
Sudah dua hari Maura belum ditemukan, hanya sepedanya saja yang mereka temukan. Namun pencarian tetap dilakukan, atas permintaan Bryan dan juga Arka. Arka bahkan membayar orang untuk membantu mencari keberadaan Maura. Jika gadis itu masih hidup, dia pasti tengah kesakitan sekarang. Mengingat sepeda yang mereka temukan, sudah dalam posisi yang tidak utuh lagi. Lalu bagaimana dengan Maura? Kalaupun gadis itu meninggal, lalu dimana jasadnya?
Santi bahkan berkali - kali pingsan, dia bahkan belum makan hampir dua hari ini. Setiap dia bangun, yang selalu dia tanyakan adalah dimana putrinya. Aluna bahkan tidak tega melihat keadaan sahabatnya itu. Aluna jadi ingat bagaimana perasaan Arka dan juga ibunya waktu itu, saat dirinya dinyatakan meninggal.
Aluna berharap keajaiban yang waktu itu berpihak padanya, kali ini berpihak pada Maura. Walaupun kemarin Aluna bisa melihat kedalaman jurang itu. Siapapun yang jatuh disitu tidak akan selamat.
"San, kamu makan dulu ya !" Bujuk Aluna. Namun tetap saja, Santi menggeleng. Bagaimana dia bisa makan, sementara diluar sana anaknya mungkin kelaparan atau bisa saja__ Santi bahkan tidak ingin membayangkannya.
"Kamu dimana nak? pulang. " Lirihnya dengan isakan. Aluna benar - benar tidak tega.
__ADS_1
Hal yang sama juga dialami Alka, dia bahkan tidak pernah istirahat. Dia selalu ikut dengan petugas dan juga tim yang memakai baju serba orange itu. Dia mencoba tegar dihadapan keluarganya, namun tidak ada yang tahu, dia juga hancur.
"Al kamu balik aja ke Villa, kamu terlihat tidak sehat. " Bryan sedari tadi membujuk Alka, karena Alka terlihat sangat pucat. Namun Alka tetap ingin ikut mencari Maura.
Bahkan dia hampir saja jatuh, syukur ayahnya bisa menahan tangannya.
"Al, kamu balik aja. Istirahat sebentar di Villa. Biar ayah sama om Bryan yang akan cari Maura." Perintah sang ayah. Alka ingin membantah, namun dia sadar dengan keadaannya. Kepalanya pening, bisa - bisa dia akan jadi beban saat mencari Maura. Alka mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya. Alka kembali ke Villa.
"Ra, kamu dimana? " Lirihnya saat berbaring setelah sebelumnya dia membersihkan tubuhnya terlebih dulu.
__ADS_1
Alka mengusap, foto seorang pria remaja dengan gadis remaja yang saat itu tengah bermain ayunan. Foto masih remaja mereka berdua. Didalam foto itu keduanya tersenyum bahagia. Andai waktu bisa diputar, Alka ingin kembali ke masa itu. Masa dimana dia pertama kali mengenal cinta.
Hari kembali berlalu, tidak kunjung ada kabar tentang keberadaan Maura. Santi sudah sangat depresi, dia tidak bisa membayangkan kehilangan anak semata wayangnya.
Hari ini kembali mereka akan mencari keberadaan gadis itu, Alka sudah tidak bisa memaksakan dirinya untuk ikut. Karena keadaannya sangatlah lemah. Dia bahkan harus makan di dalam kamar, karena kepalanya terasa berat.
Sebelum mereka kembali mencari Maura, mereka membagi beberapa regu untuk mencari dititik yang berbeda keberadaan gadis itu. Disaat bersamaan suara teriakan histeris penjaga Villa, dari arah depan membuat mereka mengalihkan pandangan mereka kearah pria yang baru masuk itu.
" itu... itu" Berbicara seperti baru saja melihat hantu.
__ADS_1
"Itu apa? "
" Itu non Maura. "