Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
Season 2 KELUARGA WIGUNA


__ADS_3

Sore hari dikediaman Arka Arya Wiguna.


"Ini bunda aku. Tetap cantik kan? Diusianya yang tak lagi muda. " Terkekeh melihat ekspresi sang bunda yang menatap kesal kearahnya. Sambil tetap membawa ponselnya menuju depan teras.


"Kalau ini ayah aku. Serius banget ayah baca korannya... " Sang ayah menatap sekilas dan kembali fokus pada koran yang dibacanya.


" Tampan kan? Kayak aku. " Menatap layar ponsel dan kembali berjalan kedalam, menapaki anak tangga. Masih mengarahkan ponselnya ke segala arah. Berjalan kearah kamar yang ada ditengah kamarnya.Membuka pintu kamar berwarna pink.


"Opss maaf kak Giska..." Menutup kembali pintu dan lari dari amukan sang kakak.


Ternyata kakak perempuannya baru selesai mandi dengan handuk yang masih melingkar ditubuhnya.


" Ardi...ann..." Teriakan Giska menggema.


Aluna menghampiri kamar putrinya. Mengetuk sambil memanggil nama putri semata wayangnya.


"Ada apa sayang? " Gadis itu membuka pintu dengan wajah dibuat sesedih mungkin.


"Ardi tuh bun, masuk kamar Giska nggak pake ketuk pintu dulu. Main masuk aja. " Mengadu dengan penuh semangat.


" Nanti bunda nasehatin yah. " Mengelus pucuk kepala putrinya yang masih merajuk.


"Oh yah bunda baru selesai buatin kue brownis. " Giska kan paling suka kue buatan bundanya, apalagi brownis. Sepertinya membujuk Giska sangat mudah, putrinya itu kalau sudah disogok pake kue buatannya, langsung lupa dengan rajukannya.


"Benar bunda? " Tanyanya bersemangat.


"Iya sayang. " Mengelus pipi Giska dengan lembut.


" Bunda tunggu dibawah. Sekalian bunda mau bikin teh buat ayah. " Giska mengiyakan.


"Ayah... " Menghampiri Arka didepan.


" Iya Bun. "


Meraih koran yang ada ditangan suaminya. Merapikannya ke bentuk semula. Lalu meletakkannya diatas meja.


"Ayo. " Meraih tangan suaminya. Tanpa protes Arka mengikuti langkah istrinya, kearah ruang makan.


"Wah enak nih. " Pujinya melihat kue buatan istrinya. Baru ingin mengambil sepotong, tangannya ditepuk sang istri.


" Ihh ayah jorok. Cuci tangan sana. "


"Satu aja dulu bun. " Memelas seperti biasa.

__ADS_1


"Please. " Aluna bahkan tidak habis pikir dengan sikap suaminya. Semakin berumur bukannya semakin bijak, tapi tingkahnya seperti seorang bocah.


Aluna memgambil potongan brownis dengan tangannya dan menyuapi suaminya. Arka tersenyum sambil mengunyah brownis buatan istrinya


"Bunda yang terbaik. " Mencium pipi istrinya dengan mulut yang masih mengunyah.


"Kalau kayak gini, nggak usah cuci tangan. Bunda bisa nyuapin ayah kan? " Aluna menarik nafas kasar. Ini suaminya apa bukan sih? Kenapa manjanya sebelas dua belas sama Giska.


"Ayah punya tangankan? " Menarik tangan suaminya kearah wastafel. Aluna bahkan yang membantuh suaminya itu mencuci tangan.


" Cie bayi bunda yang paling bontot. " Ardian masih dengan ponselnya mengambil video ayah dan bundanya.


Kalimatnya tadi menyindir sang ayah.


" Ardi... Kau juga cuci tangan. Bunda nggak mau liat, kau masih memegang ponsel yah. " Sudah berjalan mendekati putranya.


"Auuww... Sakit bunda. " Menjewer kuping putranya.


"Kamu tuh yah, kebiasaan. Tadi kamu masuk kamar kak Giska, nggak pake ketuk pintu dulu kan? " Ternyata masalah tadi.


"Iya maaf - maaf bun. Ardi nggak sengaja. " Sambil mengusap kupingnya yang memanas, yang sudah dilepaskan sang bunda.


" Ini gara - gara ayah yang selalu manjain Ardian. " Kok jadi nyalahin Arka.


" Kan ayah selalu membela Ardian kalau bunda lagi marah dan nasehatin dia. " Arka memang begitu sama semua anak - anaknya. Apalagi Ardian yang namanya sama dengan nama almarhum ayahnya.


"Kan ayah nggak belain Ardi sekarang bun. " Oh iya, Aluna lupa. Suaminya itu tidak berkata apa - apa disaat Aluna menjewer Ardian barusan.


" Lain kali kalau masuk kamar orang itu, ketuk pintu dulu. " Kali ini Arka yang menasehati putranya.


"Apalagi kak Giska itu udah dewasa. Jadi kamu nggak boleh sembarang masuk kamar kak Giska gitu. " Duduk diam mendengarkan. Sambil mulutnya sibuk mengunyah kue buatan bundanya.


" Ardi, dengarkan? Ayah ngomong apa? "


"Iya dengar yah. " Menelan paksa sisa kue dimulutnya.


"Katakan... " Arka menatap tajam putranya.


" Jangan masuk kamar kak Giska tanpa ketuk pintu dulu. Karena kak Giska bukan anak - anak lagi. Tapi gadis dewasa. " Menjawab dengan cepat.


"Bagus. " Giska yang baru muncul, langsung menjitak kepala adiknya.


"Auuw.. " Melihat kearah kakak perempuannya.

__ADS_1


"Bunda, Giska tuh.. Auuw sakit tau. " Mengusap kepalanya.


"Giska..." Suara sang ayah.


"Iya. Iya.. Maafin kak Giska. Habisnya Ardi masuk kamar Giska disaat kak Giska setengah telanjang. " Setengah telanjang gimana? Seingat Ardian kakak perempuannya itu masih memakai handuk.


Apa itu boleh dikatakan setengah telanjang?


" Ih kak Giska lebay. "


"Sudah.... Sudah. Kalian ini. " Bunda merelai.


"Sepertinya pada ngumpul disini. " Suara berat seorang pria yang baru pulang kerja.


" Sudah pulang abang. " Sapa sang bunda. Alka meletakan tas kerjanya disamping meja dapur.


"Hhhmmm. " Hendak memgambil kue namun ditepuk sang bunda. Arka dan Ardian terkekeh.


"Cuci tangan dulu. " Arka dan Ardian mengatakan secara bersamaan. Karena tahu kenapa sang bunda menepuk tangan Alka.


"Tidak usah. " Kata sang bunda membuat Arka dan Ardian menatapnya penuh selidik. Jangan bilang bunda pilih kasih.


"Karena abang Al, baru pulang kerja dan lelah. Maka biar bunda yang suapin. " Mengambil potongan kue dan mulai menyuapi putra tertuanya.


Menatap istrinya dengan wajah merajuk.


____________


Sebenarnya ingin fokus dulu sama Novel yang satunya " Perjuangan Emely. "


Tapi karena udah ditanyain season 2nya jadi


hari ini mulai dibikin season 2nya.


Mungkin agak sedikit lambat upnya. Karena fokus dulu sama "P. E. " Yah. Jadi disabar - sabar aja yah. Muda - mudahan kalian suka awalnya.


🙏


Jangan lupa dukung terus karya saya.


Sekalian mampir juga di "Perjuangan Emely. "


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2