
Didalam mobil Arka selalu berdoa bahwa Aluna baik - baik saja. Arka bahkan beberapa kali memarahi Frans yang membawa mobil dengan lambat. Padahal kecepatan laju mobil yang dikemudikan Frans sudah diatas batas kecepatan berlalu lintas.
"Frans kenapa kamu lambat sekali. " Ucapnya lagi.
"Maaf tuan. " Frans tahu, tuannya sedang kuatir. Namun keselamatan tuannya jauh lebih penting baginya.
***
Arka langsung berlari keruangan dimana istrinya dirawat. Namun Adit menghentikannya sebelum dia menerobos masuk kedalam ruangan istrinya.
"Apa kamu bertengkar dengan kakak ipar? " Tanya adit penuh selidik.
" Aku tidak bertengkar dengannya. Minggir aku mau masuk. " Sebelum membuka pintu ruangan Aluna, lagi - lagi Adit menahannya.
"Dit kamu kenapa sih? Didalam itu istri aku. Dia butuh aku sekarang. "
" Kalau kalian tidak bertengkar kenapa kakak ipar bisa stres? " Kali ini Arka menatap sepupunya itu, mencerna setiap ucapan Adit. Arka menyesali sikapnya beberapa hari ini. Apakah karenanya Aluna sampai stres.
__ADS_1
"Kau harus lebih menjaganya, karena dia... "
"Dit, kita bicara nanti. Aku akan menemui istriku. " Arka bahkan tidak mendengarkan ucapan sepupunya.
"Ah terserahlah. " Ucap Adit berlalu meninggalkan ruangan Aluna.
"Sayang. " Panggil Arka kepada istrinya yang memang sudah sadar sewaktu sampai dirumah sakit. Aluna hanya tersenyum menatap Arka yang berjalan kearahnya.
"Kenapa kesini? Bukankah sekarang ada rapat penting. " Ucap Aluna menggenggam tangan suaminya yang sangat dingin.
"Aku sudah tidak apa - apa, aku bahkan sudah diijinkan pulang. " Aluna menghapus keringat diwajah suaminya. Aluna tahu laki - laki itu pasti lari dari bassment rumah sakit untuk dapat cepat sampai diruangannya.
" Diijinkan pulang? Apa mereka tidak waras. Kamu pucat dan lemas kayak gini. " Ucapnya mengebu - ngebu.
"Kenapa ngomong kayak gitu, bagus dong aku diijinin pulang biar bisa tidur berpelukan kayak semalam. Kalau disinikan ngga mungkin, ranjangnya kecil. " Aluna mengoda Arka, agar garis kekuatiran diwajahnya sedikit memudar.
***
__ADS_1
Akhirnya Aluna pulang kerumah. Dia diberikan beberapa obat vitamin. Dengan bujukan dan ciuman akhirnya Arka memilih mengalah. Arka yang bersikeras untuk Aluna dirawat, memilih mengikuti keinginan istrinya yang tidak ingin berlama - lama dirumah sakit.
Setelah sampai dirumah, Aluna malah mengusir suaminya untuk kembali ke perusahaan. Lagi - lagi Arka mengalah, perkataan Adit dirumah sakit bahwa Aluna stres membuat Arka mengikuti semua yang diinginkan istrinya.
***
Walaupun selama diperusahaan Arka hanya memikirkan Aluna, namun hari ini pekerjaannya dapat dia selesaikan dengan baik. Meeting juga dapat dilanjutkan, setelah selesai makan siang. Setiap menit Aluna selalu mengabarinya, mengatakan dia baik - baik saja. Sesuai dengan permintaan Arka sebelum dia meninggalkan rumah tadi.
Saat ini Arka sudah sampai dirumah, ia bergegas naik menuju kamarnya bersama Aluna. Namun disaat dia membuka pintu, ruangan kamarnya terlihat gelap.
"Ya Tuhan, Luna... Sayang.. " Panggilnya namun tak ada sahutan terdengar. Sampai tiba - tiba sebuah cahaya menunjukkan gambar dan beberapa video singkat dengan bantuan proyektor muncul didinding kamar mereka. Foto - foto pernikahan mereka merupakan pembuka gambar di slide tersebut. Keduanya tidak tersenyum waktu itu. Karena mereka menikah hanya demi kesehatan ayah Ardian. Foto berikutnya memperlihatkan kampung halaman Aluna, dimana Arka dulu pernah menjemputnya pulang. Foto selanjutnya memperlihatkan foto resepsi pernikahan mereka. Kali ini keduanya tersenyum bahagia karena mereka sudah saling mencintai saat itu. Ada juga video yang menujukkan janji Arka pada Aluna dan sebaliknya.Foto berikut, disaat Arka sedang tidur diambil Aluna secara diam - diam. Arka yang melihat itu hanya tersenyum dan tetap berdiri diambang pintu menunggu hingga selesai. Foto berikut memperlihatkan kebersamaan mereka waktu bulan madu diBali dan dari sekian foto dan video yang dilihatnya, foto terakhir membuat Arka bahkan mengeluarkan airmatanya. Foto tespeck dengan dua garis, disebelahnya gambar seorang pria memeluk seorang bayi. Arka paham semua itu, Aluna sedang mengandung anaknya.
Lampu tiba - tiba menyalah setelah gambar terakhir tadi. Terlihat Aluna tersenyum dan mengangkat sebuah tulisan ditangannya "Selamat karena telah menjadi calon ayah. " Arka langsung mendekatinya dan memeluknya dengan penuh haru. Aluna hanya bisa membalas pelukan suaminya.
" Ini benaran sayang? Kamu hamil. " Ucap Arka melepaskan pelukannya dan kemudian mencium seluruh wajah Aluna dan terakhir mencium perut Aluna. Aluna hanya mengangguk mengiyakan, membenarkan.
Arka sangat bahagia, sudah lama dia mendambakan kehadiran anggota baru dikeluarga kecilnya. Namun selama ini, dia tidak memaksa Aluna untuk mengikuti program kehamilan. Biarlah Tuhan memberi sesuai waktu yang ditentukanNya dan mungkin saat ini waktunya.
__ADS_1