Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
BERTEMU MANTAN


__ADS_3

Arka menggandeng tangan istrinya menuruni mobil menuju peresmian galeri seni milik temannya. Aluna terlihat cantik mengenakan gaun berwarna pink selutut.


Seorang pria mengenakan jas senada melambaikan tangannya melihat kedatangan orang penting yang sudah ditunggunya sedari tadi. Bahkan dia ingin pamer kepada orang - orang bahwa dia merupakan teman pengusaha sukses tersebut.


Alex mengulurkan tangannya menyambut dengan ramah kedatangan Arka dan Aluna.


"Oh yah siapa gadis cantik ini? Apakah dia pacarmu?" Kakimat terakhir dia bisikan ditelinga Arka.


"My Wife." Arka dengan bangga mengatakannya membuat Alex kaget karena setahunya Arka belum menikah dan terakhir mereka bertemu Arka masih pacaran dengan Aneta.


"Sayang ini Alex pemilik galeri ini. Dia yang mengundang kita." Alex menyodorkan tangannya dan disambut oleh Aluna dengan tersenyum ramah.


"Oh yah Arka aku juga mengundang..." Kata - kata Alex menggantung ketika namanya dipanggil untuk memberi sambutan.


"Aku akan segera kembali ." Ucapnya sambil tetap melangkah ke depan.


"Sayang tunggulah disini, aku akan mengambil minum." Arka mengangguk membiarkan istrinya mengambil minuman yang ada dimeja tidak jauh darinya.


"Ar. Arka ini benar kau." Seorang wanita langsung memeluk Arka. Arka melepaskannya dengan kasar ketika dia melihat Aluna yang sudah menatapnya dengan penuh tanda tanya.


" Tolong jaga sikap Anda." Arka berbicara namun tidak menatap wanita yang penuh kerinduan padanya.


"Ar aku merindukannmu. Aku minta maaf, aku memang salah meninggalkanmu. Sekarang aku sadar, hanya kau pria yang mencintaiku dengan tulus." Ucapan wanita itu sudah memberi jawaban pada pertanyaan Aluna tentang siapa dirinya.


"Aku tahu kau masih mencintaiku. Kemarin itu kau kan? Kenapa kau tidak datang menyapaku? " Tambah wanita yang tidak berhenti bicara itu.


"Anet berhentilah membual. Aku sudah menikah." Aneta hanya tertawa mendengar ucapan Arka.


"Aku tidak percaya. Aku tahu kau masih mencintaiku. Buktinya kau masih memanggilku dengan sebutan mesramu." Ucapnya penuh keyakinan. Aluna kemudian menghampiri keduanya. Membuat Aneta beralih memandangnya.


" Kau berani - beraninya menyentuh Arka. " Setengah berteriak Aneta mengatakan itu pada Aluna yang melingkarkan tangannya dilengan suaminya. Bahkan semua mata sudah melihat kearah ketiganya.


"Hei kau yang berani - beraninya memeluk dan menyentuh suamiku." Aluna mengatakannya dengan tegas. Ucapannya membuat Aneta kaget.

__ADS_1


"Suami?" Aneta memastikan.


"Iya. Aku ini suaminya dan dia adalah istriku." Arka yang menjawabnya. Aneta menatap keduanya tidak percaya.


"Ada apa ini?" Alex menghampiri ketiganya.


" Kalau aku tahu kau mengundangnya, aku tidak akan datang kesini. " Arka menatap Alex yang sudah mengatupkan kedua tangannya memohon maaf lewat sorot matanya pada Arka. Karena dia tidak tahu Arka sudah menikah dan setahunya Anetalah pacar Arka makanya dia juga mengundang Aneta yang memang sebulan ini menetap di Bali.


" Aku sudah memenuhi undanganmu. Aku akan kembali sekarang, kelihatannya istriku sudah lelah karena seharian ini kami menghabiskan waktu didalam kamar." Ucap Arka mencium pipi kanan istrinya dengan lembut semakin membuat Aneta tidak percaya dengan santainya Arka mengatakan dan melakukan hal itu didepan banyak orang.


***


"Aku butuh penjelasan. Siapa dia? kemarin kau kemana? Apakah benar kau hendak menemui wanita itu? " Pertanyaan bertubi - tubi Aluna lontarkan kepada Arka ketika keduanya sudah masuk kedalam kamar.


Sementara di luar kamar, Frans merutuki kebodohannya. Seharusnya dia memeriksa terlebih dulu siapa saja tamu yang diundang Alex.


"Sayang ini bulan madu kita. Aku tidak ingin membahas semua ini. Kita nikmati bulan madu kita, ok. " Bujuk Arka karena dia tidak ingin merusak momen bahagianya dengan Aluna. Walaupun dia tahu dia juga salah karena mengikuti wanita yang ternyata memang Aneta.


"Kau pikir sekarang aku bisa menikmati bulan madu kita? Dia memelukmu didepanku." Aluna mulai terisak. Membuat Arka merasa bersalah padanya.


