
Siang berganti sore dan sore berganti malam. Para pekerja kantoran bersorak senang karena jam kerja mereka telah selesai. Namun berbeda dengan para karyawan dicafe itu mereka masih dengan setia melayani para tamu yang datang dengan lapar dan pergi ketika perut mereka telah terisi. Ada juga yang hanya sekedar santai menikmati waktu berdua dengan pasangan ditempat itu.
Arka begitu gelisah ketika mendengar kabar dari Frans bahwa hari ini Aluna tidak pergi ke cafe. Bahkan Aluna tidak terlihat di kontrakan lamanya. Arka kembali melirik jam tangan yang melingkar ditangannya. Sesekali matanya menatap pintu masuk rumahnya. Berharap gadis yang sudah mengisi hatinya pulang seperti biasa dengan wajah cemberutnya.
Arka sangat senang ketika pintu itu terbuka dan kembali Arka menjadi cemas ketika yang datang bukan Aluna.
"Frans apa kau tahu dimana posisi Aluna sekarang. " Seru Arka dengan wajah kuatirnya.
"Tuan dari GPS yang ada diponsel nona, sepertinya... " Frans tidak meneruskan kata - katanya membuat Arka menggenggam erat kerak baju Frans.
"Katakan Frans dimana posisi Aluna sekarang? " Arka bahkan setengah berteriak.
"Tuan dari posisi GPS yang terpasang diponsel nona, kemungkinan nona jatuh ke jurang." Frans bahkan berkata dengan ragu - ragu.
Arka yang mendengarnya langsung terduduk di sofa ruang tamu. Dia mengingat kata - katanya tadi " Kau bisa menjatuhkan dirimu tapi tolong jangan didepanku. " Arka merutuki kebodohannya. Kenapa dia begitu bodoh sampai bisa mengeluarkan kata - kata seperti itu kepada Aluna.
***
Aluna mulai sadar dari pengaruh obat bius, namun kepalanya masih sedikit pusing. Aluna menggerakan tangannya namun tangannya terikat kebelakang dikursi yang didudukinya. Aluna menatap samar kedua pria yang sepertinya pernah ditemuinya. Namun Aluna tidak mengingat dimana dia pernah bertemu dengan kedua pria yang sudah tertawa renyah dan tawa keduanya membuat Aluna gemetar ketakutan. Bahkan sepertinya tempat itu seperti jauh dari keramaian dan terlihat kotor.
"Siapa kalian? Kenapa kalian menculikku? Apa salahku? " Itulah sederet pertanyaan Aluna kepada kedua pria yang saling menatap dan kembali tertawa mendengar setiap pertanyaan Aluna.
__ADS_1
"Apa kau lupa dengan kami sayang? " Seru salah satu pria yang mengenakan jaket kulit berwarna coklat tua dan menyentuh sisi pipi kanan dan kiri Aluna.
"Apa kau masih bekerja di cafe itu, dimana kami sudah berlutut memohon agar kau menyetujui kerja sama antara Arxian grup dengan perusahaan kami. Tapi karena kau memilih diam waktu itu, maka kami kehilangan segala - galanya. Perusahaan kami bangkrut karena tidak ada satupun perusahaan yang menanamkan modal diperusahan kami. Itu semua gara - gara kau. " Pria itu kemudian menampar Aluna dengan sangat keras sehingga sisi bibirnya terluka dan mulai mengeluarkan darah.
"Kau bisa beruntung waktu itu karena Arka yang menolongmu. Tapi kali ini kita lihat apakah pria itu akan menolongmu atau seperti biasa dia tidak akan perduli dengan seorang wanita yang bahkan bukan siapa - siapanya. " Kedua pria itu bahkan tidak tahu bahwa Aluna sudah menikah dengan Arka.
Kemudian salah satu pria itu mengambil ponselnya dan memotret Aluna dan mengirimnya kenomor sekertaris Frans. Frans membuka pesan masuk yang ada diponsel kerjanya. Matanya membelalak melihat gambar yang diterimanya.
Ragu - ragu Frans menyerahkan ponselnya kepada Arka yang maaih tertunduk.
