
Menggunakan jet pribadinya, Arka akhirnya tiba di kampung halaman Aluna. Menyusuri kampung halaman Aluna, kali ini Santi yang menjadi pemandu jalan, karena dia juga berasal dari kampung yang sama dengan Aluna. Santi hendak mengantarkan Arka dan juga Frans lebih dulu kerumah Aluna, sebelum dirinya pulang kerumah dan bertemu dengan keluarga yang sudah lama ditinggalkannya.
Rumah minimalis dengan taman mini nan asri, sudah tampak dari ujung jalan. Rumah dengan warna cat yang sudah mulai memudar itu tak lain rumah Aluna. Arka terlihat bahagia namun juga ada ketakutan dihatinya. Bahagia bisa bertemu lagi dengan Aluna dan takut jika Aluna membencinya karena kebodohannya.
Sepanjang perjalanan mereka sudah seperti selebriti yang tidak pernah luput dari tatapan warga. Bahkan warga mengikuti mereka dari belakang, seakan mencari tahu siapa pria tampan yang dibawa Santi. Bagaimana tidak, baru kali ini mereka melihat pria tampan datang berkunjung ke kampung halaman mereka, setelah Bryan yang sudah jarang mereka lihat berkunjung.
"Permisi... " Santi beberapa kali mengetuk pintu rumah Aluna berharap sahabatnya yang membuka pintu. Setelah beberapa kali mengetuk, akhirnya pintu itu terbuka dan bukan Aluna yang membuka pintu melainkan Asmita yang terlihat lemah. Asmita seperti menebak nebak dan menggali ingatannya tentang gadis yang saat ini tengah mencium punggung tangannya.
"Aku Santi tante. " Akhirnya Santi memberitahu Asmita yang belum juga mengingat dirinya.
"Ya ampun nak, kamu apa kabar? ayo masuk kedalam. " Ajak Asmita dan diiyakan Santi. Arka dan Frans juga masuk kedalam rumah Aluna. Sorot mata Arka berusaha mencari keberadaan gadis yang dirindukannya saat ini, namun tidak terlihat sama sekali keberadaan Aluna dirumah itu.
"Oh yah nak, Kamu pulang kesini, lalu bagaimana dengan Aluna? " Santi terkejut mendengar pertanyaan Asmita tentang Aluna. Itu berarti Aluna belum sampai di kampungnya. Santi bahkan sudah merasa takut saat Arka menatnya dengan penuh tanda tanya.
" Loh Aluna belum sampai disini tante? " Tanya Santi membuat Asmita juga kaget.
"Belum nak. Kalaupun dia pulang kenapa tidak bareng nak Santi? " Tanya Asmita.
__ADS_1
"Lalu siapa kedua pria ini? " Akhirnya Asmita penasaran dengan kedua pria yang datang bersama Santi. Yang terabaikan sedari tadi.
"Oh yah bu perkenalkan saya Arka Arya Wiguna. Saya kesini karena anak ibu telah mencuri sesuatu yang berharga milik saya dan membawanya kemari. " Ucap Arka menyodorkan tangannya dan Asmita terlihat gemetar mengulurkan tangannya.
"Apa yang anak saya curi tuan? Saya tidak pernah mengajarkan Luna untuk mengambil apa yang bukan menjadi haknya. " Asmita menggenggam tangan Santi seolah dia ingin bertanya kepada Santi apa yang sebenarnya terjadi.
"Ma aku pulang. " Teriak seorang gadis yang berlari kecil kedalam rumah, namun menghentikan langkahnya ketika melihat pria yang sontak berdiri mendengar suaranya itu.
Aluna berbalik pergi namun Arka segera menahan pergelangan tangannya.
"Aku tidak mencuri apa - apa ma." Seru Aluna menatap kesal kepada Arka. Aluna berfikir apa yang dikatakan Arka pada ibunya sehingga ibunya bisa menuduh dia mencuri.
"Memang aku mencuri apa darimu? Aku bahkan tidak membawa satupun barang yang pernah kau belikan padaku. " Aluna menghempaskan tangan Arka dan membongkar isi kopernya mengeluarkan satu persatu barang didalamnya seakan dia ingin menunjukan bahwa dia tidak mengambil apapun milik Arka. Namun tiba - tiba tangannya terhenti ketika tangannya nenyentuh benda terakhir yang ada didalam koper tersebut.
"Apa itu? " Tanya Arka membuat Aluna sontak menutup koper miliknya.
"Bukan apa - apa. " Jawab Aluna gugup, membuat Asmita yakin bahwa Aluna memang mengambil sesuatu milik Arka.
__ADS_1
"Kalau bukan apa - apa, kenapa kau tidak mengeluarkannya?" Arka berusaha menahan hatinya untuk memeluk gadis yang diam - diam membawa figura foto, foto Arka tentunya. Karena Arka sempat melihat tadi sebelum Aluna menutup kopernya.
Aluna dengan ragu - ragu mengeluarkan bingkai foto itu sambil sesekali matanya menatap Arka.
"Apa kau kesini hanya karena mengejar figura foto ini? Kau bahkan menyebut dirimu pemilik perusahaan nomor satu di negeri ini, namun hanya karena aku membawa ini, lantas kau mengejarku sejauh ini." Aluna menyerahkan bingkai foto berwarna gold itu kepada Arka, membuat Asmita semakin bingung dengan apa yang terjadi. Santi dan Frans hanya diam saja tidak ingin ikut campur dengan drama kedua orang itu.
"Aku kesini bukan karena ini. Tapi kenapa yah kamu bahwa foto aku? " Ada senyum yang ditahannya, lalu Arka menaruh Figura foto itu diatas meja didepannya.
Tidak menjawab pertanyaan Arka tentang foto dirinya. Aluna malah bertanya balik padanya. "Lalu untuk apa kau datang kesini? "
"Aku kesini karena kau telah mencuri hatiku." Arka ragu - ragu mengatakannya. Asmita yang mendengarnya menjadi tambah bingung. Sedangkan Aluna hanya tersenyum hambar, tidak terlalu peduli dengan apa yang diucapkan Arka barusan.
"Ma, apakah mama baik - baik saja? " Aluna mendekati ibunya, mengalihkan pembicaraan karena Aluna tahu ibunya menaruh sejuta pertanyaan untuk ditanyakan padanya. Aluna mengajak ibunya kedalam kamar membiarkan Arka, Santi dan Frans diruang tamu. Setelah ibunya sudah tiduran dikamar Aluna kembali keluar menemui ketiganya.
"San pulanglah. Ibumu pasti sudah menunggumu. " Santi mengiyakan dan pemitan dengan Aluna, Frans dan juga Arka.
"Kalian berdua juga kembalilah. " Setelah mengatakan hal itu, Aluna langsung meninggalkan Arka dan Frans. Aluna berjalan keluar rumah entah kemana dia pergi.
__ADS_1