiliki hubungan dengan Violin.
Alka tidak tahu apa yang ada dipikiran gadis itu. Pacar? Siapa?
Maura memang sudah dewasa, jadi Santi dan Bryan selalu mendukung keputusan putri mereka itu. Tapi yang menjadi pertanyaan siapa pacar anak gadis mereka itu? Kalau Alka, itu tidak mungkin menurut Santi. Karena Santi tahu, gadis yang saat ini tengah berdiri di samping Alka adalah pacarnya Alka.
"pacar? Siapa orangnya nak? Dimana dia? Kenapa kamu tidak mengajak dia kesini. Biar dikenalin sama ayah dan ibu." Bryan yang bertanya.
"Dia ada disini ayah." Satu kalimat yang semakin membuat mereka penasaran.
" Disini? Siapa?" Sang ayah yang masih bertanya. Sedangkan Alka hanya menggeleng kepalanya memberi isyarat kepada Maura untuk tidak mengatakan apapun. Karena Alka sekarang mengerti ucapan Maura tadi.
" Kak Rama. " Ucap Maura akhirnya.
Rama yang mendengarnya terkejut. Pasalnya dia tidak tahu apa - apa. Tapi dia berusaha mengiyakan itu ketika orangtua Maura menanyakan hal itu padanya.
----------
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Aku usahakan satu bab malam nanti yah setelah selesai buat jurnal laporan home visit dan Kisi - kisi soal persiapan UTS yah.