
Bukan Alka yang mengajak Maura pulang pagi itu, tapi Aluna yang duluan datang bersama suaminya menemui Maura di hotel yang memang sudah diberitahu Alka semalam. Maura mengikuti kemauan Aluna karena kelihatannya Aluna dan Arka sangat kuatir padanya. Biar bagaimana pun Maura adalah tanggung jawab mereka.
***
" Semalam kenapa kamu nggak ngabarin aku kalau udah nyampe rumah. " Vio mengaduk jus lemon yang dipesannya. Tadi dia menghubungi Alka, mengajak pria itu ketemuan sambil makan siang bersama.
" Maaf Vi, aku langsung ketiduran. " Alka berbohong.
Menatap Alka lekat, Vio merasa pacarnya itu sudah berubah. "Kenapa sih Al, kamu belakangan ini nggak pernah hubungin atau kirim chat duluan. Selalu saja aku yang telpon atau ngechat kamu duluan. Yang ngajak ketemuan juga aku. " Protes gadis itu.
" Aku sibuk Vi, kerjaan di perusahaan lagi banyak banget. " Untuk soal pekerjaan Alka memang tidak berbohong.
" Kamu kan bisa kasih kabar kalau lagi free atau udah nyampe rumah. " Vio menggenggam tangan Alka yang berada diatas meja. "Kamu udah nggak sayang lagi sama aku Al? Apa kamu mau ingkari janji? " Karena kejadian waktu itu, Alka berjanji akan selalu ada untuk gadis itu dan karena kejadian itu Alka kini terikat padanya dan mulai saat itu Alka tidak pernah menghubungi Maura. karena tidak ingin memberi Maura harapan, harapan yang tidak bisa Alka penuhi nantinya. Itulah sebabnya Alka memilih mengabaikan Maura. Walaupun dia sendiri tidak ingin.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih Vi. Kita makan aja yah, aku udah lapar. " Alka mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Al, kalau kamu ninggalin aku, aku nggak tahu apa ada laki - laki lain yang bisa menerima aku apa adanya." Violin terlihat sedih mengatakan hal itu. Alka jadi tidak tega pada Violin. Semua yang menimpah Violin, hanya karena dirinya. Alka kali ini menggenggam tangan Violin, "Aku nggak akan ninggalin kamu Vi. "
" Benarkah? " Violin merangkul kekasihnya itu. Alka mengangguk mengiyakan.
***
" Apa kalian sudah lama pacaran? " Arka bertanya disela makan malam mereka. Pertanyaan yang ia ajukan kepada Violin, karena Arka menatap gadis itu.
"Kami dekat udah lama om, tapi kami baru meresmikan hubungan kami 6 atau 7 bulan yang lalu. Iyakan Al. " Violin meminta persetujuan Alka pada ucapannya.
"Al... " Violin baru menyadari jika sedari tadi Alka tidak mendengarnya. Alka fokus menatap gadis yang ada didepannya.
__ADS_1
"Iya Vi. " Alka salah tingkah. Kalau saja tidak ada keluarga Alka dimeja itu, Violin pasti sudah memarahi kekasihnya itu.
" Oh yah, sejauh apa hubungan kalian? " Kali ini Maura angkat suara. Maura hanya ingin memastikan saja. Apa Alka benar - benar serius dengan Violin. Jika memang Alka serius menjalin hubungan dengan Violin, untuk kali ini Maura akan benar -benar mengalah. Mungkin dia harus berhenti berharap.
Violin menatap Alka, menggenggam tangannya. " Alka udah janji nggak bahkal ninggalin aku dan secepatnya dia bahkal melamar aku. " Alka memang berjanji untuk tidak meninggalkan Violin. Tapi kalau untuk melamar gadis itu, itu sama sekali belum terlintas dipikirannya.
"Benar itu Abang? " Kali ini Aluna yang angkat suara. Bukan hanya sang bunda yang butuh jawaban putranya, tapi juga Maura.
"Iya Bun. " Karena Alka sudah berjanji untuk tidak meninggalkan Violin. Jadi dia berusaha mengiyakan apa yang dikatakan Violin tadi. Terlihat sekali Maura sangat kecewa padanya. Pasalnya baru semalam Alka menunjukan sikap, kalau dia juga suka dan peduli pada Maura. Tapi sekarang? Dia sendiri yang mematahkan harapan itu. Cukup Maura tidak akan berharap lagi.
***
Alka sudah mengantar Violin pulang. Maura memilih masuk kedalam kamarnya. Meraih ponselnya Maura memesan tiket pesawat untuk jadwal penerbangan pagi. Kali ini dia memilih pulang. Seharusnya dia mendegarkan kata ibunya, seharusnya dia tidak datang ke kota itu.
__ADS_1