"Tuan sepertinya nona Aluna masih hidup. " Arka yang mendengarnya langsung mengangkat wajahnya sambil meraih ponsel yang disodorkan Frans padanya. Tangan Arka mengepal melihat gambar yang dikirim pria itu.
Frans berbalik kerumah belakang, Frans bersiul memanggil orang - orang yang selama ini menjaga keamanan dirumah Arka. Setelah itu Frans melajukan mobilnya menyusul Arka yang Frans tahu tengah menuju tempat dimana Aluna disekap. Sedangkan mobil lain mengikutinya dari belakang.
"Sepertinya malam ini, merupakan malam terakhir untukmu nona. " Seru pria yang sementara menajamkan pisaunya membuat Aluna menangis ketakutan.
"Tapi sepertinya kami akan menikmati tubuhmu terlebih dulu. " Pria tadi mendekat dan melepaskan semua kancing kemeja Aluna dengan menggunakan pisau tadi. Aluna semakin takut dan berusaha memohon namun lagi - lagi pria itu hanya tertawa.
"Kau memiliki tubuh yang indah" Ucap pria itu kembali sambil menyingkirkan kemeja Aluna dengan pisau ditangannya.
"Jika saja waktu itu kau bersikap manis dan menurut. Aku pasti akan menjadikanmu selingkuhanku. " Kali ini pisau beralih kewajah Aluna. Aluna hanya bisa menguraikan air matanya.
__ADS_1
"Tuhan jika ini hari terakhirku. Tolong jaga ibuku. " Itulah permintaan terakhir Aluna didalam lubuk hatinya dia hanya memikirkan ibunya. Karena tidak ada yang bakal menolongnya kali ini, pikirnya. Kedua pria tadi mulai mendekati Aluna dan mulai menyentuhnya, namun teriakan seorang pria menghentikan aktivitas keduanya.
"Aluna, Aluna kamu dimana? " Teriak Arka yang sudah mulai masuk kedalam gudang dimana Aluna disekap.
"Siapa yang mengganggu kesenangan kita. " Ucap pria yang satu kepada temannya. Mereka bahkan tidak hafal dengan suara Arka. Sedangkan Aluna, dia sangat hafal dengan suara pria yang semakin mendekat kearahnya.
"Apa dia benar - benar datang menolongku? " Gumam Aluna ditengah tangisannya.
Arka kaget dan kesal melihat pemandangan yang ada didepannya. Aluna masih terikat dikursi dengan tubuh bagian atasnya hanya tersisa pakaian dalamnya. Sedangkan kedua pria itu masih berdiri disisi kanan dan kiri Aluna. Sambil pisau mereka arahkan dileher Aluna.
"Wah lihat siapa yang menolongmu nona? Tuan Arka Arya Wiguna pemilik perusahaan nomor satu dinegara kita. " Kedua pria itu kembali tertawa.
" Apa yang kalian lakukan padanya? Lepaskan dia. Aku akan memberikan apapun yang kalian minta asal kalian melepaskan dia. " Seru Arka dengan suara lantangnya. Namun kembali mereka tertawa.
"Hei tuan, Apa kau ingin memberikan seluruh harta kekayaanmu pada kami. " Seru pria yang berada disisi kiri Aluna.
"Jika itu yang kalian inginkan. " Kedua pria itu bahkan tidak percaya dengan apa yang diucapkan Arka. "Apa hubungan gadis ini dengan tuan Arka, sehingga tuan Arka rela memberikan seluruh hartanya. " Gumam salah satu pria itu kepada temannya namun masih bisa didengar Aluna.
"Baiklah aku akan melepaskan gadis ini tapi kau harus berlutut memohon kebebasannya. " Yang mereka tahu seorang Arka tidak akan pernah berlutut kepada siapapun dan demi apapun. Karena selama ini orang - oranglah yang selalu berlutut memohon padanya.
Arka kemudian berlutut dihadapan kedua pria itu. Aluna memandang Arka sangat dalam. Aluna menggeleng kepalanya berharap Arka tidak mengikuti apa yang diminta pria itu namun demi menyelamatkan Aluna Arka bahkan rela berlutut untuk pertama kali dalam hidupnya.
__ADS_1