"Jangan menyentuhku. Aku tidak butuh pelukanmu, aku butuh penjelasanmu." Memilih duduk diranjang dan masih menatap Arka.


Arka mendekatinya dan bersimpuh dikakinya.


"Dia mantan pacarku. Dia meninggalkan aku ketika aku sangat membutuhkannya. Ibu meninggal, ayah terpuruk bahkan perusahaan sudah tidak terurus dan hampir jatuh ditangan pamanku yang sudah lama mengincar perusahaan ayah. Tanpa sengaja aku memergoki dia di apartemennya. Aku yang tahu sandi apartemennya langsung masuk ketika sedari tadi aku menekan bel apartemennya, namun tak kunjung dia buka. Aku melihat baju pakaian pria dan wanita yang berserahkan dilantai apartemennya. Yang lebih menyakitkan lagi aku mendengar dia mengatakan pada pria itu bahwa dia akan segera meninggalkanku karena sebentar lagi perusahaan orangtuaku akan diambil ahli oleh pamanku." Penjelasan Arka mengingatkan Aluna pada hari dimana dia melihat Bryan dengan Fiona di hotel waktu itu. Posisi dirinya dengan Arka terbilang sama. Sama - sama dihianati oleh orang yang mereka cintai. Walau begitu Bryan melakukannya tanpa sadar, namun Aneta melakukannya dengan sadar. Jadi Aluna tahu seberapa sakitnya Arka waktu itu.


Aluna meraih tangan suaminya, agar berdiri. Aluna memeluknya " Aku tidak ingin kehilanganmu " Ucapnya dibalik punggung suaminya.


" Maaf aku telah membuka luka lamamu." Sesalnya namun Arka malah mengeratkan pelukannya.


"Aku yang minta maaf. Kemarin aku sempat mengejarnya dan hampir menolongnya." Arka menyesali ucapannya. Namun dia bertekad untuk tidak merahasiakan apapun lagi dari istrinya.


"Apa? kau mengejarnya?" Aluna mencubit perut suaminya dengan keras. Arka kesakitan dan mengelus perutnya yang masih terasa panas.

__ADS_1


"Kembali dari sini, aku akan mengejar Bryan." Aluna duduk kembali diranjang dengan melipat kedua tangannya didada. Aluna tidak sadar kata - katanya sudah membuat darah Arka mendidih.


"Coba saja kalau kau berani. Coba saja." Kata - kata Arka penuh penekanan.


"Aku tidak akan mencobanya tapi aku akan melakukannya." Aluna tidak mau mengalah, dia ingin membalas sakit hatinya pada Arka hanya lewat ucapannya tanpa dia harus melakukannya.


"Aluna..." Suara Arka sudah meninggi bahkan bisa didengar oleh Frans. Frans hanya berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada keduanya. Namun sepertinya harapan yang diucapkannya sia - sia. Kali ini Frans bisa mendengar suara seperti serpihan kaca yang jatuh. Namun dia tidak berani ikut campur dengan urusan tuan mudanya.


Aluna kaget dan panik melihat kaca cermin yang pecah karena dihantam tangan suaminya.


"Sayang aku hanya bercanda." Cepat - cepat Aluna menghampiri Arka yang sudah duduk dikursi depan meja riasnya. Aluna bergetar meraih tangan suaminya yang berlumuran darah karena pecahan kaca.


"Bercandamu tidak lucu." Memalingkan wajah tidak ingin menatap istrinya.


"Ayo kita pergi ke rumah sakit, kau bisa kehabisan darah" Ajak Aluna namun Arka tidak bergeming bahkan tidak menatapnya.


" Bukankah itu yang kau inginkan " Akhirnya dia menjawab.


"Belum saatnya. Aku akan membiarkanmu mati setelah kau mengalihkan seluruh hartamu atas namaku." Aluna sudah mulai kesal sendiri.


"Aku akan melakukannya sekarang. " Arka meraih ponselnya menghubungi pengacara.


"Tolong siapkan berkas pengalihan seluruh hartaku atas nama Aluna istriku." Aluna merampas ponsel milik suaminya.


"Maaf pak, Arka hanya bercanda." Aluna menutup panggilan ketika sudah meyakinkan pengacara suaminya.


"Apakah kau sudah gila?" Kali ini dia yang membentak Arka.


"Kau bahkan sudah berani mengataiku seperti itu?" Arka menatap Aluna dengan kesal.


"Kau memang gila." Seru Aluna kembali.


"Iya aku memang gila. Aku gila karena kau. Coba saja kalau kau berani mengejar Bryan, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." menatap Aluna dengan tatapan membunuh. Aluna bahkan takut sendiri.

__ADS_1


" Ayo kita ke RSJ untuk mengobati urat sarafmu dikepalamu." Aluna bahkan menahan tawanya mengatakan hal itu. Arka memalingkan wajah menahan sakit ditangannya. Arka tiba - tiba jatuh ke lantai.


__ADS_2