Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
BERDEBAR DEBAR


__ADS_3

Setelah esok harinya keadaan Arka sudah lebih baik. Arka membuka pelan matanya dan dia melihat Aluna yang setengah badannya duduk dikursi sedangkan kepalanya dia sandarkan diranjang rumah sakit yang ditempati Arka saat ini. Gadis itu tengah tertidur. Sementara Frans dengan kedua pengawal Arka masih berjaga didepan ruangan tuannya.


Arka mencabut pelan selang infus yang masih terpasang ditangannya. Arka turun dari sisi ranjang satunya dan berjalan kearah sisi ranjang yang ditempati Aluna.


Arka kemudian mengangkat Aluna dan menidurkannya diranjang tadi yang dia tempati. Aluna sepertinya kelelahan makanya dia tidur sangat lelap. Aluna bahkan tidak menyadari jika Arka telah memindahkannya. Arka kemudian duduk ditempat Aluna tadi. Arka membelai lembut rambut panjang Aluna. Mendaratkan satu kecupan dikening Aluna sebagai tanda terima kasihnya karena Aluna tidak lagi membencinya.


Pagi itu Adit masuk keruangan Arka. Arka langsung mengangkat satu jarinya menaruhnya dibibir, agar Adit tidak berisik.


"Apa kau sudah baik - baik saja? " Tanya Adit bingung melihat Aluna yang tidur diranjang pasien, sedangkan pasiennya sudah duduk dikursi dengan melipat kedua tangannya didada.


"Aku baik - baik saja sekarang. Kadang untuk menyembuhkan seseorang bukan hanya diperlukan dokter atau obat - obatan melainkan rasa diinginkan sembuh oleh orang lain dan kita sendirilah yang memilih untuk sembuh. " Ucap Arka panjang lebar. Adit hanya menepuk pundak sepupunya itu sambil mengangkat jari jempolnya, mengiyakan apa yang dikatakan Arka.


"Apa om Ardian tahu kau sakit? " Tanya Adit karena tidak dilihatnyaArdian dari semenjak Arka dibawa kerumah sakit. Padahal jika mengetahui Arka luka sedikit saja, Ardian langsung datang dengan wajah paniknya.


"Aku sengaja tidak memberitahu ayah dan kuharap kau juga tidak akan memberitahu ayah. " Arka berbicara pelan namun Aluna mulai membuka matanya.


"Hei kenapa sudah bangun? " Tanya Arka sontak membuat Aluna kaget karena saat ini dia tengah tidur diranjang Arka. Seingatnya semalam dia masih duduk dikursi yang diduduki Arka saat ini.


"Maaf aku ketiduran. Apa kamu baik - baik saja sekarang? " Tanya Aluna yang mulai duduk diranjang mengikat rambutnya.

__ADS_1


"Aku baik - baik saja sekarang. Tidurlah jika kau masih mengantuk " Arka melihat Aluna yang masih terlihat mengantuk. Sedangkan Adit memilih keluar karena tidak ingin melihat pasangan suami istri itu.


" Apa kau ingin makan sesuatu? " Tanya Aluna. Yang mulai beranjak kesisi lainnya.


"Aku tidak butuh apapun. Pulanglah aku akan meminta Frans mengantarmu. " Arka mulai berjalan kearah pintu ruangannya.


"Apa kau lupa yang aku katakan semalam? Aku akan pulang jika kau juga pulang. " Setelah Aluna mengatakan hal itu Arka menghentikan langkahnya.


"Kau bahkan lupa syarat apa yang aku berikan padamu semalam. " Gumam Arka dalam hati. "Kau bahkan terlihat menjaga jarak denganku. "


Arka tetap berjalan tidak memperdulikan apa yang dikatakan Aluna. Arka mulai membuka handle pintu. Namun tangannya terhenti ketika Aluna berbicara padanya


"Coba saja jika kau ingin pergi dan membenciku. " Arka meraih wajah Aluna dan mencium bibir Aluna. Aluna tidak bereaksi namun juga tidak menolak. Arka menghentikan ciumannya karena dia tidak ingin Aluna mendengar detak jantungnya yang berdetak sangat cepat.


"Apa kau baik - baik saja? Jantungmu berdetak sangat cepat. Tunggu disini aku akan memanggilkan dokter Adit. " Aluna berlari dengan cemas. Arka ingin menahannya namun Aluna keburu pergi.


"Bodoh. " Gumam Arka


Adit datang dengan setengah berlari. Arka sudah duduk sambil sandaran diranjangnya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Bukankah tadi kau sudah baik - baik saja? " Adit kembali memeriksa Arka. Aluna menunggu dengan cemas.


"Kata kakak ipar jantungmu berdebar sangat cepat" Tambah Adit yang masih tidak menyadari apa yang terjadi dengan Arka.


"Tanyakan padanya mengapa jantungku sampai berdebar - debar dan rasanya ingin keluar. " Jawab Arka semakin membuat Aluna cemas.


"Ada apa dengannya kakak ipar? " Tanya Adit kepada Aluna yang mulai menghampiri ranjang Arka.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. " Jawab Aluna melihat kearah Arka yang menahan senyumnya.


"Kakak ipar, bukankah tadi aku meninggalkan kalian hanya berdua diruangan ini? Jadi tidak mungkin kakak ipar tidak tahu apa yang memicu jantung Arka berdebar sangat cepat. Memang dari tadi dia lari diruangan ini?" Tambah Adit menunggu penjelasan Aluna.


"Tadi dia hanya menciumku dan tiba - tiba jantungnya jadi begitu. " Ucap Aluna mulai menghapus air mata yang jatuh dipipinya karena merasa bersalah. Adit yang mendengarnya berusaha menahan kekesalannya karena dia kini mengerti apa yang terjadi.


"Aku bisa gila." Seru Adit mengacak acak rambutnya. Dia bahkan berlari dari ruangannya dan membentur pintu ruangannya setelah Aluna mengatakan apa yang menimpa Arka.


"Apa dia sebodoh itu? Apa kakak ipar tidak tahu apa yang menjadi pemicu jantung Arka berdebar debar. Arka itu sedang jatuh cinta padamu bodoh. " Ingin sekali Adit mengatakan hal itu pada kakak iparnya. Namun karena melihat kecemasan diwajah Aluna membuat Adit tidak tega kepada Aluna.


"Kakak ipar tenang saja, Arka sekarang baik baik saja. Jika kakak ipar tidak ingin jantung Arka berdebar debar lagi maka sebaiknya kakak ipar jangan terlalu dekat dengannya. " Ucap Adit dengan tersenyum licik kearah Arka dan mendapat tatapan kesal oleh Arka.

__ADS_1


"Ok kakak ipar aku permisi dulu. Karena ada pasien dengan penyakit jantung akut untuk segera dioperasi dan jika kakak ipar menemui gejala yang sama pada Arka, Kakak ipar tinggal mandikan dia dengan air es. " Ucap Adit sambil berlari keluar, ketika melihat Arka menatapnya seperti ingin memangsanya.


__ADS_2